BAB
IV
HASIL
DAN PEMBAHASAN
4.1 Fisiologi Darah
Darah berasal dari kata “haima”,bahasa yunani yang berasal dari akar
kata hemo atau hemato. Merupakan suatu cairan yang berada di dalam tubuh yang
mengalir dalam arteri, kapiler dan vena; yang mengirimkan oksigen dan zat-zat
gizi ke jaringan dan membawa karbon dioksida dan hasil limbah lainnya.
Darah adalah cairan yang terdapat pada semua makhluk
hidup (kecuali tumbuhan) tingkat tinggi yang berfungsi mengirimkan zat-zat dan
oksigen yang dibutuhkan oleh jaringan tubuh,
mengangkut bahan-bahan kimia hasil metabolisme, dan juga
sebagai pertahanan tubuh terhadap virus atau bakteri.. Darah
memiliki warna merah yang berasal dari kandungan oksigen dan karbon dioksida di
dalamnya. Adanya oksigen dalam darah diambil dengan jalan bernafas, dan zat ini
sangat berguna pada peristiwa pembakaran/metabolisme di dalam tubuh.temperature
38°C, dan pH 7,37-7,45.
Darah
manusia adalah
cairan jaringan tubuh. Fungsi utamanya adalah mengangkut oksigen yang
diperlukan oleh sel-sel di seluruh tubuh. Darah juga menyuplai jaringan tubuh
dengan nutrisi, mengangkut zat-zat sisa metabolisme, dan mengandung berbagai
bahan penyusun sistem imun yang
bertujuan mempertahankan tubuh dari berbagai penyakit. Hormon-hormon dari sistem endokrin juga diedarkan melalui darah.
Darah berperanan penting dalam sistem sirkulasi.
Sistem sirkulasi merupakan sistem transport yang mensuplai zat-zat yang
diabsorpsi dari saluran pencernaan dan oksigen ke jaringan, mengembalikan karbondioksida
ke paru-paru dan produk metabolisme lainnya ke ginjal, berfungsi dalam
pengaturan temperature tubuh dan mendistribusikan hormon-hormon dan zat-zat
lain yang mengatur fungsi sel.
Darah terdiri atas unsur seluler dan
plasma. Unsur seluler terdiri atas: erythrocyte (RBC/SDM), leucocyte (WBC/SDP),
trombocyte (platelets) dan kadang-kadang ada sel-sel campuran dari sistem
reticuloendotelia. Plasma merupakan fraksi ekstraseluler terdiri atas: air,
protein, elektrolit, glukosa, enzim-enzim dan hormon.Pada orang dewasa,
erythrocyte, leucocyte dan trombosit dibentuk dalam sumsum tulang. Pada fetus,
sel-sel darah juga dibentuk di dalam hati dan limpa.
Darah merupakan cairan tubuh yang
bersirkulasi dan hampir semua organ menerima suplaidarah.Fungsi darah antara
lain sebagai berikut:Berperanan dalam respirasi (transport oksigen dan
karbondioksida),Transport bahan makanan, terutama absorbed food,Eksresi (kidney,
lungs, skin dan intestine),Pengaturan suhu tubuh (melalui oksidasi C,H,O dan
Lemak),Menjaga keseimbangan asam-basa (buffering capacity),Regulasi
keseimbangan air,Pertahananan tubuh, Transport hormon,Penggumpalan darah (aksi
thrombocytes),Transport bahan-bahan metabolit (supply of chemical).
Volume darah bervariasi tergantung
pada umur, ukuran fisik, aktivitas fisik, kesehatan, makanan, status reproduksi
(laktasi, bunting) dan faktor-faktor lingkungan. Pengaturan volume darah secara
kontinyu diatur oleh:Water intake dan water loss,Konsentrasi ion Na,Keseimbangan
antara volume plasma dan cairan dalam ruang jaringan,Perubahan dari masa sel
merah yang disebabkan oleh aksi hormon erythropotin dalam sumsum tulang.Volume
darah dari beberapa hewan dan persentase terhadap berat badan.Sifat Darah
diantaranya: BD berkisar 1,046-1,052,tekanan osmotik: 28 mmHg,viskositas 1,7
pada suhu 37ºC,pH 7-7,8.
Antikoagulan pada pemeriksaan darah
antara lain:
1. EDTA (Ethylene
Diamine Tetra Acetic Acid)
Yang dipakai disini adalah garam kalium dan
natriumnya, tetapi yang sering digunakan adalah garam kaliumnya (dipotassium
EDTA) karena daya larutnya dalam air kira-kira 15 kali lebih besar daripada
garam natriumnya. Cara kerjanya dengan garam kaliumnya (K2EDTA) yaitu dapat
mengubah ion Calcium dari darah menjadi bentuk yang bukan ion membentuk senyawa
kompleks yang larut berdasarkan pembentukan ikatan Chelate senyawa. Namun jenis
Na2EDTA (Di-Natrium Ethylene Diamine Tetra Acetate dihydrate = Na2C10H13O8N2.2H2O)
lebih murah dibandingkan K2EDTA ataupun K3EDTA. Antikoagulan K3EDTA kurang baik
dalam penggunaanya karena memiliki pH lebih alkali sehingga berpengaruh
terhadap pH darah. Sebaliknya Na2 NaEDTA juga kurang baik karena lambat larut
sehingga perlu pengocokan beberapa kali. 2EDTA dan K2EDTA biasanya digunakan
dalam bentuk kering, sedangkan K3EDTA biasanya digunakan dalam bentuk cair. Dari
ketiga jenis EDTA tersebut.Keuntungan EDTA :adalah yang paling baik dan
dianjurkan oleh ICSH (International Council for Standardization in Hematology)
dan CLSI (Clinical and Laboratory Standards Institute). Tabung EDTA tersedia
dalam bentuk tabung hampa udara (vacutainer tube) dengan tutup lavender
(purple) atau pink seperti yang diproduksi oleh Becton Dickinson.Tidak berpengaruh
terhadap besar dan bentuknya erithrosit dan leukosit,mencegah thrombosit
menggumpal,dapat digunakan berbagai macam pemeriksaan hematologi.Kerugian
:Lambat larut karena sering digunakan dalam bentuk kering sehingga harus
menggoncang wadah yang berisi darah EDTA selama 1-2 menit.
2. Trisodium Citrate
Antikoagulan
Natrium Sitrat (Na3C6H5O7.2H2O) sering digunakan dalam bentuk larutan dengan
konsentrasi 3,8% dan 3,2%. Cara kerjanya sebagai bahan yang isotonik dengan
darah dan mencegah pembekuan darah dengan cara mengikat ion Ca++ melalui gugus
karboksilat dari senyawa ini membentuk ikatan kompleks khelasi larut. Sering
digunakan beberapa macam pemeriksaan percobaan hemostasis dan LED metode
Westergren. Pemeriksaan LED metode Westergren digunakan perbandingan 1 bagian
Natrium Sitrat 3,8% dan 4 bagian darah. Untuk percobaan hemostasis menggunakan
konsentrasi 3,2% dengan perbandingan 1 bagian Natrium Sitrat 3,2% : 9 bagian
darah sesuai dengan NICCLS. Antikoagulan Natrium Sitrat 3,8% dan 3,2% tidak
bisa lagi digunakan bila mengalami kekeruhan.Keuntungan :Antikoagulan ini
karena tidak toksis maka sering digunakan dalam unit transfusi darah dalam
bentuk ACD (Acid Citric Dextrose).Kerugian: Pemakaiannya terbatas dalam
pemeriksaan hematologi.
3. Heparin
Antikoagulan
ini merupakan asam mukopolisacharida yang bekerja dengan cara menghentikan
pembentukan trombin dari prothrombin sehingga menghentikan pembentukan fibrin
dari fibrinogen sehingga cara kerjanya berdaya seperti antitombin dan
antitromboplastin. Heparin merupakan antikoagulan yang normal terdapat dalam
tubuh tetapi dalam di laboratorium jarang dipakai pada pemeriksaan hematologi
karena mahal. Untuk tiap 0,1 dan0,2 mg heparin dapat
mencegah pembekuan 1 ml darah. Sering digunakan dalam penentuan PCV cara mikrokapiler
yang bagian dalamnya dilapisi dengan heparin. Ada tiga macam heparin: ammonium
heparin, lithium heparin dan sodium heparin. Dari ketiga macam heparin
tersebut, lithium heparin paling banyak digunakan sebagai antikoagulan karena
tidak mengganggu analisa beberapa macam ion elektrolit dalam darah.Kerugian :tidak
boleh digunakan dalam pemeriksaan hapusan darah karena dapat terjadinya dasar
biru kehitam-hitaman pada preparat bila dicat dengan wright stain
harganya mahal.
4. Double Oxalat
Nama
lainnya adalah anticoagulant dari Heller and Paul atau Balanced Oxalate
Mixture. Dipakai dalam bentuk kering agar tidak mengencerkan darah yang
diperiksa. Kalium oxalat menyebabkan erythrosit mengkerut sedangkan amonium
oxalat menyebabkan erytrosit mengembang, campuran keduanya dengan perbandingan
3 : 2 maka terjadi keseimbangan tekanan osmotik eryhtrosit. Setiap 2 mg
antikoagulant ini dapat mencegah pembekuan 1 ml darah.Keuntungan dapat
digunakan dalam berbagai pemeriksaan hematologi.Kerugian :tidak dapat digunakan
dalam pemeriksaan hapusan darah karena bahan ini toksis sehingga dapat
menyebabkan perubahan-perubahan morfologi sel leukosit dan eryhtrosit.tidak
boleh digunakan juga pada pemeriksaan osmotik fargility.
5. Natrium Oxalat
Natrium
oksalat bekerja dengan cara mengikat kalsium membentuk kalsium oxalat.
Penggunaannya 1 bagian oksalat + 9 bagian darah. Biasanya digunakan untuk
pembuatan adsorb plasma dalam pemeriksaan hemostasis Antikoagulan jenis ini
sudah jarang digunakan karena selain tidak luas pemakaian, juga menyebabkan
perubahan morfologi pada sel darah bila terlalu lama dibiarkan. Antikoagulan
ini memiliki kemiripan sifat dengan double oxalate Dalam kondisi darurat dapat
digunakan sebagai antikoagulan.
6. NaF dan Kalium
Oxalat
Antikoagulan
ini sebenarnya dikhususkan untuk pemeriksaan glukosa darah, namun masih dapat
digunakan untuk pemeriksaan hematologi. Antikoagulan ini biasanya tersedia
dalam tabung vakum yang diproduksi pabrikan. Kalium oksalat berfungsi sebagai
antikoagulan dan NaF berfungsi sebagai antiglikolisis dengan cara menghambat
kerja enzim Phosphoenol pyruvate dan urease sehingga kadar glukosa darah
stabil.
4.1.1
Preparat Natif Darah
Darah
adalah jaringan cair yang terdiri atas dua bagian yaitu plasma darah dan sel darah. Sel darah terdiri dari tiga jenis
yaitu trombosit, leukosit, dan eritrosit (Evelyn, 2006). Darah merupakan
jaringan tubuh yang terdiri dari bagian cair (plasma) dan bahan-bahan
interseluler. Plasma darah dan sel-sel darah dapat terpisah dan bebas bergerak
dalam cairan interseluler. Cairan ekstrasel dalam darah mensuplay sel-sel
dengan nutrisi dan zat-zat lain yang diperlukan untuk fungsi selular, tetapi
sebelum digunakan zat ini harus ditransfort melalui membrane sel dengan dua
proses utama yaitu difusi dan osmosis serta transfor aktif. Dinding sel
eritrosit sangat permeable terhadap sifat apapun. Darah mempunyai beberapa
fungsi yang penting untuk tubuh. Darah mengangkut zat-zat makanan dari alat
pencernaan ke jaringan tubuh, hasil limbah metabolisme dari jaringan tubuh ke ginjal,
dan hormon dari kelenjar endokrin ke target organ tubuh (Sonjaya, 2005).
Darah merupakan cairan dengan volume
yang berbeda-beda tergantung pada jenis kelamin, ukuran tubuh, dan umur setiap
orang atau individu. Jumlah darah dalam tubuh bervariasi tergantung pada berat
tubuh seseorang. Pada orang dewasa 1/13 berat badan kira-kira 4-5 liternya
adalah darah. Faktor lain yang juga menentukan banyaknya darah adalah umur,
pekerjaan, keadaan jantung dan pembuluh darah. Total sirkulasi dari volume
darah diperkirakan sekitar 5 s/d 8% dari total bobot badan dan angka ini
bervariasi menurut umur, spesies, besar tubuh, aktivitas, status kesehatan,
status gizi dan kondisi fisiologi (bunting dan laktasi).(Syarifuddin, 2002).
Darah adalah cairan yang terdapat pada
semua hewan tingkat tinggi yang berfungsi mengirimkan zat-zat oksigen yang
dibutuhkan oleh jaringan tubuh, mengangkut bahan-bahan metabolisme dan juga
sebagai pertahanan tubuh terhadap virus atau bakteri. Darah di dalam pembuluh
darah, cairan interstitial disekitar sel, dan cairan limfe di dalam pembuluh
limfe menyusun lingkungan dalam dari makhluk hidup. Darah juga berpartisipasi
dalam pengaturan kondisi asam-basa, keseimbangan elektrolit dan temperature
tubuh, dan sebagai pertahanan suatu organisma terhadap penyakit. Semuanya
adalah fungsi yang berhubungan dengan pemeliharaan lingkungan internal yang
konstan (Siregar, 2000).
