RSS

Pembahasan laporan semester Praktikum ANFISTER Oleh Mega Selfia Situmorang



BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Fisiologi Darah
   Darah berasal dari kata “haima”,bahasa yunani  yang berasal dari akar kata hemo atau hemato. Merupakan suatu cairan yang berada di dalam tubuh yang mengalir dalam arteri, kapiler dan vena; yang mengirimkan oksigen dan zat-zat gizi ke jaringan dan membawa karbon dioksida dan hasil limbah lainnya.
Darah adalah cairan yang terdapat pada semua makhluk hidup (kecuali tumbuhan) tingkat tinggi yang berfungsi mengirimkan zat-zat dan oksigen yang dibutuhkan oleh jaringan tubuh, mengangkut bahan-bahan kimia hasil metabolisme, dan juga sebagai pertahanan tubuh terhadap virus atau bakteri.. Darah memiliki warna merah yang berasal dari kandungan oksigen dan karbon dioksida di dalamnya. Adanya oksigen dalam darah diambil dengan jalan bernafas, dan zat ini sangat berguna pada peristiwa pembakaran/metabolisme di dalam tubuh.temperature 38°C, dan pH 7,37-7,45.
Darah manusia adalah cairan jaringan tubuh. Fungsi utamanya adalah mengangkut oksigen yang diperlukan oleh sel-sel di seluruh tubuh. Darah juga menyuplai jaringan tubuh dengan nutrisi, mengangkut zat-zat sisa metabolisme, dan mengandung berbagai bahan penyusun sistem imun yang bertujuan mempertahankan tubuh dari berbagai penyakit. Hormon-hormon dari sistem endokrin juga diedarkan melalui darah.
Darah berperanan penting dalam sistem sirkulasi. Sistem sirkulasi merupakan sistem transport yang mensuplai zat-zat yang diabsorpsi dari saluran pencernaan dan oksigen ke jaringan, mengembalikan karbondioksida ke paru-paru dan produk metabolisme lainnya ke ginjal, berfungsi dalam pengaturan temperature tubuh dan mendistribusikan hormon-hormon dan zat-zat lain yang mengatur fungsi sel.
Darah terdiri atas unsur seluler dan plasma. Unsur seluler terdiri atas: erythrocyte (RBC/SDM), leucocyte (WBC/SDP), trombocyte (platelets) dan kadang-kadang ada sel-sel campuran dari sistem reticuloendotelia. Plasma merupakan fraksi ekstraseluler terdiri atas: air, protein, elektrolit, glukosa, enzim-enzim dan hormon.Pada orang dewasa, erythrocyte, leucocyte dan trombosit dibentuk dalam sumsum tulang. Pada fetus, sel-sel darah juga dibentuk di dalam hati dan limpa.
Darah merupakan cairan tubuh yang bersirkulasi dan hampir semua organ menerima suplaidarah.Fungsi darah antara lain sebagai berikut:Berperanan dalam respirasi (transport oksigen dan karbondioksida),Transport bahan makanan, terutama absorbed food,Eksresi (kidney, lungs, skin dan intestine),Pengaturan suhu tubuh (melalui oksidasi C,H,O dan Lemak),Menjaga keseimbangan asam-basa (buffering capacity),Regulasi keseimbangan air,Pertahananan tubuh, Transport hormon,Penggumpalan darah (aksi thrombocytes),Transport bahan-bahan metabolit (supply of chemical).
Volume darah bervariasi tergantung pada umur, ukuran fisik, aktivitas fisik, kesehatan, makanan, status reproduksi (laktasi, bunting) dan faktor-faktor lingkungan. Pengaturan volume darah secara kontinyu diatur oleh:Water intake dan water loss,Konsentrasi ion Na,Keseimbangan antara volume plasma dan cairan dalam ruang jaringan,Perubahan dari masa sel merah yang disebabkan oleh aksi hormon erythropotin dalam sumsum tulang.Volume darah dari beberapa hewan dan persentase terhadap berat badan.Sifat Darah diantaranya: BD berkisar 1,046-1,052,tekanan osmotik: 28 mmHg,viskositas 1,7 pada suhu 37ºC,pH 7-7,8.