Pada preparat natif,biasanya terlihat
bentuk(formasi) eritrosit yang saling berlekatan membentuk deretan seperti uang
logam yang di dertekan.Formasi seperti ini disebut roleaux.Selain itu,juga
terlihat adannya mikroorganisme di dalam darah,misalnya larva cacing
Dirofilaria imitis(pada anjing),parasit darah seperti
trypanosoma,babesia,theileiria,malaria dan lain-lain apabila diantara sel darah
apabila di infeksi.
|
|
Gambar 1.Sel darah merah unggas
|
|
Gambar 2.Sel darah mamalia
|
|
Gambar 3.Eritrosit yang krenasi
|
|
Gambar 4.Bentuk Roleaux
Adapun bentuk sel darah merah pada
sapi yaitu berbentuk bulat kecil dan halus serta menyebar di seluruh objek
glass.Bentuk sel darah merah sapi tampak seperti gelembung-gelembung yang
tersusun rapat yang tidah berinti.Untuk sel darah merah kambing terlihat
bulat-bulatan yang menyebardi cover glass sedangkan trombosit dan granulositnya
bentuknya tidak beraturan dan tidak berinti.Sedangkan untuk sel darah merah
ayam tampak jelas trombosit,granulosit dan eritrosit nya dan membentuk roleaux
membentuk deretan logam.
Sel
darah merah (eritrosit) mamalia mempunyai bentuk cakram, bikonkaf, sirkular dan
tidak berinti. Sel darah unggas berbrntuk lonjong (oval) dan berinti. Pada
preparat natif darah, biasanya terlihat bentuk (formasi) eritrosit yang saling
berlekatan membentuk deretan seperti uang logam yang dideretkan. Formasi ii
disebut rouleaux. Selainj itu juga terlihat/ ditemukan adanya mikroorganisme di
dalam darah diantara sel-sel darah apabila terinfeksi.
Dari
hasil pengamatan terlihat adanya komponen- komponen darah yang terdiri atas
eritrosit, leukosit, dan trombosit yang tersebar dalam plasma darah. Hal ini sesuai dengan pendapat Sonjaya
(2013), bahwa komponen selluler dari darah termasuk sel darah merah
(eritrosit), sel darah putih (leukosit), dan keping-keping darah (trombosit).
Hal ini juga sesuai dengan pendapat Frandson (2001), yang menyatakan bahwa
elemen-elemen darah yang memiliki bentuk meliputi sel-sel darah merah
(eritrosit), sel-sel darah putih (leukosit), dan keping-keping darah
(platelet).Sel darah putih terlihat sangat berbeda dengan sel darah merah ini
disebabkan karena sel darah putih memiliki inti sel. Hal ini sesuai dengan pendapat Sonjaya
(2013), bahwa perbedaan leukosit dan eritrosit adalah leukosit selalu mempunyai
inti sel dan sitoplasma serta mampu bergerak bebas.Keping-keping darah (trombosit)
merupakan sel darah yang paling kecil dari kedua sel darah yang lain letaknya
tidak teratur atau tersebar. Hal ini
sesuai dengan pendapat Sonjaya (2013), bahwa trombosit merupakan fragmen sel
yang berdiameter 2-4µ, dibentuk dalam sumsum tulang dan limpa dan mempunyai
masa hidup 8-10 hari.
4.1.2
Waktu Perdarahan
Penentuan
waktu perdarahan terutama untuk menilai faktor-faktor homeotasis yang letaknya
ekstravaskuler tetapi keadaan dinding kapiler dan jumlah trombosit juga
berpengaruh.Waktu perdarahan normal sekitar 1-6 menit.Apabila perdarahan terus
berlanjut lebih dari 10 menit menunjukkan adanya kelainan dalam mekanisme
homeostasis.Hal ini sejalan dengan pendapat Guyton,(2000) yang menyatakan bahwa
pendarahan yang normal adalah 1-6 menit,dan waktu penjedalan darah 5-8
menit.waktu pendarahan dapat diartikan sebagai waktu yang diperlukan dari darah
keluar sampai berhenti.sedangkan sewaktu penjedalan darah adalah waktu yang
diperlukan dari darah keluar sampai terjadinya benang-benang fibrin pada
tetesan darah,apabila darah keluar dengan waktu yang tidak normal maka darah
tersebut rusak atau mengalami kelainan (tercampur bahan lain). Waktu perdarahan
dapat diartikan sebagai waktu yang diperlukan dari darah keluar sampai
berhenti. Pada percobaan waktu perdarahan praktikan yang diamati yaitu abednego
berusia 18 tahun dan dalam kondisi sehat setelah jari abed ditusuk menggunakan
lanset steril dari awal mulai darah keluar pada luka hingga darah berhenti
keluar yaitu 30 detik. Pada hasil kelompok B4 didapat hasil waktu perdarahan
yaitu selama 34 detik dan hasil kelompok B3 lama waktu perdarahan yaitu 18
detik.
Tabel 1.Waktu
Perdarahan
|
No
|
Kelompok
|
Nama
|
Waktu Perdarahan
|
Waktu Pembekuan
|
|
1
|
7
|
Mualip
Sri Wahyuni
|
13 detik
15 detik
|
20 detik
22detik
|
|
2
|
8
|
Frengky
Merry
|
21 detik
16 detik
|
18 detik
1.29 menit
|
|
3
|
9
|
Riski
Firda
|
1 menit 25 detik
1 menit 28 detik
|
1
menit 10 detik
32 detik
|
|
4
|
10
|
Fadhol
Suhartini
|
23 detik
19 detik
|
20 dtik
1.41 menit
|
|
5
|
11
|
Anugra
Fitria
|
1.25 menit
1.30 menit
|
1.15 menit
2.10 menit
|
Dari tabel tersebut dapat di ketahui
bahwa waktuperdarahan setipa orang berbeda.Hal ini dikarenakan mulai timbul
sampai berhentinya darah adalah berbeda.Hal ini dapat disebabkan beberapa hal
misalnya faktor usia,jenis kelamin,stress suhu badan dan status
kesehatannya.Misalnya jika status kesehatan seseorang baik maka waktu darah
untuk berhenti akan cepat artinya antikoagulan pada darahnya masih berfungsi
dengan baik.Dan apabila darah sukar membeku artinya ada gangguan pada sistem
homeostasis orang tersebut.
4.1.3 Waktu Beku Darah
Waktu
beku darah biasa disebut dengan waktu koagulasi darah. Waktu antara darah masuk
sampai terjadi penggumpalan adalah waktu koagulasi rata-rata 4 – 5 menit
(Wibowo, Pada darah manusia terjadi pembekuan (terbentuk benang putih) karena
darah tidak dibri antikoagulan. Sedangkan darah sapi, kambing , dan ayam tidak
terjadi pembekuan karena darah – darah tersebut diberi antikoagulan.
Koagulasi
atau pembekuan darah merupakan salah satu faktor penting dalam menghentikan
suatu pendarahan.Didalam tubuh terdapat 2 mekanisme pembekuan darah yaitu secara
intrinsik dan ekstrinsik.Mekanisme intrinsik artinya berupa serangkaian
enzimatik yang diawali apabila darah bersentuhan dengan permukaaan asing.Semua
permukaan selain lapisan endotel pada dinding pembuluh darah adalah “asing”
terhadap protein koagulasi dan sel-sel darah merah.Jadi kerusakan pada dinding
pembuluh darah atau terkena udara dapat merangsang proses pembekuan.Sekali
proses pembekuan dimulai,serangkaian reaksi yang terjadi dan mencapai puncaknya dengan terbentuknya
thrombin dan benabg-benang fibrin.
Mekanisme
ekstrinsik merupakan serangkaian reaksi yang terjadi apabila kerusakan pembuluh
darah cukup parah,sehingga jaringan sekitar terkena dan berakibat pada
keluarnya cairan dan jaringan yang
mengandung lipoprotein yang khas yaitu thromboplastin jaringan yang
mengaktivasi faktor X secara langsung,melangkahi tahap-tahap awal dari
mekanisme intrinsik dan memproduksi pembentukan fibrin lebih cepat dai
mekanisme intrinsik.
4.1.4 Laju Endap Darah
(LED)
Laju
endap darah merupakan suatu pemeriksaan darah yang dapat membantu penentuan
status kesehatan seekor hewan.LED ditentukan dengan mengukur jarak dalam mm
yang di tempuh dalam satu satuan waktu tertentu oleh lapisan teratas yang
berada di dalam tabung-tabung standar yang ditempatkan dalam posisi vertikal.Kecepatan
pengendapan adarah setipap spesies hewan sangat bervariasi.LED dapat
dipengaruhi oleh beberapa faktor antra lain perubahan komposisi olasma darah
(kekentalan/viskositas plasma),jumlah sel darah merah dan tegangan permukaan.
Hal ini sejalan dengan pendapat Sacher. RA Barbara , (2004), Laju endap darah
(LED) adalah sebuah pengukuran seberapa cepat sel-sel darah merah jatuh ke
dasar sebuah tabung uji. Ketika pembengkakan dan peradangan hadir, protein
darah mengumpul dan menjadi lebih berat dari biasanya. Jadi, ketika diukur,
mereka mengendap dan berkumpul lebih cepat di bagian bawah dari tabung uji.
Umumnya, semakin cepat sel-sel darah turun, lebih parah peradangan. LED adalah
gambaran komposisi plasma dan perbandingan antara eritrosit dan plasma. Darah
dengan antikoagulan yang dimakksudkan ke dalam tabung bervolume kecil dan
diletakan tegak lurus selama 1 jam akan menunjukkan pengendapan eritrosit
dengan kecepatan yang ditentukan oleh rasio permukaan perbandigan volume
eritrosit.
Biasanya
LED meningkat pada keadaan infeksi biasa yang akut,tumor yang ganas,kondisi
radang,hypothyroidisme,kehamilan,hypercholesterolemia,dan anemia.Laju endap
darah lebih rendah dari sampel darah yang lam 1-2 jam dan yang baru di kelu
Pada praktikum ini menggunakan metode Wastergreen. (Riswanto, 2009) Metode yang
digunakan untuk pemeriksaan LED ada dua, yaitu metode Wintrobe dan Westergreen.
Hasil pemeriksaan LED dengan menggunakan kedua metode tersebut sebenarnya tidak
seberapa selisihnya jika nilai LED masih dalam batas normal. Tetapi jika nilai
LED meningkat, maka hasil pemeriksaan dengan metode Wintrobe kurang
menyakinkan. Dengan metode Westergreen bisa didapat nilai yang lebih tinggi,
hal itu disebabkan panjang pipet Westergreen yang dua kali panjang pipet Wintrobe.
dikeluarkan dari lemari pendingin. Darah normal mempunyai LED relatif kecil
karena pengendapan eritrosit akibat tarikan gravitasi di imbagi oleh tekanan
keatas akibat perpindahan. Bila viskositas plasma tinggi atau kadar kolesterol
meningkat tekanan keatas mungkin dapat menetralisasi tarikan kebawa terhadap
setiap sel atau gumpalan sel. Sebaliknya setiap keadaan yang meningkatkan
penggumpalan atau perletakan satu dengan yang lain akan meningkatkan LED
Penentuan nilai LED secara umum telah digunakan dalam pengobatan klinik,
menegakkan diagnosis, mengetahui penyakit secara dini dan memantau perjalanan
penyakit seperti tuberkolosa dan reumati. Peningkatan kecepata pengendapan
berhubungan langsung dengan beratnya penyakit.
Riswanto,(
2009) Metode yang digunakan untuk pemeriksaan LED ada dua, yaitu metode
Wintrobe dan Westergreen. Hasil pemeriksaan LED dengan menggunakan kedua metode
tersebut sebenarnya tidak seberapa selisihnya jika nilai LED masih dalam batas
normal. Tetapi jika nilai LED meningkat, maka hasil pemeriksaan dengan metode
Wintrobe kurang menyakinkan. Dengan metode Westergreen bisa didapat nilai yang
lebih tinggi, hal itu disebabkan panjang pipet Westergreen yang dua kali
panjang pipet Wintrobe. Kenyataan inilah yang menyebabkan para klinisi lebih
menyukai metode Westergreen daribada metode Wintrobe. Selain itu, International
Commitee for Standardization in Hematology (ICSH) merekomendasikan untuk
menggunakan metode Westergreen.Tambayong J, (2000) LED adalah kecepatan
eritrosit mengendap dalam pipet westergren. Pada peradangan, kecepatan
meningkat, karena perubahan pada komponen plasma yang terjadi selama proses
inflamasi. Protein plasma yang terlibat dalam peningkatan LED disebut protein
fase akut, terutama dilepaskan oleh hati. LED khususnya digunakan untuk
membantu aktivitas berbagai penyakit inflamasi.Widodo, (2004) Laju endap darah
yang ditemukan pertama kali oleh Westergren pada tahun 1921. LED merupakan
pemerikksaan yang menggambarkan komposisi plasma dan perbandingan antara
eritrosit dengan plasma.
Widodo, dkk, (2004) Prinsip dasar pemeriksaan LED
adalah; darah dan antikoagulan dimasukkan ke dalam tabung dengan lubang ukuran
tertentu (pada pipet LED) dan diletakan vertikal akan menyebabkan pengendapan
eritrosit dengan kecepatan tertentu. LED merupakan kecepatan pengendapan
dengan mengukur jarak antara miniscus
pemeriksaan LED. Beberapa faktor yang
mempengaruhi LED, yang dapat meningkatkan LED adalah usia tua, wanita, saat
mensturasi, kehamilan, ukuran eritrosit (macrositosis), faktor teknis (masalah
pengenceran, suhu ruangan/panas, kemiringan tabung LED) , peningkatan
fibrinogen (pada beberapa kasus infeksi, inflamasi, dan keganasan). Faktor yang
dapat menurunkan LED adalah lekositosis berat, polisitemia, speherositosis
(acantositosis, micrositpsis ), faktor teknis (masala pengenceran, darah beku,
tabung penden, getaran), abnormalitas protein (hipofibrinogenemia,
hipogammaglobulinnemia, dispoteinemia). Faktor yang belum pasti mempengaruhi
LED adalah obesitas, suhu badan, dan usai mengkomsumsi aspirin.
Gambar
5.Tabung Wastergreen dan raknya
|
|
Grafik
1.LED Darah Ayam
Pada
darah ayam,laju endap darah yang terbentuk yaitu semakin lama maka laju endap
darah nya makin menurun.
Grafik 2. LED Darah Kambing
Pada menit ke 30,darah berhenti pada
batas 10.Setelah lebih dari 30 menit,darah tidak lagi melaju dikarenakan
kurangnya antikoagulan dalam darah sehingga darah membeku dan tidak dapat
turun.
Gratik
3.LED Darah Sapi
Pada
darah sapi,sama halnya dengan darah kambing.Dimenit ke 30 darah membeku karena
kurangnya antikoagulan dan darah tidak dapat melaju.
4.1.5 Hemolisis dan
Ketahanan Osmotik Eritroosit
Hemolisis
adalah pecahnya atau rusaknya membran eritrosit sehingga hemoglobin keluar dari
sel darah dan bebas di dalam medium disekelilingnya.Kerusakan membran sel darah
dapat disebabkan oleh larutan yang hipotonis ditambahkan kedalam darah maka air
atau laritan hipotonis tersebut akan masuk kedalam sel darah melalui membran
semipermeabel,sehingga sel darah akan membengkak yang berakibat membran sel
meregang dan akhirnya terjadi kerobekan membran dan hemoglobin keluar dari
sel.Selain itu,hemolisis juga disebabkan oleh penurunan tegangan permukaan
membran sel misalnya saponin,sabun,garam-garam,empedu,pemanasan diatas suhu 600,pengocokan,bergantian
antara dibekukan dan dicairkan.
Hemolisis adalah pecahnya atau rusaknya membran eritrosit sehingga
hemoglobin keluar dari sel darah dan bebas dalam medium sekelilingnya.
Hemolisis
adalah pecahnya membran eritrosit, sehingga hemoglobin bebas kedalam medium
sekelilingnya (plasma).Kerusakan membran eritrosit dapat disebabkan oleh antara
lain penambahan larutan hipotonis, hipertonis kedalam darah, penurunan tekanan
permukaan membran eritrosit, zat/unsur kimia tertentu, pemanasan dan
pendinginan, rapuh karena ketuaan dalam sirkulasi darah dll.Apabila medium di
sekitar eritrosit menjadi hipotonis (karena penambahan larutan NaCl hipotonis)
medium tersebut (plasma dan lrt. NaCl) akan masuk ke dalam eritrosit melalui
membran yang bersifat semipermiabel dan menyebabkan sel eritrosit menggembung.
Bila membran tidak kuat lagi menahan tekanan yang ada di dalam sel eritrosit
itu sendiri, maka sel akan pecah, akibatnya hemoglobin akan bebas ke dalam
medium sekelilingnya. Sebaliknya bila eritrosi berada pada medium yang hipertonis,
maka cairan eritrosit akan keluar menuju ke medium luar eritrosit (plasma),
akibatnya eritrosit akan keriput (krenasi). Keriput ini dapat dikembalikan
dengan cara menambahkan cairan isotonis ke dalam medium luar eritrosit
(plasma).
.Pada
praktikum hemolisis tabung yang konsentrasi NaCl 0,25% dan 0,45% secara
mikroskopis darah sapi yang diamati adanya hemolisis, hal ini ditandai dengan
banyaknya eritrosit yang pecah yaitu sebanyak 15 dibandingkan jumlah eritrosit
yang tidak pecah.pada tabung 1,3,5 darah sapi tidak mengalami hemolisis karena
sedikit jumlah eritrosit yang pecah yaitu sebanyak 2 buah. Pada darah ayam
dengan larutan Nacl 0,9% setelah diamati menggunakan mikroskop berbentuk bulat
licin dan lebih sedikit dari pembanding, jumlahnya relatif lebih banyak.pada
larutan NaCl 0,25% bentuknya bulat bergerigi, lebih besar dari pembanding dan
jumlahnya relatif lebih kecil dari pembanding. Pada larutan Nacl 0,45%
eritrosit berbentuk bulat licin, lebih kecil dari pembanding dan jumlahnya
relatif lebih besar. Pada larutan NaCl 0,65% bentuknya bulat licin, lebih kecil
dari pembanding dan jumlah relatif lebih kecil. Pada larutan NaCl 3% terjadi
krenasi karena berwarna keruh dan pada konsentrasi NaCl 0,9% warnanya cerah
yang berarti terjadi hemolisis. Pada percobaan darah kambing terjadi proses
krenasi setelah ditambahkan 1 tetes larutan NaCl 0,9 % yang diamati terlihat
seperti ada gumpalan berwarna merah tua namun ada sedikit bintik-bintik
berwarna merah tua dan berwarna keunguan disekitarnya.Menurut (Soewolo,2000)
lisis merupakan istilah umum peristiwa menggelembung dan pecahnya sel akibat
masuknya air kedalam sel. Lisis pada eritrosit disebut hemolisis yang berarti
peristiwa pecahnya eritrosit akibat masuknya air kedalam eritrosit sehingga
hemoglobin keluar dari dalam eritrosit menuju kecairan sekelilingnya.membran
eritrosit bersifat permeabel selektif,yang berarti dapat ditembus oleh air dan
zat-zat tertentu,tetapi tidak dapat ditembus oleh zat-zat tertentu yang lain.
Hemolisis ini akan terjadi apabila eritrosit dimasukkan ke dalam medium yang
hipotonis terhadap isi sel eritrosit.
Gambar
6.Pipet Pasteur
Gambar
7. Mikroskop
Tabel 2.Hemolisis pada
darah ayam
|
Tabung Larutan HCl
|
Mikroskopis
Hemolisis
|
Pengamatan di mikroskop
|
||
|
Bentuk
|
Besar
|
Warna
|
||
|
I. NaCl 0.9%
|
-
|
Bulat Licin
|
|
keruh
|
|
II.
NaCl 0.65%
|
-
|
Lonjong Licin
|
<
|
keruh
|
|
III.
NaCl 0.45%
|
+
|
Bulat Bergerigi
|
|
keruh
|
|
IV.
NaCl 0.25%
|
+
|
Bulat Bergerigi
|
>
|
keruh
|
|
V.
NaCl 3.0 %
|
-
|
Bulat Licin
|
|
keruh
|
Gambar
8.Bentuk sel darah Ayam
Tabel 3.Hemolisis pada
darah sapi
|
Tabung(NaCl)
|
Mikroskopis(hemolisis)
|
Hasil pengamatan di mikroskop
|
||
|
Bentuk
|
Besar
|
Warna
|
||
|
I.NaCl 0.9%
|
-
|
Bulat licin
|
|
keruh
|
|
II.NaCl 0.65%
|
-
|
Bulat bergerigi
|
=
|
keruh
|
|
III.NaCl 0.45%
|
-
|
Bulat bergerigi
|
|
Merah cerah
|
|
IV.NaCl 0.25%
|
+
|
Bulat bergerigi
|
>
|
Merah cerah
|
|
V.NaCl 3.0%
|
+
|
Bulat bergerigi
|
|
Keruh
|
Gambar
9.Sel pada darah sapi
Tabel 9.Hemolisis pada
darah kambing
|
Tabel larutan NaCl
|
Mikroskopis
(Hemolisis)
|
Pengamatan di mikroskop
|
||
|
Bentuk
|
Besar
|
Warna
|
||
|
I.NaCl 0.9%
|
-
|
Bulat licin
|
|
keruh
|
|
II.NaCl 0.65%
|
+
|
Bulat bergerigi
|
<
|
Merah cerah
|
|
III.NaCl 0.45%
|
-
|
Bulat licin
|
|
Merah cerah
|
|
IV.NaCl 0.25%
|
+
|
Bulat bergerigi
|
=
|
Merah cerah
|
|
V.NaCl 3.0%
|
+
|
Bulat bergerigi
|
|
keruh
|
Gambar
10.Gambar sel pada darah kambing
Ketahanan
osmotik erittrosit(osmotik fragility of the erytrocytes) berkaitan dengan
bentuk eritrosit serta sifta eritrosit yang rapuh terhadap perubahan medium
yang tekanan osmotiknya berbeda dengan plasma darah.Untuk mempertahankan ukuran
eritrosit tetap konstan,maka eritrosit harus berada pada lingkungan yang
osmolaritasnya sama dengan plasma darah.Tekanan osmotik plasma darah akan turun
apabila ditambahkan larutan dengan
tekanan osmotik dibawah tekanan osmotik plasma darah misalnya dengan penambahan
NaCl hipotonik atau penambahan air ke dalam darah maka eritrosit akan mengalami
lisis.
Ketahanan
erotrosit didalam darah terhadap perubahan tekanan osmotik(penururnan tekanan
osmotik) tidak sama.Dalam medium yang hipotonik dengan konsentrasi NaCl
tertentu sebagian eritrosit mengalami lisis dan sebagian lagi belum.Dengan
menurunkan secara perlahan-lahan tekanan osmotik medium maka akan terlihat
semakin banyak eritrosit yang mengalami lisis sampai pada konsentrasi NaCl
tertentu semua eritrosit mengaami hemolisis (hemolisis total).Tes ketahanan
osmotik eritrosit ini menentukan batas konsentrasi NaCl dari medium dimana
eritrosit mulai lisis samapi hemolisis total.
4.1.6 Hematokrit
Hematokrit
atau Packed Cell Volume (PCV) merupakan persentase sel-sel darah merah dalam
100ml darah.Darah yang ditambah antikoagulan kemudian di sentrifuge dengan
kecepatan tinggi.Hematokrit (Ht) adalah persentase seluruh volume eritrosit
yang dipisahkan dariplasma dengan cara memutarnya didalam tabung khusus dengan
waktu dan kecepatan tertentu dimana nilainya dinyatakan dalam persen (%). Untuk
tujuan ini, darah diambil dalam semprit dengan volume yang telah ditetapkan dan
dipindahkan kedalam suatu tabung khusus berskala hematokrit (tabung wintrobe).
Untuk pemeriksaan hematokrit darah tidak boleh dibiarkan menggumpal sehingga
harus diberi antikoagulan. Setelah tabung tersebut diputar dengan kecepatan dan
waktu tertentu, maka eritrosit akan mengendap (Sadikin, M. 2002).
Hematokrit
adalah nilai yang menunjukan persentase zat padat dalam darah terhadap cairan
darah. Dengan demikian, bila terjadi perembesan cairan darah keluar dan
pembuluh darah, sementara bagian padatnya tetap dalam pembuluh darah, akan
membuat persentase zat padat darah terhadap cairannya naik sehingga kadar
hematokritnya juga meningkat (Hardjoeno, H. 2007).Nilai hematokrit yang rendah
sering ditemukan pada kasus anemia leukemia, sedangkan peningkatan nilai
hematokrit ditemukan pada dehidrasi (suatu peningkatan relatif). Hematokrit
dapat menjadi indikator keadaan dehidrasi. Hematokrit dapat mengindikasikan
hemokonsentrasi, akibat penurunan volume cairan dan peningkatan eritrosit.
Hematokrit dapat diukur pada darah vena atau kapiler berdasarkan perbandingan
persentase volume eritrosit / volume darah dengan metode wintrobe atau metode
mikro. Hematokrit juga dapat ditentukan dengan menggunakan instrumen elektronik
automatik. Walaupun cara automatik lebih unggul dan cara manual, namun
mempunyai keterbatasan seperti: harga yang cukup mahal, penggunaannya terbatas,
khususnya di daerah apabila reagen habis biasanya pengiriman terlambat sehingga
cara manual masih merupakan tes pilihan pada laboratorium, juga terkadang masih
perlu dikonfirmasikan bila ada hasil diluar kemampuan alat. Hematokrit diukur
dari volume sel rata-rata dan hitung sel darah merah. Nilai normal hematokrit
(Ht) sangat bervariasi menurut masing-masing laboratorium dan metode
pemeriksaan (Gandasoebrata R, 2006).
Penurunan
kadar hematokrit dapat terjadi pada beberapa kondisi tubuh, seperti anemia
kehilangan darah akut, leukemia, kehamilan,malnutrisi,gagal ginjal. Sedangkan
peningkatan kadar dapat terjadi pada beberapa kondisi : dehidrasi, diare berat,
luka baker, pembedehan (Kee JL,2002).Pemeriksaan hematokrit merupakan salah
satu pemeriksaan laboratorium dalam mendiagnosa penyakit demam berdarah, dimana
pada kasus tersebut terjadi penurunan kadar trombosit (trombositopeumia) secara
derastis sampai dibawah 100.00 / mm3 yang diikuti dengan peningkatan kadar
hematokrit 20 % atau lebih yang menunjukkan terjadi perembesan plasma atau
lebih, dianggap menjadi bukti definitive adanya peningkatan permiabelitas
vaskuler. Pada kasus tersebut kadar hematokrit dapat dipengaruhi baik pada
pergantian volume tubuh secara dini atau oleh perdarahan.
Hematokrit
biasanya tiga kali nilai Hb, kecuali bila ada bentuk dan besar eritrosit
abnormal. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi nilai hematokrit ialah jumlah
lekosit yang cukup tinggi, nilai glukosa dan natrium darah yang tinggi,
hemolisis, dan kesalahan tehnik misalnya penggunaan antikoagulan yang tidak
tepat (Hardjoeno, H. 2007).
Meningkatnya nilai Hematokrit dapat disebabkan oleh dehidrasi, waktu
tornikuet berkepanjangan, terpapar suhu dingin, peningkatan aktivitas otot,
posisi berdiri tegak,diare berat, luka bakar, pembedahan dan teknik
centrifugasi. Menurunnya nilai
hematokrit dapat terjadi pada beberapa kondisi tubuh seperti: anemia, leukimia.