Antikoagulan pada pemeriksaan darah antara lain:
 1. EDTA (Ethylene Diamine Tetra Acetic Acid)
 Yang dipakai disini adalah garam kalium dan natriumnya, tetapi yang sering digunakan adalah garam kaliumnya (dipotassium EDTA) karena daya larutnya dalam air kira-kira 15 kali lebih besar daripada garam natriumnya. Cara kerjanya dengan garam kaliumnya (K2EDTA) yaitu dapat mengubah ion Calcium dari darah menjadi bentuk yang bukan ion membentuk senyawa kompleks yang larut berdasarkan pembentukan ikatan Chelate senyawa. Namun jenis Na2EDTA (Di-Natrium Ethylene Diamine Tetra Acetate dihydrate = Na2C10H13O8N2.2H2O) lebih murah dibandingkan K2EDTA ataupun K3EDTA. Antikoagulan K3EDTA kurang baik dalam penggunaanya karena memiliki pH lebih alkali sehingga berpengaruh terhadap pH darah. Sebaliknya Na2 NaEDTA juga kurang baik karena lambat larut sehingga perlu pengocokan beberapa kali. 2EDTA dan K2EDTA biasanya digunakan dalam bentuk kering, sedangkan K3EDTA biasanya digunakan dalam bentuk cair. Dari ketiga jenis EDTA tersebut.Keuntungan EDTA :adalah yang paling baik dan dianjurkan oleh ICSH (International Council for Standardization in Hematology) dan CLSI (Clinical and Laboratory Standards Institute). Tabung EDTA tersedia dalam bentuk tabung hampa udara (vacutainer tube) dengan tutup lavender (purple) atau pink seperti yang diproduksi oleh Becton Dickinson.Tidak berpengaruh terhadap besar dan bentuknya erithrosit dan leukosit,mencegah thrombosit menggumpal,dapat digunakan berbagai macam pemeriksaan hematologi.Kerugian :Lambat larut karena sering digunakan dalam bentuk kering sehingga harus menggoncang wadah yang berisi darah EDTA selama 1-2 menit.
2. Trisodium Citrate
Antikoagulan Natrium Sitrat (Na3C6H5O7.2H2O) sering digunakan dalam bentuk larutan dengan konsentrasi 3,8% dan 3,2%. Cara kerjanya sebagai bahan yang isotonik dengan darah dan mencegah pembekuan darah dengan cara mengikat ion Ca++ melalui gugus karboksilat dari senyawa ini membentuk ikatan kompleks khelasi larut. Sering digunakan beberapa macam pemeriksaan percobaan hemostasis dan LED metode Westergren. Pemeriksaan LED metode Westergren digunakan perbandingan 1 bagian Natrium Sitrat 3,8% dan 4 bagian darah. Untuk percobaan hemostasis menggunakan konsentrasi 3,2% dengan perbandingan 1 bagian Natrium Sitrat 3,2% : 9 bagian darah sesuai dengan NICCLS. Antikoagulan Natrium Sitrat 3,8% dan 3,2% tidak bisa lagi digunakan bila mengalami kekeruhan.Keuntungan :Antikoagulan ini karena tidak toksis maka sering digunakan dalam unit transfusi darah dalam bentuk ACD (Acid Citric Dextrose).Kerugian: Pemakaiannya terbatas dalam pemeriksaan hematologi.
3. Heparin
Antikoagulan ini merupakan asam mukopolisacharida yang bekerja dengan cara menghentikan pembentukan trombin dari prothrombin sehingga menghentikan pembentukan fibrin dari fibrinogen sehingga cara kerjanya berdaya seperti antitombin dan antitromboplastin. Heparin merupakan antikoagulan yang normal terdapat dalam tubuh tetapi dalam di laboratorium jarang dipakai pada pemeriksaan hematologi karena mahal. Untuk tiap 0,1 dan0,2 mg heparin dapat mencegah pembekuan 1 ml darah. Sering digunakan dalam penentuan PCV cara mikrokapiler yang bagian dalamnya dilapisi dengan heparin. Ada tiga macam heparin: ammonium heparin, lithium heparin dan sodium heparin. Dari ketiga macam heparin tersebut, lithium heparin paling banyak digunakan sebagai antikoagulan karena tidak mengganggu analisa beberapa macam ion elektrolit dalam darah.Kerugian :tidak boleh digunakan dalam pemeriksaan hapusan darah karena dapat terjadinya dasar biru kehitam-hitaman pada preparat bila dicat dengan wright stain harganya mahal.