Faktor-faktor
Yang Mempengaruhi Hasil Pemeriksaan Hematokrit:Kecepatan centrifugeMakin tinggi
kecepatan centrifuge semakin cepat terjadinya pengendapan eritrosit dan begitu
pula sebaliknya, semakin rendah kecepatan centrifuge semakin lambat terjadinya
pengendapan eritrosit,dan Pengaruh kecepatan centrifuge, dapat kita lihat pada
hasil pemeriksaan hematokrit dengan menggunakan kecepatan centrifuge 16.000 rpm
dan selama 2-3 menit yang menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang bermakna
sertaw aktu centritugasi,selain radius dan kecepatan centrifuge, lamanya
centrifugasi juga berpengaruh terhadap hasil pemeriksaan hematokrit. Makin lama
centrifugasi dilakukan maka hasil yang diperoleh semakin maksimal.alnutrisi dan
gagal ginjal.
Gambar
11.Tabung Hematokrit
Gambar
12. Sentrifuse
Tabel 5.Nilai
hematokrit pada beberapa jenis ternak
|
No
|
Jenis Ternak
|
Hematokrit(%)
|
|
1
|
Sapi
|
40
|
|
2
|
Kambing
|
32
|
|
3
|
Ayam
|
27
|
Tabel 6. Nilai
hematokrit hasil pengamatan
|
No
|
Kelompok
|
Jenis Ternak
|
||
|
Sapi
|
Ayam
|
Kambing
|
||
|
1
|
VI
|
31
|
25
|
33
|
|
2
|
VIII
|
24
|
27
|
33
|
|
3
|
IX
|
25
|
23
|
33
|
|
4
|
X
|
27
|
25
|
34
|
|
5
|
XI
|
29
|
20
|
27
|
Darah yang di sentrifuge akan terpisah menjadi 3 bagian yaitu:
1).Lapisan
teratas ::plasma berwarna kuning
2).Lapisan
tengah :buffy coat yang terdiri
atas trombosit(bagian teratas berwarna kuning coklat),leukosit(bagian tengah
berwarna abu-abu kemerahan), dan eritrosit muda(bagian bawah berwarna merah).
3).Lapisan
terbawah :eritrosit berwarna merah
tua.Eritrosit terpisah dibagian bawah karena mempunyai BJ terbesar.
|
|
|
Plasma darah
|
|
Buffy coat
|
|
eritrosit
|
|
lilin
|
Ada dua metode pengukuran nilai
hematokrit yaitu:
- Metode makro hematokrit(wintrobe)
- Metode mikro hematokrit(Van Allen)
4.1.7 Hemoglobin
Hemoglobin
adalah metalprotein pengangkut oksigen yang mengandung besi dalam sel merah
dalam darah mamalia dan hewan lainnya. Molekul hemoglobin terdiri dari globin,
apoprotein dan empat gugus heme, suatu molekul organik dengan satu atom besi
(Wikipedia, 2007). Hemoglobin adalah
protein yang kaya akan zat besi. Memiliki afinitas (daya gabung) terhadap
oksigen dan dengan oksigen itu membentuk oxihemoglobin di dalam sel darah
merah. Dengan melalui fungsi ini maka oksigen dibawa dari paru-paru ke
jaringan-jaringan (Evelyn, 2009). Hemoglobin merupakan senyawa pembawa oksigen
pada sel darah merah. Hemoglobin dapat diukur secara kimia dan jumlah Hb/100 ml
darah dapat digunakan sebagai indeks kapasitas pembawa oksigen pada darah.
Hemoglobin adalah kompleks
protein-pigmen yang mengandung zat besi. Kompleks tersebut berwarna merah dan
terdapat didalam eritrosit. Sebuah molekul hemoglobin memiliki empat gugus
haeme yang mengandung besi fero dan empat rantai globin (Brooker, 2001). Hemoglobin adalah suatu senyawa protein
dengan Fe yang dinamakan conjugated protein. Sebagai intinya Fe dan dengan
rangka protoperphyrin dan globin (tetra phirin) menyebabkan warna darah merah
karena Fe ini. Eryt Hb berikatan dengan karbondioksida menjadi karboxy
hemoglobin dan warnanya merah tua. Darah arteri mengandung oksigen dan darah
vena mengandung karbondioksida (Depkes RI dalam Widayanti, 2008). Menurut William, Hemoglobin adalah suatu
molekul yang berbentuk bulat yang terdiri dari 4 subunit. Setiap subunit
mengandung satu bagian heme yang berkonjugasi dengan suatu polipeptida. Heme
adalah suatu derivat porfirin yang mengandung besi. Polipeptida itu secara
kolektif disebut sebagai bagian globin dari molekul hemoglobin (Shinta, 2005).
Kadar hemoglobin ialah ukuran
pigmenrespiratorik dalam butiran-butiran darah merah (Costill, 1998). Jumlah
hemoglobin dalam darah normal adalah kira-kira 15 gram setiap 100 ml darah dan
jumlah ini biasanya disebut “100 persen” (Evelyn, 2009). Batas normal nilai
hemoglobin untuk seseorang sukar ditentukan karena kadar hemoglobin bervariasi
diantara setiap suku bangsa. Namun WHO telah menetapkan batas kadar hemoglobin
normal berdasarkan umur dan jenis kelamin
(WHO dalam Arisman, 2002)
Hemoglobin
adalah suatu molekul yang berbentuk bulat yang terdiri dari 4 subunit. Setiap
subunit mengandung satu bagian heme yang berkonjugasi dengan suatu polipeptida.
Heme adalah suatu derivat porfirin yang mengandung besi. Polipeptida itu secara
kolektif disebut sebagai bagian globin dari molekul hemoglobin. Ada dua pasang
polipeptida didalam setiap molekul hemoglobin (Ganong, 2003). Komponen utama
sel darah merah adalah protein hemoglobin yang mengangkut O2 dan CO2 dan
mempertahankan pH normal melalui serangkaian dapar intraselular.
Molekul-molekul hemoglobin terdiri dari dua pasang rantai polipeptida dan empat
gugus hem, masing-masing mengandung sebuah atom besi. Konfigurasi ini
memungkinkan pertukaran gas yang sangat sempurna (Supriasa, 2001). Hemoglobin
merupakan senyawa pembawa O2 pada sel darah merah. Hemogloboin dapat diukur
secara kimia dan jumlah Hemoglobin/100 ml dalam darah dapat digunakan sebagai
indek kapasitas sebagai O2 pada darah. Kandungan hemoglobulin yang rendah
dengan demikian mengindikasikan anemia (Supriasa, 2001). Pengertian lain
hemoglobin adalah pigmen merah pembawa O2 pada eritrosit dan di bentuk oleh
eritrosit yang berkembang dalam sum-sum tulang. Pembentukan berlangsung dari
setaium perkembangan eritroblas sampai retukulosit. Molekul-molekul Hemoglobin
terdiri atas dua pasang rantai polipeptida (Globin) dan empat kelompok heme
(Price & Wilson, 2004). Globulin merupakan satu protein yang terbentukdari
empat polipetida yang sangat berlipat-lipat. Sedangkan heme merupakan gugus
nitrogenosa non protein yang mengandung besi (Sherwood, 2001). Sel-sel darah
merah mampu mengkonsentrasikan hemoglobin dalam cairan sel sampai sekitar 34
gm/dl sel. Konsentrasi ini tidak pernah meningkat lebih dari nilai tersebut,
karena ini merupakan batas metabolik dari mekanisme pembentukan hemoglobin sel.
Selanjutnya pada orang normal, persentase hemoglobin hampir selalu mendekati
maksimum dalam setiap sel, namun bila pembentukan hemoglobin dalam sumsum
tulang berkurang, maka persentase hemoglobin dalam darah merah juga menurun
karena hemoglobin untuk mengisi sel kurang. Bila hematokrit (persentase sel
dalam darah normalnya 40 sampai 45 persen) dan jumlah hemoglobin dalam
masing-masing sel nilainya normal, maka seluruh darah seorang pria rata-rata mengandung
16 gram/dl hemoglobin, dan pada wanita rata-rata 14 gram/dl (Guyton & Hall,
1997).
Hemoglobin
dibentuk dalam sitoplasma sel sampai stadium retikulosit. Setelah inti sel
dikeluarkan, hilang juga RNA dari dalam sitoplasma, sehingga dalam sel darah merah
tersebut tidak dapat dibentuk protein lagi, begitu juga berbagai enzim yang
sebelumnya terdapat dalam sel darah merah dan protein membran sel (Suyono,
2001). Pembentukan hemoglobin dimulai dalam proeritroblas dan kemudian
dilanjutkan sedikit dalam stadium retikulosit, karena ketika retikulosit
meninggalkan sumsum tulang dan masuk ke dalam aliran darah, maka retikulosit
tetap membentuk sedikit hemoglobin selama beberapa hari berikutnya (Guyton
& Hall, 1997).
Hemoglobin
dalam tubuh manusia memiliki fungsi sebagai berikut :
1) Mengangkut O2 dari organ respirasi ke
jaringan perifer dengan cara membentuk oksihemoglobulin. Oksihemoglobin ini
akan beredar secara luas pada seluruh jaringan tubuh. Jika kandungan O2 di
dalam tubuh lebih rendah dari pada jaringan paru-paru, maka ikatan
oksihemoglobulin akan dibebaskan dan O2 akan digunakan dalam metebolisme sel.
2)
Mengangkut karbon dioksida dari berbagai proton, seperti ion Cl- dan ion
hidrogen asam (H+) dari asam karbonat (H2CO3) dari jaringan perifer ke organ
respirasi untuk selanjutnya diekskresikan ke luar. Oleh karena itu, hemoglobin
juga termasuk salah satu sistem buffer atau penyangga untuk menjaga
keseimbangan pH ketika terjadi perubahan PCO2 (Martini, 2009).
Faktor-Faktor
Yang Mempengaruhi Kadar Hemoglobin Kadar Hemoglobin seseorang tidak hanya
dipengaruhi oleh paparan Pb(timbal), kebiasaan minum teh setiap hari setelah
makan, menkonsumsi alkohol serta merokok dapat mempengaruhi kadar Hemoglobin
(Mehdi et al., 2000). Konsumsi teh setiap hari dapat menhambat penyerapan zat
besi sehingga akan mempangruhi terhadap kadar Hemoglobin (Gibson, 2005).
Beberapa faktor lain yang mempengaruhi kadar Hemoglobin antara lain:
1)
Usia Anak-anak, orang tua, ibu yang sedang hamil akan lebih mudah mengalami
penurunan kadar Hemoglobin. Pada anak-anak dapat disebabkan karena
pertumbuhan anak-anak yang cukup pesat
dan tidak di imbangi dengan asupan zat besi sehingga dapat menurunkan kadar Hemoglobin
(National Anemia Action Council, 2009).
2) Jenis Kelamin Perempuan lebih mudah
mengalami penurunan daripada laki-laki,
terutama
pada saat menstruasi (Curtale et al., 2000).
3)
Penyakit Sistemik Beberapa penyakit yang dapat mempengaruhi kadar Hemoglobin
yaitu Leukimia, thalasemia, tuberkulosi. Penyakit tersebut dapat
mempengaruhiproduksi sel darah merah yang disebabkan karenan terdapat gangguan
pada sum-sum tulang (Hoffbrand et al., 2005).
4)
Pola Makan Pola makan adalah menu makanan yang dalam keseharian oleh seseorang.
Pola makan yang sehat tercantum dalm pemilihan menu makanan yang seimbang
(Prasetyono, 2009). Sumber zat besi terdapat dimakanan bersumber dari hewani
dimana hati merupakan sumber yang paling banyak mengandung Fe (antara 6,0 mg
sampai dengan 14,0 mg). Sumber lain juga berasal dari tumbuh-tumbuhan tetapi
kecil kandunganya sehingga bisa diabaikan (Gibson, 2005). Zat besi didalam
makanan berbentuk hem yaitu berikatan dengan protein atau dalam bentuk nonhem
yang berbentuk senyawa besi inorganik yang komplek. Zat besi hem lebih banyak
diabsorbsi dibanding dengan zat besi nonhem. Sumber zat besi hem adalah hati, ginjal, daging, ayam, ikan dimana dalam
usus diserap 15-35%. Sumber nonhem umumnya terdapat dalam makanan yang berasal
dari tumbuh-tumbuhan seperti sayur-sayuran, biji-bijian, kacang-kacangan,
buah-buahan dan serelia, sedikit dalam daging,
ikan,
telur .Faktor lain yang diperhatikan adalah faktor yang mempengaruhi penyerapan
dari Fe, atara lain macam bahan itu sendiri. Yang berasal dari hewani 7-22% dan
dari tumbuh-tumbuhan 1-6%. Yang mempermudah absorbsi besi nonhem adalah Vitamin
C (buah-buahan yang mengandung asam citrid dan sayuran seperti tomat dll),
makanan yang mengandung zat besi hem dan makanan yang telah difermentasi.
Sedangkan makan yang menghambat absorbsi besi adalah makanan yang mengandung
tannin, phytat, fosfat, kalsium dan serat dalam bahan makanan .Konsumsi teh dan
kopi satu jam setelah makan akan menurunkan absorbsi dari zat besi sampai 40%
untuk kopi dan 85% untuk teh, karena terdapat zat polyphenol seperti tannin
yang terdapat dalam teh Pada penelitian yang dilakukan olah Muhilal dan
Sulaeman (2004), didapat absorbsi zat besi besi turun sampai 2% oleh karena
konsumsi teh, sedangkan absorbsi tanpa konsumsi the hanya diabsorbsi sekitar
12%. Entimilasi dari kebutuhan makan yang mengandung metode estimasi food
frekuensi bagaimana frekuensi makan itu dikonsumsi dalam satu periode waktu.
Food frekuensi menggunakan design kuisioner atau interview Efek kekurangan kadar hemoglobin Kadar
hemoglobin dalam tubuh harus pada nilai yang normal. Apabila kadar hemoglobin
di bawah normal akan terjadi hal-hal sebagai berikut : 1) Sering pusing. Hal
ini disebabkan otak sering mengalami periode kekurangan pasokan O2 yang di bawa
hemoglobin terutama saat tubuh memerlukan tenaga yang banyak.
2)
Mata berkunang-kunang. Kurangnya O2 otak akan mengganggu pengaturan saraf-saraf
pusat mata.