4. Double Oxalat
Nama lainnya adalah anticoagulant dari Heller and Paul atau Balanced Oxalate Mixture. Dipakai dalam bentuk kering agar tidak mengencerkan darah yang diperiksa. Kalium oxalat menyebabkan erythrosit mengkerut sedangkan amonium oxalat menyebabkan erytrosit mengembang, campuran keduanya dengan perbandingan 3 : 2 maka terjadi keseimbangan tekanan osmotik eryhtrosit. Setiap 2 mg antikoagulant ini dapat mencegah pembekuan 1 ml darah.Keuntungan dapat digunakan dalam berbagai pemeriksaan hematologi.Kerugian :tidak dapat digunakan dalam pemeriksaan hapusan darah karena bahan ini toksis sehingga dapat menyebabkan perubahan-perubahan morfologi sel leukosit dan eryhtrosit.tidak boleh digunakan juga pada pemeriksaan osmotik fargility.
5. Natrium Oxalat
Natrium oksalat bekerja dengan cara mengikat kalsium membentuk kalsium oxalat. Penggunaannya 1 bagian oksalat + 9 bagian darah. Biasanya digunakan untuk pembuatan adsorb plasma dalam pemeriksaan hemostasis Antikoagulan jenis ini sudah jarang digunakan karena selain tidak luas pemakaian, juga menyebabkan perubahan morfologi pada sel darah bila terlalu lama dibiarkan. Antikoagulan ini memiliki kemiripan sifat dengan double oxalate Dalam kondisi darurat dapat digunakan sebagai antikoagulan.
6. NaF dan Kalium Oxalat
Antikoagulan ini sebenarnya dikhususkan untuk pemeriksaan glukosa darah, namun masih dapat digunakan untuk pemeriksaan hematologi. Antikoagulan ini biasanya tersedia dalam tabung vakum yang diproduksi pabrikan. Kalium oksalat berfungsi sebagai antikoagulan dan NaF berfungsi sebagai antiglikolisis dengan cara menghambat kerja enzim Phosphoenol pyruvate dan urease sehingga kadar glukosa darah stabil.
4.1.1 Preparat Natif Darah
Darah adalah jaringan cair yang terdiri atas dua bagian yaitu plasma darah dan  sel darah. Sel darah terdiri dari tiga jenis yaitu trombosit, leukosit, dan eritrosit (Evelyn, 2006). Darah merupakan jaringan tubuh yang terdiri dari bagian cair (plasma) dan bahan-bahan interseluler. Plasma darah dan sel-sel darah dapat terpisah dan bebas bergerak dalam cairan interseluler. Cairan ekstrasel dalam darah mensuplay sel-sel dengan nutrisi dan zat-zat lain yang diperlukan untuk fungsi selular, tetapi sebelum digunakan zat ini harus ditransfort melalui membrane sel dengan dua proses utama yaitu difusi dan osmosis serta transfor aktif. Dinding sel eritrosit sangat permeable terhadap sifat apapun. Darah mempunyai beberapa fungsi yang penting untuk tubuh. Darah mengangkut zat-zat makanan dari alat pencernaan ke jaringan tubuh, hasil limbah metabolisme dari jaringan tubuh ke ginjal, dan hormon dari kelenjar endokrin ke target organ tubuh (Sonjaya, 2005).