3)
Pingsan. Kekurangan O2 dalam otak yang bersifat ekstrim/mendadak dalam jumlah
besar akan menyebabkan pingsan.
4) Nafas cepat. Jika Hemoglobin kurang, untuk
memenuhi kebutuhan O2 maka kompensasinya menaikkan frekwensi nafas. Orang awam
menggambarkan ini dengan sesak nafas.
5)
Jantung berdebar. Untuk menculupi kebutuhan O2 maka jantung harus memompa lebih
sering agar darah yang mengalir di paru-paru lebih cepat mengikat O2.
6)
Pucat. Hemoglobin adalah zat yang zat yang mewarnai darah menjadi merah maka
kekurangan yang ekstrim akan menyebabkan pucat pada tubuh. Untuk mengetahui
secara pasti tentunya harus dengan pemeriksaan kadar Hemoglobin secara
laboratorik. Kadar hemoglobin adalah salah satu pengukuran tertua dalam
laboratorium kedokteran dan tes darah yang paling sering dilakukan.
Respon
tubuh bila terjadi kekurangan hemoglobin beraneka ragam tergantung tingkat
keparahanya. Berikut merupakan gejala yang timbul bila seseorang kekurangan
hemoglobin :
1)
Hemoglobin >10 gram % : Gejala terjadi jika system transpor O2 mengalami
stres karena meningkatnya permintaan O2 (misalnya : latihan, demam) atau karena
berkurangnya oksigenasi darah (misalnya : gangguan paru-paru, tempat tinggi,
merokok, pajanan terhadap karbon monoksida).
2)
Hemoglobin 8 – 10 gram % : Gejala meningkatnya curah jantung pada saat
istirahat dapat diperhatikan (misalnya : berdebar-debar) terutama dalam pasien
tua, tetapi sebagai aturan umum gejala tidak berat.
3)
Hemoglobin < 8 gram % : Meningkatnya gejala-gejala pada saat istirahat,
tergantung pada cadangan kardiorespiratorius.
Gambar 10.
Standar warma hemoglobin
Gambar
14.Hemometer sahli
Tabel 7.Nilai
hemoglobin beberapa jenis ternak
|
Kelompok
|
Jenis Ternak
|
Hemoglobin(%)
|
|
6
|
Ayam
|
7.8%
|
|
Sapi
|
12%
|
|
|
Kambing
|
9.8%
|
|
|
7
|
Ayam
|
7.8%
|
|
Sapi
|
12%
|
|
|
Kambing
|
10.4%
|
|
|
8
|
Ayam
|
7.8%
|
|
Sapi
|
12%
|
|
|
Kambing
|
9.8%
|
|
|
9
|
Ayam
|
7.8%
|
|
Sapi
|
12%
|
|
|
Kambing
|
9.8%
|
|
|
10
|
Ayam
|
9.8%
|
|
Sapi
|
7.8%
|
|
|
Kambing
|
12%
|
|
|
11
|
Ayam
|
7.8%
|
|
Sapi
|
12%
|
|
|
Kambing
|
9.8%
|
Hal
ini sesuai dengan pendapat (Gandasoebrata R,2000) yaitu adanya hemoglobin dalam
darah menimbulkan timbulnya warna merah dalam darah dan hemoglobin tersebut
merupakan suatu senyawa organik yang kompleks yang terdiri dari empat pigmen
porfirin merah.Sedangkan pada ayam tidak normal karena kadar normal hemoglobin
ayam itu 7-13%. Hemoglobin adalah
pigmen yang membuat sel darah berwarna merah yang pada akhirnya akan membuat
darah manusia berwarna merah. Menurut fungsinya, hemoglobin merupakan media
transport oksigen dari paru paru ke jaringan tubuh. Seperti kita ketahui
bersama, oksigen merupakan bagian terpenting dari metabolisme tubuh untuk
menghasilkan energi. Hemoglobin juga berfungsi membawa karbondioksida hasil
metabolisme dari jaringan tubuh ke paru paru untuk selanjutnya dikeluarkan saat
bernafas. Saat kadar hemoglobin rendah maka jumlah sel darah merah pun akan
rendah. Demikian pula halnya dengan nilai hematokrit.( Barbara A. B, 2006).
4.1.8
Mengitung Jumlah Sel Darah
Volume darah di
dalam tubuh sekitar sepertiga belas berat badan orang sehat, atau kurang lebih
4 – 5 liter. Bila cairan darah terlalu banyak atau terlalu sedikit, maka tubuh
sendiri akan mengatur sekresi melalui keringat dan kencing atau urine sehingga
kadar larutan dalam darah tetap dan tekanan osmosis dalam darahpun juga tetap. Darah mempunyai bebarapa fungsi yang penting untuk tubuh. Darah mengangkut
zat-zat makanan dari alat pencernaan ke jaringan tubuh, hasil limbah metbolisme
dari jaringan tubuh ke ginjal, dan hormon dari kelenjar endokrin ke target
organ tubuh.( Wikipedia).2000
Fungsi utama
dari darah adalah sebagai media transport yaitu mengangkut oksigen ke jaringan
dan mengembalikan karbondioksida dari jaringan ke paru-paru, untuk mencapai gas
ini sel darah mengandung protein khusus yaitu hemoglobin karena sewtiap sel
darah merah mengandung sekitar 640 juta molekul hemoglobulin, selain itu darah
juga berfungsi sebagai regulasi dan pertahanan tubuh, yaitu mencegah dari pendarahan
dan pertahanan tubuh dari penyakit.( Ismy.2012).
Darah
merupakan cairan dengan volume yang berbeda-beda tergantung pada jenis kelamin,
ukuran tubuh, dan umur setiap orang atau individu. Jumlah darah dalam tubuh
bervariasi tergantung pada berat tubuh seseorang. Pada orang dewasa 1/13 berat
badan kira-kira 4-5 liternya adalah darah. Faktor lain yang juga menentukan
banyaknya darah adalah umur, pekerjaan, keadaan jantung dan pembuluh darah.
Total sirkulasi dari volume darah diperkirakan sekitar 5 s/d 8% dari total
bobot badan dan angka ini bervariasi menurut umur, spesies, besar tubuh,
aktivitas, status kesehatan, status gizi dankondisi fisiologi (bunting dan
laktasi) (Jumrana.2012).
Darah
mengangkut oksigen zat-zat makanan dari alat pencernaan ke jaringan tubuh,
hasil limbah metabolisme dari jaringan tubuh ke ginjal dan hormone dari
kelenjar endokrin ke target organ tubuh. Darah juga berpartisipasi dalam
pengaturan kondisi asam-basa, keseimbangan elektrolit dan temperature tubuh,
dan sebagai pertahanan suatu organisme terhadap penyakit. Semuanya adalah
fungsi yang berhubungan dengan pemeliharaan lingkngan interna yang konstan (Luvid .2012).
Sel darah putih berbentuk tidak tetap. Sel darah putih dibuat di sum-sum
marah, kura dan kelenjar limpa. Fungsinya memberantas kuman-kuman penyakit. Sel
darah putih atau leukosit berukuran lebih besar daripada sel darah merah,
diameternya sekitar 10µm, dan jumlahnya lebih sedikit teradpat 7-10 X 109 leukosit
per liter darah dan jumlah in bias meningkat sampai 30 X 109 per
liter darah bila ada infeksi di dalam badan. Penngkatan ini dikenal sebagai
leukositosis (Watson, R 2007). Leukosit dalam darah jumlahnya lebih sedikit
daripada eritrosit dengan rasio 1:700 (Frandson,2006).
Sel darah
putih berbentuk tidak tetap. Sel darah putih dibuat di sum-sum marah, kura dan
kelenjar limpa. Fungsinya memberantas kuman-kuman penyakit. Sel darah putih
atau leukosit berukuran lebih besar daripada sel darah merah, diameternya
sekitar 10µm, dan jumlahnya lebih sedikit teradpat 7-10 X 109 leukosit
per liter darah dan jumlah in bias meningkat sampai 30 X 109 per
liter darah bila ada infeksi di dalam badan. Penngkatan ini dikenal sebagai
leukositosis (Jhenata.2012).
Hitung leukosit menyatakan jumlah sel-sel leukosit perliter darah (System
International Units = SI unit) atau per satu mmk darah. Nilai normalnya
4000 - 11000 / mmk. Untuk penerapan hitung leukosit ada dua metode, manual dan
elektronik. Pada umumnya metode elektronik belum digunakan secara umum, mungkin
baru di laboratorium besar, sehingga cara manual masih memegang peranan
penting.( Arlian.2012)
Fluktuasi jumlah leukosit pada tiap individu cukup besar pada kondisi
tertentu seperti stres, umur, aktifitas fisiologis dan lainnya. Leukosit
berperan penting dalam pertahanan seluler dan humoral organisme terhadap
benda-benda asing. Jumlah leukosit lebih banyak diproduksi jika kondisi tubuh
sedang sakit apabila dalam sirkulasi darah jumlah leukositnya lebih sedikit
dibanding dengan eritrositnya.( Ismy.2012)
Tabel 8. Jumlah Leukosit pada ayam, sapi, dan kambing
|
Jenis
Ternak
|
Sapi
|
Ayam
|
Kambing
|
|
Jumlah
Leukosit
|
6,01
ribu
|
2,95
ribu
|
7,55
ribu
|
Tabel 9. Keterangan Leukosit
|
Jenis
Ternak
|
R1
|
R2
|
R3
|
R4
|
|
Sapi
|
36
|
30
|
22
|
34
|
|
Ayam
|
115
|
153
|
187
|
135
|
|
Kambing
|
55
|
31
|
25
|
40
|
Sel darah putih(
leukosit) berfungsi menyediakan pertahanan yang cepat dan kuat terhadap setiap
agen infeksi yang ada. Terdapat beberapa jenis leukosit, yaitu netrofil,
eosinofil, basofil, monosit, limfosit dan megakarosit.(Gugun, 2011)
Sel darah
putih atau leukosit adalah sel yang membentuk komponen darah. Sel darah putih
ini berfungsi untuk membantu tubuh melawan berbagai penyakit infeksi sebagai
bagian dari sistem kekebalan tubuh.Sel darah putih tidak berwarna, memiliki
inti,dapat bergerak secara amoebeid, dan dapat menembus dinding kapiler
/diapedesis. (Susana, 2010).
4.1.9
Differensial Leukosit (Leukogram)
Perhitungan total leukosit penting
untuk diagnosa klinik, tetapi akan lebih memberikan gambaran yang lengkap
dengan perhitungan differensial leukosit. Differensial leukosit merupakan
persentase setiap jumlah sel darah putih dari total leukosit. Setiap jenis sel
darah putih mempunyai fungsi yang berbeda dalam melawan infeksi dan setiap
penyakit menghasilkan perbedaan sel darah putih yang ada di dalam darah,
misalnya pada keadaan seperti di bawah ini :
- Infeksi oleh protozoa, malnutrisi, anemia aplastik akan mengakibatkan penurunan neutrofil.
- Latihan yang berat, rematik, luka bakar, akan terjadi peningkatan jumlah neutrofil.
- Batuk rejan, gondok, cacar air, meningkatkan jumlah limfosit.
- Infeksi parasit, alergi, akan meningkatkan eosinofil.
- Penyakit kronis, alergi akan meningkatkan eosinofil.
- Penyakit kronis seperti TBC, leukimia akan meningkatkan jumlah monosit.
- Penggunaan obat-obatan glucocorticoid menurunkan jumlah limfosit.
Bentuk sel leukosit di bagi menjadi 2, yaitu granulosit dan agranulosit.
Leukosit granulosit terdiri dari :
- Neutrofil : berdiameter 10-20µ. Nukleus berlobus 3, berwarna ungu dan granular sitoplasma kecil berwarna pink.
- Eosinofil : berdiameter 13µ. Nukleus berlobus 2, berwarna biru-ungu, dan granular sitoplasma kecil berwarna merah-orange.
- Basofil : berdiameter 14µ. Nukleus berlobus 2, berwarna biru tua, dan granular sitoplasma berwarna biru-tu atau merah-ungu.
Leukosit Agranulosit :
- Limfosit kecil : diameter 7µ. Nukleus sangat besar berwarna biru tua atau ungu, sitoplasma tipis, non granular, berwarna biru terang.
- Limfosit kecil : diameter 10µ. Nukleus oval besar berwarna ungu tua, sitoplasma non granular, berwarna biru terang.
- Monosit : diameter 15µ. Nukleus besar seperti tapal kuda berwarna biru atau ungu, sitoplasma non granular, berwarna biru abu-abu terang.