Darah merupakan cairan dengan volume yang berbeda-beda tergantung pada jenis kelamin, ukuran tubuh, dan umur setiap orang atau individu. Jumlah darah dalam tubuh bervariasi tergantung pada berat tubuh seseorang. Pada orang dewasa 1/13 berat badan kira-kira 4-5 liternya adalah darah. Faktor lain yang juga menentukan banyaknya darah adalah umur, pekerjaan, keadaan jantung dan pembuluh darah. Total sirkulasi dari volume darah diperkirakan sekitar 5 s/d 8% dari total bobot badan dan angka ini bervariasi menurut umur, spesies, besar tubuh, aktivitas, status kesehatan, status gizi dan kondisi fisiologi (bunting dan laktasi).(Syarifuddin, 2002).
Darah adalah cairan yang terdapat pada semua hewan tingkat tinggi yang berfungsi mengirimkan zat-zat oksigen yang dibutuhkan oleh jaringan tubuh, mengangkut bahan-bahan metabolisme dan juga sebagai pertahanan tubuh terhadap virus atau bakteri. Darah di dalam pembuluh darah, cairan interstitial disekitar sel, dan cairan limfe di dalam pembuluh limfe menyusun lingkungan dalam dari makhluk hidup. Darah juga berpartisipasi dalam pengaturan kondisi asam-basa, keseimbangan elektrolit dan temperature tubuh, dan sebagai pertahanan suatu organisma terhadap penyakit. Semuanya adalah fungsi yang berhubungan dengan pemeliharaan lingkungan internal yang konstan (Siregar, 2000).
Pada preparat natif,biasanya terlihat bentuk(formasi) eritrosit yang saling berlekatan membentuk deretan seperti uang logam yang di dertekan.Formasi seperti ini disebut roleaux.Selain itu,juga terlihat adannya mikroorganisme di dalam darah,misalnya larva cacing Dirofilaria imitis(pada anjing),parasit darah seperti trypanosoma,babesia,theileiria,malaria dan lain-lain apabila diantara sel darah apabila di infeksi.
            Gambar 1.Sel darah merah unggas
            Gambar 2.Sel darah mamalia


            Gambar 3.Eritrosit yang krenasi


            Gambar 4.Bentuk Roleaux
            Adapun bentuk sel darah merah pada sapi yaitu berbentuk bulat kecil dan halus serta menyebar di seluruh objek glass.Bentuk sel darah merah sapi tampak seperti gelembung-gelembung yang tersusun rapat yang tidah berinti.Untuk sel darah merah kambing terlihat bulat-bulatan yang menyebardi cover glass sedangkan trombosit dan granulositnya bentuknya tidak beraturan dan tidak berinti.Sedangkan untuk sel darah merah ayam tampak jelas trombosit,granulosit dan eritrosit nya dan membentuk roleaux membentuk deretan logam. Sel darah merah (eritrosit) mamalia mempunyai bentuk cakram, bikonkaf, sirkular dan tidak berinti. Sel darah unggas berbrntuk lonjong (oval) dan berinti. Pada preparat natif darah, biasanya terlihat bentuk (formasi) eritrosit yang saling berlekatan membentuk deretan seperti uang logam yang dideretkan. Formasi ii disebut rouleaux. Selainj itu juga terlihat/ ditemukan adanya mikroorganisme di dalam darah diantara sel-sel darah apabila terinfeksi.
            Dari hasil pengamatan terlihat adanya komponen- komponen darah yang terdiri atas eritrosit, leukosit, dan trombosit yang tersebar dalam plasma darah.  Hal ini sesuai dengan pendapat Sonjaya (2013), bahwa komponen selluler dari darah termasuk sel darah merah (eritrosit), sel darah putih (leukosit), dan keping-keping darah (trombosit). Hal ini juga sesuai dengan pendapat Frandson (2001), yang menyatakan bahwa elemen-elemen darah yang memiliki bentuk meliputi sel-sel darah merah (eritrosit), sel-sel darah putih (leukosit), dan keping-keping darah (platelet).Sel darah putih terlihat sangat berbeda dengan sel darah merah ini disebabkan karena sel darah putih memiliki inti sel.  Hal ini sesuai dengan pendapat Sonjaya (2013), bahwa perbedaan leukosit dan eritrosit adalah leukosit selalu mempunyai inti sel dan sitoplasma serta mampu bergerak bebas.Keping-keping darah (trombosit) merupakan sel darah yang paling kecil dari kedua sel darah yang lain letaknya tidak teratur atau tersebar.  Hal ini sesuai dengan pendapat Sonjaya (2013), bahwa trombosit merupakan fragmen sel yang berdiameter 2-4µ, dibentuk dalam sumsum tulang dan limpa dan mempunyai masa hidup 8-10 hari.