Dari praktikum
yang telah dilaksanakan, didapatkan hasil sebagai berikut :
Tabel
10. Hasil Pengamatan Differensial
Leukosit
|
Kelompok
|
Darah
|
Leukosit (%)
|
|||||||
|
Basofil
|
Eosinofil
|
Myelo
|
Juven
|
Stab
|
Seg
|
Limph
|
Mon
|
||
|
6
|
Sapi
|
29,41
|
0
|
47,05
|
17,64
|
0
|
0
|
0
|
5,88
|
|
7
|
Kambing
|
6,45
|
6,45
|
22,
|
6,45
|
32,25
|
6,45
|
16,12
|
3,22
|
|
8
|
Ayam
|
23
|
11
|
-
|
5
|
8
|
11
|
57
|
16
|
|
9
|
Mamalia
(Laki)
|
1,07
|
4,82
|
1,60
|
0
|
0,53
|
13,37
|
40,64
|
-
|
|
10
|
Mamalia
(Pr)
|
30,77
|
-
|
38,46
|
30,77
|
-
|
-
|
-
|
-
|
|
11
|
Sapi
|
3,84
|
13,4
|
11,35
|
5
|
16
|
7
|
4
|
32
|
Untuk melihat struktur sel-sel darah dengan menggunakan mikroskop cahaya
pada umumnya dibuat sediaan apus. Sediaan apus darah ini tidak saja untuk
mempelajari bentuk masing-masing sel darah, tetapi juga dapat digunakan untuk
menghitung perbandingan antar masing-masing jenis sel darah.Selain itu dengan
pembuatan apus maka darah yang kita gunakan akan dapat bertahan lebih lama
dibandingkan apabila kita menggunakan preparat darah basah. Karena darah
mempunyai kemampuan cepat membeku apabila terkena udara sehingga
komponen-komponen darah menjadi rusak. Dengan pembuatan sediaan apus komponen
darah akan dapat dipertahankan mendekati keadaan awal saat masih segar. Hal ini
disebabkan pada pembuatan sediaan apus mengalami beberapa perlakuan.( dwis/enchop_07 .2009)
Darah merupakan cairan yang berada
dalam jaringan tubuh. Beberapa cairan tubuh selain darah adalah cairan
jaringan, cairan limfa, sinovial, aqueos humor, edolimfa, dan perilimfa. Darah
yang terdapat di dalam vena berwarna merah tua, memiliki berat jenis yang
bervariasi dari 1.054 – 1.060 dan berat jenis plasma bervariasi dari 1.024 –
1.028. Darah terdiri dari
dua bagian, yaitu sel-sel darah merah (butir-butir darah) dan cairan darah
(plasma darah). Sel-sel darah merupakan bagian darah yang mempunyai bentuk
sedangkan plasma darah berupa cairan yang jumlah total volumenya 70%. Ada 3
macam bentukannya, yaitu : sel darah merah (eritrosit), sel darah putih
(lekosit) dan keping darah (trombosit).(Stresing .2009).
Didapatkan hasil sebagai berikut yaitu diperoleh sel
darah merah atau eritrosit, sel darah putih atau leukosit dan trombosit atau
keeping-keping darah yang merupakan komponen sel darah. Hal ini sesuai dengan
pendapat Mikrajuddin (2004), yang menyatakan bahwa darah manusi ataupun hewan
terdiri dari dua kompoen penting yaitu sel-sel darah dan plasma darah (cairan
drah). Dimana sel-sel darah itu sendiri terdiri dari sel drah merah dan sel
drah putih serta kepng drah, sedangkan cairan drah terdiri dari cairan darah
(Plasma darah).
Menurut
Bajkai (2009), yang menyatakan bahwa susunan darah terdiri dari sel darah merah
(eritrosit), sel darah putih (leukosit), keeping-keping darah (trombosit), dan
plasma darah. Pada praktikum ini ditemukan sel darah putih (leukosit), hal ini
dikarenakan cirri-ciri dan spesifikasi leukosit yang memiliki inti atau
nucleus. Hal ini ditunjang dengan pendapat Syaifuddin (2002) yang menyatakan
bahwa salah satu karakteristik dari sel darah putih yakni memiliki inti atau
nucleus serta mampu bergerak bebas dalam darah.
Warna yang
ditemukan pada sel darah putih adalah bening memiliki inti. Hal ini ditunjang
oleh pendapat Watson (2002), yang menyatakan bahwa salah satu cirri dari sel
darah putih tidak berwarna.
4.2 Fisiologi Kardiovaskuler
Sistem kardiovaskular
merupakan sistem yang menjelaskan proses sirkulasi yang terjadi di dalam tubuh
manusia. Berdasarkan lintasan sirkulasi,ada 3 macam sirkulasi dalam tubuh
manusia,sirkulasi sistemik,sirkulasi paru,dan sirkulasi khusus (sirkulasi pada janin,sirkulasi
koroner jantung). Sirkulasi tidak hanya menjelaskan tentang sirkulasi darah
saja tetapi juga ada sirkulasi cairan limfe yang berperan dalam sistem
kekebalan tubuh dan pengaturan keseimbangan cairan di ruang interstisial.
Sistem
kardiovaskuler terdiri dari : jantung , pembuluh darah (vena dan arteri),
pembuluh limfe dan darah. Jantung merupakan salah satu organ tubuh manusia yang
sangat penting karena mempunyai fungsi
sangat penting untuk kelangsungan hidup manusia yaitu memompa darah ke jaringan,
menyuplai oksigen dan zat nutrisi lain sambil mengangkut karbondioksida dan
sampah hasil metabolisme.
Jantung
dibagi oleh septa vertikal menjadi empat ruang: atrium dextrum, atrium
sinistrum, ventriculus dexter, dan ventriculus sinister Jantung memiliki empat
rongga yang terdiri atas dua serambi yang berdinding tipis dan dua bilik yang
berdinding lebih tebal. Jantung ruminansia mempunyai 4 ruang yang terbagi
sempurna dan terletak didalam rongga dada serta terbungkus oleh perikardium
Jantung merupakan organ otot yang berperan penting dalam peredaran darah.
Secara anatomis, jantung dibagi menjadi 4 ruang yaitu dua ventrikel atau bilik
(bilik kanan dan bilik kiri) yang berdinding tebal dan 2
atrium atau serambi (serambi kanan dan serambi kiri) yang berdinding tipis.
Serambi dan bilik berkontraksi secara bergantia.Jantung berfungsi memompa darah
untuk menyediakan oksigen,nutrien dan hormone ke seluruh tubuh serta mengangkut
sisa metabolisme ke seluruh tubuh
seperti karbondioksida,asam urat dan ureum. Untuk menjalankan fungsinya
sebagai pompa,jantung dapat berkontraksi dan berlelaksasi. Proses kontraksi dan
relaksasi jantung dikenal sebagai denyut jantung. Pada saat berdenyut,setiap
ruang jantung mengendur dan terisi
darah,selanjutnya jantung berkontraksi dan memompa dalam keluar dari
jantung.Sedangkan pembuluh darah berfungsi sebagai saluran untuk
mendistribusikan darah dari jantung ke semua bagian tubuh dan mengembalikannya
kembali ke jantung.Dan darah sebagai medium transportasi dimana darah akan
membawa oksigen dan nutrisi. Sedangkan sistem saluran limfe berhubungan erat
dengan sistem sirkulasi darah.Darah meninggalkan jantung melalui arteri dan
dikembalikan melalui vena.Sebagian cairan yang meninggalkan sirkulasi
dikembalikan melalui saluran limfe, yang merembes dalam ruang-ruang jaringan.
Sistem kardiovaskuler sangat memegang peranan penting bagi tubuh manusia,
makadari itu kita perlu mengetahui bagian-bagian serta manfaat dari sistem
kardiovaskuler.
Otot
jantung mempunyai karakteristik fisiologis yang dicirikan oleh fungsi jantung
yaitu :
1.Excitability,
merupakan kemampuan jantung berkontraksi bila mendapat rangsangan dengan intensitas yang cukup besar.Respon
jantung berupa perambatan potensial aksi dan kontraksi mekanik.
2.Conductivity,adalah
kemampuan jantung untuk merambatkan impuls.
3.Contractility
adalah kemampuan jantung untuk berkontraksi. Kontraksi jantung dikenal dengan
sistol, kemudian relaksasi atau pengendoran yang disebut diastol. Kecepatan
kontraksi otot jantung lebih lambat dari daripada kontraksi otot polos.
4.Automaticity
adalah kemampuan jantung untuk berdenyut dengan sendirinya tanpa impuls yang
datang dari luar jantung. Denyut jantung ditimbulkan oleh otot jantung itu
sendiri, sedangkan frekuensi denyut jantung dipengaruhi oleh aktivitas saraf
dan hormon. Pada mamalia , yang pertama
menimbulkan denyut adalah nodus sinoauricularis. 5. Hukum starling pada
jantung; Otot jantung tidak berkontraksi bila kekuatan rangsangan tidak cukup
kuat, tetapi akan berkontraksi secara maksimal jika kekuatan rangsangan cukup
kuat. Sifat ini dikenal sebagai ”all or none law”
6.Aksi vagus terhadap jantung ; saraf vagus
jantung akan menghambat gerakan jantung dan diimbangi dengan syaraf simpatetik
yang mempercepat denyut jantung.
7.Jantung mempunyai periode refrakter yang
lama. Periode refrakter adalah saat yang menujukkan bahwa jaringan hidup
kehilangan sifat eksitabilitas untuk sementara. Jadi pada saat itu jaringan
tersebut jaringan tidak memberikan respon bila dirangsang. Periode refrakter
pada jantung terjadi saat sistol berlangsung
Jantung
adalah suatu organ yang penting untuk peredaran darah.Fungsi jantung ini
sebagai pemompa darah untuk dialirkan atau disirkulasikan ke seluruh tubuh
melalui pembuluh darah (vessel).Jantung berkontraksi atau berdenyut secara
berirama akibat potensial aksi yang ditimbulkan sendiri, suatu sifat yang
dikenal dengan otoritmisitas.Terdapat dua jenis khusus sel otot jantung yaitu
99% sel otot jantung kontraktil yang melakukan kerja mekanis, yaitu memompa.Sel
– sel pekerja ini dalam keadaan normal tidak menghasilkan sendiri potensial
aksi.Sebaliknya, sebagian kecil sel sisanya adalah sel otoritmik tidak
berkontraksi tetapi mengkhususkan diri mencetuskan dan menghantarkan potensial
aksi yang bertanggungjawab untuk kontraksi sel – sel pekerja.Kontraksi otot
jantung dimulai dengan adanya aksi potensial pada sel otoritmik.
Jantung
merupakan organ muscular berongga, bentuknya menyerupai pyramid atau jantung
pisang yang merupakan pusat sirkulasi darah ke seluruh tubuh, terletak dalam
rongga toraks pada bagian mediastinum. Ujung jantung mengarah kebawah, ke depan
bagian kiri: Basis jantung terdapat aorta batang nadai paru pembuluh balik atas
dan bawah dan pembuluh paru. Jantung difiksasi pada tempatnya
agar tidak mudah berpindah tempat. Penyokong jantung utama adalah paru yang
menekan jantung dari samping diafragma menyokong dari bawah, pembuluh darah
besar yang keluar dan masuk jantung sehingga jantung tidak mudah berpindah.
Siklus
jantung merupakan peristiwa yang terjadi pada jantung berawal dari permulaan
sebuah denyut jantung sampai berakhirnya denyut jantung berikutnya disebut
siklus jantung (cardiac cycle). Setiap siklus dimulai oleh pembentukan
potensial aksi yang spontan di dalam nodus sinus (sinoatrioventricular node/ SA
node). Nodus ini terletak pada dinding lateral superior atrium kanan dekat
tempat masuk vena cava superior, dan potensial aksi menjalar dengan cepat
sekali melalui kedua atrium dan kemudian melalui berkas A-V ke ventrikel karena
ada pengaturan khusus sistem konduksi dari atrium menuju ke ventrikel,
ditemukan keterlambatan selama lebih dari 1/10 detik sewaktu impuls jantung
dihantarkan dari atrium ke ventrikel. Keadaan ini menyebabkan atrium akan
berkontraksi mendahului ventrikel, sehingga akan memompakan darah ke dalam
ventrikel sebelum kontraksi ventrikel yang kuat. Atrium bekerja sebagai pompa
primer bagi ventrikel, dan ventrikel selanjutnya akan menyediakan sumber
kekuatan yang utama untuk memompakan darah ke sistem pembuluh darah.Hal ini
sejalan dengan pendapat Rikayasa(2006) yang menyatakan bahwa
siklus jantung adalah periode dimulainya satu denyutan jantung dan awal dari
denyutan selanjutnya. Siklus jantung terdiri dari periode sistol dan diastol.
Sistol adalah periode kontraksi dari
ventrikel, dimana darah akan dikeluarkan dari jantung.Hal ini sejalan dengan
pendapat Sherwood(2002) yang menyatakan bahwa tekanan sistolik adalah tekanan darah
pada saat terjadi kontraksi otot jantung. Istilah ini secara khusus digunakan
untuk merujuk pada tekanan arterial maksimum saat terjadi kontraksi pada lobus
ventrikular kiri dari jantung. Rentang waktu terjadinya kontraksi disebut
systole Pada format penulisan angka tekanan darah, umumnya, tekanan sistolik
merupakan angka pertama. Sebagai contoh, tekanan darah pada angka 120/80
menunjukkan tekanan sistolik pada nilai 120 mmHg.
Diastol
adalah periode relaksasi dari ventrikel, dimana terjadi pengisian
darah.Diastol dapat dibagi menjadi dua
proses yaitu relaksasi isovolumetrik dan
ventricular filling. Pada relaksasi
isovolumetrik terjadi ventrikel
yang mulai relaksaasi, katup semilunar dan katup atrioventrikularis tertutup
dan volume ventrikel tetap tidak berubah. Pada ventricular filling dimana
tekanan dari atrium lebih tinggi dari tekanan di ventrikel, katup mitral dan
katup trikuspid akan terbuka sehingga ventrikel akan terisi 80% dan akan
mencapai 100 % jika atrium berkontraksi.Hal ini sejalan dengan pendapat Sherwood
(2002) yang menyatakan bahwa tekanan diastolik adalah tekanan darah pada saat
jantung tidak sedang berkonstraksi atau beristirahat. Pada kurva denyut
jantung, tekanan diastolik adalah tekanan darah yang digambarkan pada rentang
di antara grafik denyut jantung.
Pada
tiap siklus jantung terjadi systole dan diastole secara berurutan dan teratur
dengan adanya katup jantung yang terbuka dan tertutup.Pada saat itu jantung
dapat bekerja sebagai suatu pompa sehingga darah dapat beredar ke seluruh
tubuh.Selama satu siklus kerja jantung terjadi perubahan tekanan di dalam
rongga jantung sehingga terdapat perbedaan tekanan.Perbedaan ini menyebabkan
darah mengalir dari rongga yang tekanannya leDalam keadaan normal darah
mengalir terus dari vena-vena besar ke dalam atrium.Kira-kira 70% aliran ini
langsung mengalir dari atrium ke ventrikel walaupun atrium belum berkontraksi.Kontraksi
atrium mengadakan pengisian tambahan 30% karena atrium berfungsi hanya sebagai
pompa primer yang meningkatkan efektivitas ventrikel sebagai pompa.Kira-kira
30% tambahan efektivitas, jantung terus dapat bekerja dengan sangat memuaskan
dalam keadaan istirahat normalbih tinggi ke tekanan yang lebih rendah.