4.1.2 Waktu Perdarahan
Penentuan waktu perdarahan terutama untuk menilai faktor-faktor homeotasis yang letaknya ekstravaskuler tetapi keadaan dinding kapiler dan jumlah trombosit juga berpengaruh.Waktu perdarahan normal sekitar 1-6 menit.Apabila perdarahan terus berlanjut lebih dari 10 menit menunjukkan adanya kelainan dalam mekanisme homeostasis.Hal ini sejalan dengan pendapat Guyton,(2000) yang menyatakan bahwa pendarahan yang normal adalah 1-6 menit,dan waktu penjedalan darah 5-8 menit.waktu pendarahan dapat diartikan sebagai waktu yang diperlukan dari darah keluar sampai berhenti.sedangkan sewaktu penjedalan darah adalah waktu yang diperlukan dari darah keluar sampai terjadinya benang-benang fibrin pada tetesan darah,apabila darah keluar dengan waktu yang tidak normal maka darah tersebut rusak atau mengalami kelainan (tercampur bahan lain). Waktu perdarahan dapat diartikan sebagai waktu yang diperlukan dari darah keluar sampai berhenti. Pada percobaan waktu perdarahan praktikan yang diamati yaitu abednego berusia 18 tahun dan dalam kondisi sehat setelah jari abed ditusuk menggunakan lanset steril dari awal mulai darah keluar pada luka hingga darah berhenti keluar yaitu 30 detik. Pada hasil kelompok B4 didapat hasil waktu perdarahan yaitu selama 34 detik dan hasil kelompok B3 lama waktu perdarahan yaitu 18 detik.




Tabel 1.Waktu Perdarahan
No
Kelompok
Nama
Waktu Perdarahan
Waktu Pembekuan
1
7
Mualip
Sri Wahyuni
13 detik
15 detik
20 detik
22detik
2
8
Frengky
Merry
21 detik
16 detik
18 detik
1.29 menit
3
9
Riski
Firda
1 menit 25 detik
1 menit 28 detik
1        menit 10 detik
32 detik
4
10
Fadhol
Suhartini
23 detik
19 detik
20 dtik
1.41 menit
5
11
Anugra
Fitria
1.25 menit
1.30 menit
1.15 menit
2.10 menit
            Dari tabel tersebut dapat di ketahui bahwa waktuperdarahan setipa orang berbeda.Hal ini dikarenakan mulai timbul sampai berhentinya darah adalah berbeda.Hal ini dapat disebabkan beberapa hal misalnya faktor usia,jenis kelamin,stress suhu badan dan status kesehatannya.Misalnya jika status kesehatan seseorang baik maka waktu darah untuk berhenti akan cepat artinya antikoagulan pada darahnya masih berfungsi dengan baik.Dan apabila darah sukar membeku artinya ada gangguan pada sistem homeostasis orang tersebut.
4.1.3 Waktu Beku Darah
Waktu beku darah biasa disebut dengan waktu koagulasi darah. Waktu antara darah masuk sampai terjadi penggumpalan adalah waktu koagulasi rata-rata 4 – 5 menit (Wibowo, Pada darah manusia terjadi pembekuan (terbentuk benang putih) karena darah tidak dibri antikoagulan. Sedangkan darah sapi, kambing , dan ayam tidak terjadi pembekuan karena darah – darah tersebut diberi antikoagulan.
Koagulasi atau pembekuan darah merupakan salah satu faktor penting dalam menghentikan suatu pendarahan.Didalam tubuh terdapat 2 mekanisme pembekuan darah yaitu secara intrinsik dan ekstrinsik.Mekanisme intrinsik artinya berupa serangkaian enzimatik yang diawali apabila darah bersentuhan dengan permukaaan asing.Semua permukaan selain lapisan endotel pada dinding pembuluh darah adalah “asing” terhadap protein koagulasi dan sel-sel darah merah.Jadi kerusakan pada dinding pembuluh darah atau terkena udara dapat merangsang proses pembekuan.Sekali proses pembekuan dimulai,serangkaian reaksi yang terjadi  dan mencapai puncaknya dengan terbentuknya thrombin dan benabg-benang fibrin.
Mekanisme ekstrinsik merupakan serangkaian reaksi yang terjadi apabila kerusakan pembuluh darah cukup parah,sehingga jaringan sekitar terkena dan berakibat pada keluarnya cairan  dan jaringan yang mengandung lipoprotein yang khas yaitu thromboplastin jaringan yang mengaktivasi faktor X secara langsung,melangkahi tahap-tahap awal dari mekanisme intrinsik dan memproduksi pembentukan fibrin lebih cepat dai mekanisme intrinsik.
4.1.4 Laju Endap Darah (LED)
Laju endap darah merupakan suatu pemeriksaan darah yang dapat membantu penentuan status kesehatan seekor hewan.LED ditentukan dengan mengukur jarak dalam mm yang di tempuh dalam satu satuan waktu tertentu oleh lapisan teratas yang berada di dalam tabung-tabung standar yang ditempatkan dalam posisi vertikal.Kecepatan pengendapan adarah setipap spesies hewan sangat bervariasi.LED dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor antra lain perubahan komposisi olasma darah (kekentalan/viskositas plasma),jumlah sel darah merah dan tegangan permukaan. Hal ini sejalan dengan pendapat Sacher. RA Barbara , (2004), Laju endap darah (LED) adalah sebuah pengukuran seberapa cepat sel-sel darah merah jatuh ke dasar sebuah tabung uji. Ketika pembengkakan dan peradangan hadir, protein darah mengumpul dan menjadi lebih berat dari biasanya. Jadi, ketika diukur, mereka mengendap dan berkumpul lebih cepat di bagian bawah dari tabung uji. Umumnya, semakin cepat sel-sel darah turun, lebih parah peradangan. LED adalah gambaran komposisi plasma dan perbandingan antara eritrosit dan plasma. Darah dengan antikoagulan yang dimakksudkan ke dalam tabung bervolume kecil dan diletakan tegak lurus selama 1 jam akan menunjukkan pengendapan eritrosit dengan kecepatan yang ditentukan oleh rasio permukaan perbandigan volume eritrosit.
Biasanya LED meningkat pada keadaan infeksi biasa yang akut,tumor yang ganas,kondisi radang,hypothyroidisme,kehamilan,hypercholesterolemia,dan anemia.Laju endap darah lebih rendah dari sampel darah yang lam 1-2 jam dan yang baru di kelu Pada praktikum ini menggunakan metode Wastergreen. (Riswanto, 2009) Metode yang digunakan untuk pemeriksaan LED ada dua, yaitu metode Wintrobe dan Westergreen. Hasil pemeriksaan LED dengan menggunakan kedua metode tersebut sebenarnya tidak seberapa selisihnya jika nilai LED masih dalam batas normal. Tetapi jika nilai LED meningkat, maka hasil pemeriksaan dengan metode Wintrobe kurang menyakinkan. Dengan metode Westergreen bisa didapat nilai yang lebih tinggi, hal itu disebabkan panjang pipet Westergreen yang dua kali panjang pipet Wintrobe. dikeluarkan dari lemari pendingin. Darah normal mempunyai LED relatif kecil karena pengendapan eritrosit akibat tarikan gravitasi di imbagi oleh tekanan keatas akibat perpindahan. Bila viskositas plasma tinggi atau kadar kolesterol meningkat tekanan keatas mungkin dapat menetralisasi tarikan kebawa terhadap setiap sel atau gumpalan sel. Sebaliknya setiap keadaan yang meningkatkan penggumpalan atau perletakan satu dengan yang lain akan meningkatkan LED Penentuan nilai LED secara umum telah digunakan dalam pengobatan klinik, menegakkan diagnosis, mengetahui penyakit secara dini dan memantau perjalanan penyakit seperti tuberkolosa dan reumati. Peningkatan kecepata pengendapan berhubungan langsung dengan beratnya penyakit.