Selama
systole ventrikel, sejumlah darah tertimbun dalam atrium karena katub atrium ke
ventrikel tertutup. Tepat setelah sistolik berakhir tekanan ventrikel turun
kembali sampai ke tekanan diastolic yang
rendah. Tekanan pada atrium yang tinggi dengan segera mendorong katub antara
atrium dan ventrikel membuka dan memungkinkan darah mengalir dengan cepat ke
dalam ventrikel.Ini dinamakan periode pengisian cepat ventrikel.Periode
pengisia berlangsung kira-kira 1/3 pertama diastolic.Selama 1/3 tengah
diastolic darah sedikit mengalir ke ventrikel.Darah yangterus masuk ke dalam
atrium dari vena-vena dan berjalan melalui atrium langsung ke ventrikel. Bila
kontraksi ventrikel mulai, tekanan ventrikel meningkat dengan cepat,
menyebabkan katub atrium dan ventrikel menutup. Diperlukan penambahan 0,02-0,03
detik bagi ventrikel untuk meningkatkan tekanan yang cukup untuk mendorong
katup-katup semilunaris aorta dan semilunaris arteri pulmonalis, membuka melawan
tekanan dalam aorta dan arteri pulmonalis. Selama periode ini terjadi kontraksi
pada ventrikel tetapi tidak terjadi pengosongan.Periode ini dinamakan periode
kontraksi sistemik.
Selama
¼ terakhir diastole ventrikel hampir tidak ada aliran darah dari vetrikel masuk
ke arteri besar walaupun otot ventrikel tetap berkontraksi.
Pada
akhir systole relaksasi ventrikel mulai dengan tiba-tiba, mungkin tekanan dalam
ventrikel turun dengan cepat. Peningkatan tekanan dalam arteri besar tiba-tiba
mendorong darah kembali kea rah ventrikel, menimbulkan bunyi penutupan katup
aorta dan pulmonal dengan keras selama 0,03-0,06 detik. Selanjutnya otot
ventrikel relaksasi dan tekanan dalam ventrikel turun dengan cepat kembali ke
tekanan diastole yang sangat rendah.Katup atrium dan ventrikel membuka
mengawali siklus pompa ventrikel yang baru.
Selama
diastole, pengisian ventrikel dalam keadaan normal meningkatkan volume setiap
ventrikel sekitar 120-130 ml. Volume ini dinamakan volume akhir diastolic.Pada
waktu ventrikel kosong selama systole, volume berkurang kira-kira 70 ml,
dinamakan isi sekuncup.Volume yang tersisa dalam tiap-tiap ventrikel sekitar
50-60 ml dinamakan volume akhir sistolik.
Katup
trikuspidalis dan katup bikuspidalis mencegah pengaliran balik darah dari
ventrikel ke atrium selama systole.Katup semilunaris aorta dan katup
semilunaris arteri pulmonalis mencegah alirab balik dari aorta dan arteri
pulmonalis ke dalam ventrikel selama periode diastole. Semua katup ini membuka
dan menutup secara pasif yaitu akan menutup bila selisih tekanan yang membalik
mendorong darah kembali dan membuka bila selisih tekanan ke depan mendorong
darah kearah depan.
Seseorang
yang seang istirahat jantungnya memompakan darah 4-6 liter/menit, Dalam keadaan
kerja berat mungkin diperlukan pemompaan darah sebanyak 5 kali dari jumlah
tersebut. Dua cara dasar pengaturan kerja pemompaan jantung.
Pembuluh
darah adalah prasarana jalan bagi aliran darah ke seluruh tubuh.Saluran darah
ini merupakan system tertutup dan jantung sebagai pemompa darah.Fungsi pembuluh
darah adalah mengangkut (transportasi) darah dari jantung ke seluruh bagian
tubuh dan mengangkut kembali darah yang sudah dipakai kembali ke jantung.Fungsi
ini disebut sirkulasi darah.Selain darah itu juga darah mengangkut gas-gas, zat
makanan, sisa metabolisme, hormone, antibodi, dan keseimbangan elektrolit.
Klasifikasi
pembuluh darah dibagi menjadi 5 jenis yaitu:
1.Arteri:dindingnya kuat, tebal dan elastis yang terdiri dari Tunika intima dalam berhubungan dengan darah terdiri darijaringan endotel,tunika Media, lap. tengah tdd jar. otot polos bersifat elastis,tunika eksterna / adventisia, lap luar tdd jar ikat berguna menguatkan arteri,tunika intima diperdarahi oleh darah yg mengalir di pembuluh darah, tunika media dan adventisia diperdarahi oleh vasa vasorum.Dipersarafi oleh saraf otonom : vasomotor : vasokontriktor dan vasodilator. sehingga dapat berkontriksi atau berdilatasi.
2.Arteriola:dindingnya tdd otot polos dan sedikit serabut elastis,tunika adventisia tipis,dapat berkontraksi dan berdilatasi,berperan dlm mempertahankan tekanan darah.
3.Kapiler: dinding hanya terdiri satu lapis sel yaitu tunika intima
Fungsi :Penghubung arteri dan vena,tempat pertukaran zat,menyerap zat makanan (pada usus)menyaring darah/filtrasi (pada ginjal)
1.Arteri:dindingnya kuat, tebal dan elastis yang terdiri dari Tunika intima dalam berhubungan dengan darah terdiri darijaringan endotel,tunika Media, lap. tengah tdd jar. otot polos bersifat elastis,tunika eksterna / adventisia, lap luar tdd jar ikat berguna menguatkan arteri,tunika intima diperdarahi oleh darah yg mengalir di pembuluh darah, tunika media dan adventisia diperdarahi oleh vasa vasorum.Dipersarafi oleh saraf otonom : vasomotor : vasokontriktor dan vasodilator. sehingga dapat berkontriksi atau berdilatasi.
2.Arteriola:dindingnya tdd otot polos dan sedikit serabut elastis,tunika adventisia tipis,dapat berkontraksi dan berdilatasi,berperan dlm mempertahankan tekanan darah.
3.Kapiler: dinding hanya terdiri satu lapis sel yaitu tunika intima
Fungsi :Penghubung arteri dan vena,tempat pertukaran zat,menyerap zat makanan (pada usus)menyaring darah/filtrasi (pada ginjal)
4.Venula:berfungsi
sebagai saluran pengumpul,dindingnya lemah tetapi peka
pada pertemuan antara kapiler dan venula terdapat sfingter postkapiler.
5.Vena:membawa darah ke jantung,dinding terdiri atas 3 lapisan seperti arteri tetapi lebih tipis,sifatnya dibandingkan dengan arteri:vena kurang elastis,mempunyai katup,lebih cepat kolap.Fisiologi otot jantung struktur dinding jantung terdiri atas 3 lapisan :a). Epikardium, lapisan terluar strukturnya sama dengan pericardium visceral,b).Miokardium, lapisan tengah terdiri dari otot menentukan kekuatan kontraksi,c).Endokardium lapisan terdalam terdiri dari jaringan endotel juga menutupi katup-katup jantung,Perikardium (pembungkus luar jantung) terdiri atas lapisan Parietal yaitu lapisan fibrous bagian luar. Dan Lapisan visceral yaitu membran serous bagian dalam melekat pada jantung. Diantara lapisan tersebut terdapat cairan serus sebagai lubrication.
pada pertemuan antara kapiler dan venula terdapat sfingter postkapiler.
5.Vena:membawa darah ke jantung,dinding terdiri atas 3 lapisan seperti arteri tetapi lebih tipis,sifatnya dibandingkan dengan arteri:vena kurang elastis,mempunyai katup,lebih cepat kolap.Fisiologi otot jantung struktur dinding jantung terdiri atas 3 lapisan :a). Epikardium, lapisan terluar strukturnya sama dengan pericardium visceral,b).Miokardium, lapisan tengah terdiri dari otot menentukan kekuatan kontraksi,c).Endokardium lapisan terdalam terdiri dari jaringan endotel juga menutupi katup-katup jantung,Perikardium (pembungkus luar jantung) terdiri atas lapisan Parietal yaitu lapisan fibrous bagian luar. Dan Lapisan visceral yaitu membran serous bagian dalam melekat pada jantung. Diantara lapisan tersebut terdapat cairan serus sebagai lubrication.
Pembuluh
darah terdiri atas arteri dan vena.Arteri berhubungan langsung dengan vena pada
bagian kapiler dan venula yang dihubungkan oleh bagianendotheliumnya.Arteri dan
vena terletak bersebelahan.Dinding arteri lebih tebal dari pada dinding
vena.Dinding arteri dan vena mempunyai tiga lapisan yaitu lapisan bagian dalam
yang terdiri dari endothelium, lapisan tengah yang terdiri atas otot polos
dengan serat elastis dan lapisan paling luar yang terdiri atas jaringan ikat
ditambah dengan serat elastis.Cabang terkecil dari arteri dan vena disebut
kapiler.Pembuluh kapiler memiliki diameter yang sangat kecil dan hanya memiliki
satu lapisan tunggalendothelium dan sebuah memb Pembuluh darah terbagi atas
Pembuluh darah arteri yang berperan sebagai tempat mengalir darah yang dipompa
dari bilik merupakan pembuluh yang liat dan elastis,tekanan pembuluh lebih kuat
dari pada pembuluh balik,memiliki sebuah katup (valvula semilunaris) yang
berada tepat di luar jantung.Aorta yaitu pembuluh dari bilik kiri menuju ke
seluruh tubuh, arteriol yaitu percabangan arteri, kapiler :(1)
Diameter lebih kecil dibandingkan arteri dan vena,(2) Dindingnya terdiri atas sebuah lapisan
tunggal endothelium dan sebuah membran basal.Pembuluh Balik (Vena) terletak di dekat permukaan kulit sehingga
mudah di kenali dan inding pembuluh lebih tipis dan tidak elastis,ekanan pembuluh
lebih lemah di bandingkan pembuluh nadi,terdapat katup yang berbentuk seperti
bulan sabit (valvula semi lunaris) dan menjaga agar darah tak berbalik
arah.terdiri dari :Vena cava superior yang bertugas membawa darah dari bagian
atas tubuh menuju serambi kanan jantung,Vena cava inferior yang bertugas
membawa darah dari bagian bawah tubuh ke serambi kanan jantung serta vena cava
pulmonalis yang bertugas membawa darah dari paru-paru ke serambi kiri
jantung.ran basal.
4.2.1
Pemeriksaan Tekanan Darah
Tekanan
di dalam pembuluh darah dipengaruhi oleh tahanan pembuluh-pembuluh darah dan
aliran darah.Pada saat sistolik,darah menekan kesegala arah sepanjang pembuluh
darah yang menyebabkan pembuluh elastis yang mengembang.Pada saat
diastole,pembuluh ini akan menyempit kembali sehingga menyebabkan darah
terdorong maju.Dengan demikian aliran darah tetap ada baik selama jantung
berkontraksi(sistole) maupun selama relaksasi(diastole). Pernyataan ini sesuai
dengan pendapat Rikayasa (2006 )yang menyatakan bahwa pada pemeriksaan tekanan
darah akan didapat dua angka. Angka yang lebih tinggi diperoleh pada saat
jantung berkontraksi (sistolik), angka yang lebih rendah diperoleh pada saat
jantung berelaksasi (diastolik). Hal ini sejalan dengan pendapat
frandson (2001) bahwa Tiap kontraksi sistolis dai ventrikel kiri mendorong
lebih banyak darah ke dalam arteri dan anteriol yang telah terisi darah dari
tekanan distolik. Darah tambahan pada setiap systole akan lebih memekarkan
arteri. Gelombang tekanan sistolik yang bermula dari jantung dan menyebar ke
seluruh jaringan atorial disebut pulsa atau gelombang pulsa. Gelombang ini
dapat dirasakan dalam arteri di dekat permukaan badan, terutama apabila arteri
dapat ditekan ke arah tulang yang terdekat di dekatnya ataupun ke arah struktur
lain yang padat.Tekanan darah kurang dari 120/80 mmHg
didefinisikan sebagai "normal".Pada tekanan darah tinggi, biasanya
terjadi kenaikan tekanan sistolik dan diastolik.Hipertensi biasanya terjadi
pada tekanan darah 140/90 mmHg atau ke atas, diukur di kedua lengan tiga kali
dalam jangka beberapa minggu.
Penentuan
tekanan darah merupakan salah satu yang
sangat penting untuk keperluan klinik.Melalui tekanan darah dapat di ketahui
fisiologi kardiovaskuler.Tekanan darah dapat di ukur dengan metode tidak
langsung dilakukan dengan cara pengukuran tekanan arteri dari luar dengan
mendengarkan denyut arteri(menggunakan stetoskop).Cara ini disebut juga metode
auscultatory.Prinsip dari metode ini adalah apabila arteri di tekan keluar dengan tekanan yang melebihi tekanan darah lateral,maka pembuluh darah arteri
tersebut akan terjepit dan menutup akibatnya aliran darah akan terhenti.Apabila
tekana dari luar dikurangi pada saat tekanan menjadi lebih rendah dari tekanan
latera,maka pembuluh darah akan membuka
serta mengalirkan daarah dalam waktu yang pendek pada puncak tekanan
sistole.Jika tekanan luar makin di kurangi maka pembukaan dan pengaliran darah
waktunya sama dengan siklus jantung.Pada saat tekanan luar mulai lebih rendah
dari tekanan lateral sewaktu jantung dalam keadaan diastole,maka aliran darah
kontinyu sepanjang seluruh siklus jantung.