Riswanto,( 2009) Metode yang digunakan untuk pemeriksaan LED ada dua, yaitu metode Wintrobe dan Westergreen. Hasil pemeriksaan LED dengan menggunakan kedua metode tersebut sebenarnya tidak seberapa selisihnya jika nilai LED masih dalam batas normal. Tetapi jika nilai LED meningkat, maka hasil pemeriksaan dengan metode Wintrobe kurang menyakinkan. Dengan metode Westergreen bisa didapat nilai yang lebih tinggi, hal itu disebabkan panjang pipet Westergreen yang dua kali panjang pipet Wintrobe. Kenyataan inilah yang menyebabkan para klinisi lebih menyukai metode Westergreen daribada metode Wintrobe. Selain itu, International Commitee for Standardization in Hematology (ICSH) merekomendasikan untuk menggunakan metode Westergreen.Tambayong J, (2000) LED adalah kecepatan eritrosit mengendap dalam pipet westergren. Pada peradangan, kecepatan meningkat, karena perubahan pada komponen plasma yang terjadi selama proses inflamasi. Protein plasma yang terlibat dalam peningkatan LED disebut protein fase akut, terutama dilepaskan oleh hati. LED khususnya digunakan untuk membantu aktivitas berbagai penyakit inflamasi.Widodo, (2004) Laju endap darah yang ditemukan pertama kali oleh Westergren pada tahun 1921. LED merupakan pemerikksaan yang menggambarkan komposisi plasma dan perbandingan antara eritrosit dengan plasma.
Widodo,  dkk, (2004) Prinsip dasar pemeriksaan LED adalah; darah dan antikoagulan dimasukkan ke dalam tabung dengan lubang ukuran tertentu (pada pipet LED) dan diletakan vertikal akan menyebabkan pengendapan eritrosit dengan kecepatan tertentu. LED merupakan kecepatan pengendapan dengan  mengukur jarak antara miniscus pemeriksaan LED. Beberapa faktor  yang mempengaruhi LED, yang dapat meningkatkan LED adalah usia tua, wanita, saat mensturasi, kehamilan, ukuran eritrosit (macrositosis), faktor teknis (masalah pengenceran, suhu ruangan/panas, kemiringan tabung LED) , peningkatan fibrinogen (pada beberapa kasus infeksi, inflamasi, dan keganasan). Faktor yang dapat menurunkan LED adalah lekositosis berat, polisitemia, speherositosis (acantositosis, micrositpsis ), faktor teknis (masala pengenceran, darah beku, tabung penden, getaran), abnormalitas protein (hipofibrinogenemia, hipogammaglobulinnemia, dispoteinemia). Faktor yang belum pasti mempengaruhi LED adalah obesitas, suhu badan, dan usai mengkomsumsi aspirin.
Gambar 5.Tabung Wastergreen dan raknya

Grafik 1.LED Darah Ayam
            Pada darah ayam,laju endap darah yang terbentuk yaitu semakin lama maka laju endap darah nya makin menurun.
Grafik 2. LED Darah Kambing
            Pada menit ke 30,darah berhenti pada batas 10.Setelah lebih dari 30 menit,darah tidak lagi melaju dikarenakan kurangnya antikoagulan dalam darah sehingga darah membeku dan tidak dapat turun.
Gratik 3.LED Darah Sapi

Pada darah sapi,sama halnya dengan darah kambing.Dimenit ke 30 darah membeku karena kurangnya antikoagulan dan darah tidak dapat melaju.