Gambar
. Stetoskop
Gambar
27. Sphygmomanometer
4.2.2
Bunyi Jantung
Bunyi
jantung dapat kita mendengar bunyi jantung normal,yang biasanya dideskripsikan
sebagai 'lub,dub,lub,dub..' Bunyi 'lub' dikaitkan dgn penutupan katup
atrioventrikular (A-V) pd permulaan sistol,dan bunyi 'dub' dikaitkan dgn
penutupan katup semilunaris (aorta dan pulmonaris) pada akhir sistol. Bunyi
‘lub’ disebut bunyi jantung pertama dan ‘dub’ sebagai bunyi jantung
kedua,karena siklus normal jantung dianggap dimulai pada permulaan sistol
ketika katup A-V menutup.Pernyataan ini sesuai pendapat Sarkayasa ( 2008 ) yang
menyatakan bahwa bunyi jantung kedua secara normal memiliki frekuensi lebih
tinggi daripada bunyi jantung pertama pada saat melakukan pernapasan yang
berlangsung tanpa kita sadari. Ketegangan katup semilunaris jauh lebih besar
daripada katup A-V.2. Koefisien elastisitas arteri lebih besar sehingga ruang2
utama jantung bergetar selama bunyi kedua bila dibandingkan dgn ruang ventrikel
yang jauh lebih longgar saat menimbulkan sistem getaran pada bunyi jantung
pertama.
4.2.3
Test Kemampuan Fisik
Salah
satu indikator kesehatan jantung adalah terjadinya peningkatan denyut nadi pada
saat beristirahat. Waktu yang tepat untuk mengecek denyut nadi adalah saat kita
bangun pagi dan sebelum melakukan aktivitas apapun.Pada saat itu kita masih
relaks dan tubuh masih terbebas dari zat-zat pengganggu seperti nikotin dan
kafein.Kita dapat mengecek sendiri dengan merasakan denyut nadi kita di bagian
tubuh tertentu. Test Scheneider merupakan test kemampuan fisik klasik yang
digunakan sejak tahun 1920 untuk menguji status kesehatan seseorang atau
efisiensi sirkulasi darahnya.
Kemampuan
fisik(physichal fitness) adalah kesanggupan atau ketahanan seseorang untuk
melakukan kerja otot dengan memuaskan dibawah kondisi khusus.Kemampuan fisik
seseorang sangat bergantung pada komponen-komponen dari sistemtransport
oksigen,pernafasan,kardiovaskuler,otot,dan sistem enzim didalam tubuh.Selain
itu,kemampuan fisik seseorang kuga ditentukan oleh genetik,komsumsi makanan
sehari-hari,latihan –latihan yang dilakukan dan faktor-faktor lain.Kondisi
fisik ini dapat diperbaiki dengan latihan-latihan tertentu.Penentuan kemampuan
fisik seseorang dapat dilakukan dengan melakukan pemeriksaan faali alat
pernafasan,faali jantung(frekuensi nadi dan tekanan darah),kemampuan kerja
otot,kerja yang dihasilkan dan lain-lain.
Pada
orang yang sedang atau sesudah melakukan aktivitas olahraga,darah yang keluar
dari jantung (cardiac output=volume darah yang dipompakan oleh setiap ventrikel
per menit) meningkat dengan cepat,sehingga mengakibatkan frekuensi denyut
jantung meningkat.Sebagai akibat lebih lanjut adalah terjadinya peningkatan
tekanan darah karena tekanan darah
merupakan produk dari cardiac output.Pada sistem pernafasan,ventilasi
alveolar (pertukaran antara udara yang masuk ke paru-paru dengan alveoli) juga
meningkat yang diakibatkan oleh peningkatan tekanan CO2 dan O2 didalam
darah.
Untuk
mengetaui kemampuan fisik yang mengindikasikan status kesehatan seseorang dapat
dilakukan dengan test kemampua fisik untuk mengetahui kesanggupan jantung dan
paru-parunya dalam melakukan suatu kegiatan.Ada beberapa test kemampuan fisik
yaitu:maximum oxygen consuption(VO2 max),Pengiraan VO2max
(ml/kg/min)cara cooper,test dingin,test schneider,test harvard step,test ratio
tuttle pulsus.
4.2.3.a
Maximum Oxygen Consumption
Maximum
oxygen consumption (VO2 max) adalah pengambilan oksigen yang
tertinggi,yang dicapai oleh seseorang yang sehat pada waktu latihan otot
mencapai kelelahan yang yang maksimum dengan berjalan diatas treadmill atau
pada bentuk latihan yang melibatkan keaktifan dari sejumlah besar
otot.Pengambilan oksigen meksimum disebut juga aerobis capacity.
4.2.3.b
Pengiraan VO2max(ml/kg/min) cara cooper
Tabel
11.Tingkat kemampuan aerobic dan VO2max(ml/kg/min)
|
Kelompok Umur
|
Laki-laki
|
Wanita
|
||||||||
|
Sangat rendah
|
rendah
|
sedang
|
tinggi
|
Sangat tinggi
|
Sangat rendah
|
rendah
|
sedang
|
tinggi
|
Sangat tinggi
|
|
|
12-17
|
34
|
39
|
44
|
49
|
54
|
30
|
35
|
40
|
45
|
50
|
|
18-23
|
34
|
39
|
44
|
49
|
54
|
28
|
33
|
38
|
43
|
48
|
|
24-29
|
32
|
37
|
42
|
47
|
52
|
26
|
31
|
36
|
41
|
46
|
|
30-35
|
30
|
35
|
40
|
45
|
48
|
22
|
27
|
32
|
37
|
42
|
|
36-41
|
28
|
33
|
38
|
43
|
47
|
21
|
26
|
31
|
36
|
41
|
|
42-47
|
26
|
31
|
36
|
41
|
46
|
20
|
25
|
30
|
35
|
40
|
|
48-53
|
24
|
29
|
34
|
39
|
44
|
18
|
23
|
28
|
33
|
38
|
|
54-59
|
22
|
27
|
32
|
37
|
42
|
16
|
21
|
26
|
31
|
36
|
|
60 keatas
|
20
|
25
|
30
|
35
|
40
|
14
|
19
|
24
|
29
|
34
|
Tabel
12. Tingkat kemampuan aerobik untuk berlari
selama 12 menit dan VO2 max (ml/kg/menit)
|
Jarak (km)
|
VO2max(ml/kg/min)
|
Tingkat kemampuan (umur<40)
|
|
<1.61
|
<25.0
|
Sangat jelek
|
|
1.61-1.99
|
25.0-33.7
|
jelek
|
|
2.00-2.39
|
33.8-42.6
|
cukup
|
|
2.40-2.80
|
42.7-51.5
|
baik
|
|
2.81 atau lebih
|
51.6 atau lebih
|
Sangat baik
|
4.2.3.c
Test Scheneider
Test
ini merupakan test kemampuan fisik klasik yang digunakan sejak tahun 1920 untuk
menguji status kesehatan seseorang atau efisisensi sirkulasi darahnya.Interprestasi
skor schneider:
- 15 :sangat baik
- 12-14 :baik
- 9-11 :cukup
- <9 :buruk
Tabel
13.Test Schneider
|
Berdiri
|
Duduk
|
Berbaring
|
Berdiri satu kaki
|
Berdiri diatas kursi
|
|
90.1
|
78.5
|
70.2
|
86.5
|
80.1
|
Dari
tabel tersebut dapat diketahui bahwa semakin banyak aktivitas atau semkin berat
aktivitasnya,maka akan semakin tinggi pula frekuensi denyut nadinya artinya
frekuensi denyut nadi sangta di pengaruhi oleh aktivitas yang dilakukan.
4.2.3.d
Test Harvard Step
Ada
dua cara pelaksanaan test harvard step yaitu cara lambat dan cara cepat.Test
harvard step dapat dilakukan dengan menggunakan rumus atau menggunakan tabel
harvard.
1.Cara
lambat
Praktikan melalukan kegiatan naik
turun bangku dengan irama 30 kali dalam
1 menit(satu kali naik turun bangku 2 detik).Percobaan ini tidak boleh
lebih dari 5 menit(gunakan waktu maaksimal 5 menit).Sesudah latihan
ini,praktikan duduk dan denyut nadinya dihitung berturut-turut selama 30
detik,yaitu dari 1 menit sampai 3 menit lebih 30 detik.Selanjutnya kemampuan fisik praktikan
tersebut di hitung dengan menetapkan angka
indeks kemampuan fisik(AIK) dengan rumus sebagai berikut:
AIK=lama naik turun bangku(detik)x
100
2x(jumlah 3 bilangan nadi
terhitung)
Interprestasi
AIK adalah sebagai berikut:
- <55 :kemampuan kurang
- 55-64 :kemampuan sedang
- 65-79 :kemampuan cukup
- 80-89 :kemampuan baik
- >90 :kemampuan amat baik
Tabel
14. Hasil test harvard step cara lambat
|
Nama
|
Waktu
|
||
|
30 detik(1)
|
30 detik(2)
|
30 detik(3)
|
|
|
Rico Syaefudin
|
79
|
52
|
27
|
2.Cara
cepat
a.Dengan
menggunakan rumus
AIK=lamanya naik turun bangku
(detik)x100
5.5xnadi yang terhitung
pada 30 detik pertama
Caranya sama seperti pada cara
lambat hanya di tetapkan bilangan nadi terhitung satu kali saja yaitu selama 30
detik setelah percobaan selesai dari i menit sampai 1 menit 30 detik.
Tabel
15.Hasil test harvard step cara cepat
|
Nama
|
30 detik
|
|
Rico
|
80
|
Tabel
16.Hasil Test Harvard step
|
Kelompok
|
Nama
|
jumlah
|
1 menit
|
5 menit
|
total
|
|
7
|
Rico
|
79
|
52
|
27
|
158
|
|
8
|
Dicky
|
56
|
56
|
50
|
160
|
|
9
|
Amin
|
60
|
64
|
53
|
197
|
|
10
|
Fadhol
|
90
|
63
|
34
|
209
|
|
11
|
Anugra
|
70
|
78
|
40
|
188
|
Tabel
17. Interprestasi
|
Nama
|
Interprestasi
|
|
Anugra
|
79.78(cukup baik)
|
|
Amin
|
75.56(cukup)
|
|
Dicky
|
93.75(amat baik)
|
|
Rico
|
94.93(amat baik)
|
|
Fadhol
|
71.77(cukup)
|
Pengaruh
frekuensi denyut jantung tiap orang berbeda.Ditentukan dari jenis
kelamin,umur,dan aktivitas yang dilakukan sehingga frekuensi denyut jantun
masing-masing individu berbeda dengan individu lain.Denyut jantung normal
ditandai dengan bunyi lup dub lup dub.Sistem organ yang lain aktivitas
jantung dalam melaksanakan tugasnya dipengaruhi oleh system saraf. Sistem ini
bekerja dengan kombinasi tertentu dan fungsional. Saraf ini misalnya efferens,
saraf cardial anhibitory dan saraf accelerate. Sedangkan kecepatan denyut
jantung dapat dipengaruhi oleh temperatur manusia tersebut, aktivitas tubuh,
letak geografis dan penyakit/strees,serta kondisi fisiknya.Hal ini sejalan
denganpendapat Duke(2000) yang menyatakan bahwa kecepatan deenyut jantung dapat
di pengarruhi oleh temperatur tubuh,aktivititas tubuh,letak heografis serta
penyakit dan stress.
BAB
V
PENUTUP
5.1
Kesimpulan
Dari
seluruh kegiatan hasil praktikum yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa
setiap aktivitas yang dilakukan didapat hasil praktikum yang sesuai dengan
petunjuk buku pedoman dan menggunakan waktu lama, ada juga kegiatan praktikum
yamg dilalui dengan menggunakan waktu yang relatif lebih cepat dari pada
kegiatan – kegiatan lain, dan terkadang ada juga dari kegiatan praktikum yang
dilakukan hasilnya gagal atau tidak sesuai dengan ketentuan buku pedoman
(diktat) maupun dari petunjuk dosen dan asisten dosen dimana setiap kegiatan
dilakukan dengan konsentrasi, ketelitian yang penuh dan ekstra hati- hati agar
praktikum tersebut berhasil.
Adapun
kesimpulan dari praktikum Anatomi dan Fisiologi ternak mengenai fisiologi darah
yaitu darah merupakan bagian yang penting bagi suatu makhluk hidup terutama
hewan dan manusia karena darah memiliki fungsi sebagai alat transportasi yaitu
pembawa zat-zat makanan dan oksigen ke seluruh sel di dalam tubuh, pembawa
karbondioksida dan zat sisa metabolisme atau zat yang berbahaya lainnya untuk
dibuang, mempertahankan lingkungan asam basa, mempertahankan homeostatis, serta
sebagai pertahanan tubuh dengan cara menghancurkan mikroorganisme (antigen)
melalui fagositosis dan aktivitas antibodi. Darah terdiri atas plasma darah
45-65% dan sel-sel darah 35-55%. Tiap bagian-bagian darah memiliki fungsinya
masing-masing.
Kesimpulan
dari praktikum Fisiologi Kardiovaskuler yaitu tekanan darah pada setiap orang
berbeda-beda dan kesanggupan jantung setelah melakukan suatu kegiatan dapat
dihitung dengan menggunakan rumus cepat dan lambatJantung sebaiknya dijaga
dengan cara menuju jantung sehat yang paling utama adalah dengan mengubah gaya hidup
( therapeutic lifestyle change).
5.2
Saran
Untuk
kedepan pada setiap kegiatan praktikum, sebaiknya segala sesuatu yang
berhubungan dengan yang akan dipraktikumkan dipersiapkan terlebih dahulu
seperti alat dan bahan yang akan dipraktikumkan, penguasaan materi sebelum
praktikum juga harus diperhatikan, harus lebih disiplin baik waktu maupun pada
saat bekerja dan pada saat praktikum hendaknya terlaksana dengan tertib dan
lebih kondusif serta semakin meningkatkan kerja sama kelompok agar lebih efektif
dan mencapai hasil yang maksimal.






0 komentar:
Posting Komentar