4.1.5 Hemolisis dan Ketahanan Osmotik Eritroosit
Hemolisis adalah pecahnya atau rusaknya membran eritrosit sehingga hemoglobin keluar dari sel darah dan bebas di dalam medium disekelilingnya.Kerusakan membran sel darah dapat disebabkan oleh larutan yang hipotonis ditambahkan kedalam darah maka air atau laritan hipotonis tersebut akan masuk kedalam sel darah melalui membran semipermeabel,sehingga sel darah akan membengkak yang berakibat membran sel meregang dan akhirnya terjadi kerobekan membran dan hemoglobin keluar dari sel.Selain itu,hemolisis juga disebabkan oleh penurunan tegangan permukaan membran sel misalnya saponin,sabun,garam-garam,empedu,pemanasan diatas suhu 600,pengocokan,bergantian antara dibekukan dan dicairkan.   Hemolisis adalah pecahnya atau rusaknya membran eritrosit sehingga hemoglobin keluar dari sel darah dan bebas dalam medium sekelilingnya.
Hemolisis adalah pecahnya membran eritrosit, sehingga hemoglobin bebas kedalam medium sekelilingnya (plasma).Kerusakan membran eritrosit dapat disebabkan oleh antara lain penambahan larutan hipotonis, hipertonis kedalam darah, penurunan tekanan permukaan membran eritrosit, zat/unsur kimia tertentu, pemanasan dan pendinginan, rapuh karena ketuaan dalam sirkulasi darah dll.Apabila medium di sekitar eritrosit menjadi hipotonis (karena penambahan larutan NaCl hipotonis) medium tersebut (plasma dan lrt. NaCl) akan masuk ke dalam eritrosit melalui membran yang bersifat semipermiabel dan menyebabkan sel eritrosit menggembung. Bila membran tidak kuat lagi menahan tekanan yang ada di dalam sel eritrosit itu sendiri, maka sel akan pecah, akibatnya hemoglobin akan bebas ke dalam medium sekelilingnya. Sebaliknya bila eritrosi berada pada medium yang hipertonis, maka cairan eritrosit akan keluar menuju ke medium luar eritrosit (plasma), akibatnya eritrosit akan keriput (krenasi). Keriput ini dapat dikembalikan dengan cara menambahkan cairan isotonis ke dalam medium luar eritrosit (plasma).
.Pada praktikum hemolisis tabung yang konsentrasi NaCl 0,25% dan 0,45% secara mikroskopis darah sapi yang diamati adanya hemolisis, hal ini ditandai dengan banyaknya eritrosit yang pecah yaitu sebanyak 15 dibandingkan jumlah eritrosit yang tidak pecah.pada tabung 1,3,5 darah sapi tidak mengalami hemolisis karena sedikit jumlah eritrosit yang pecah yaitu sebanyak 2 buah. Pada darah ayam dengan larutan Nacl 0,9% setelah diamati menggunakan mikroskop berbentuk bulat licin dan lebih sedikit dari pembanding, jumlahnya relatif lebih banyak.pada larutan NaCl 0,25% bentuknya bulat bergerigi, lebih besar dari pembanding dan jumlahnya relatif lebih kecil dari pembanding. Pada larutan Nacl 0,45% eritrosit berbentuk bulat licin, lebih kecil dari pembanding dan jumlahnya relatif lebih besar. Pada larutan NaCl 0,65% bentuknya bulat licin, lebih kecil dari pembanding dan jumlah relatif lebih kecil. Pada larutan NaCl 3% terjadi krenasi karena berwarna keruh dan pada konsentrasi NaCl 0,9% warnanya cerah yang berarti terjadi hemolisis. Pada percobaan darah kambing terjadi proses krenasi setelah ditambahkan 1 tetes larutan NaCl 0,9 % yang diamati terlihat seperti ada gumpalan berwarna merah tua namun ada sedikit bintik-bintik berwarna merah tua dan berwarna keunguan disekitarnya.Menurut (Soewolo,2000) lisis merupakan istilah umum peristiwa menggelembung dan pecahnya sel akibat masuknya air kedalam sel. Lisis pada eritrosit disebut hemolisis yang berarti peristiwa pecahnya eritrosit akibat masuknya air kedalam eritrosit sehingga hemoglobin keluar dari dalam eritrosit menuju kecairan sekelilingnya.membran eritrosit bersifat permeabel selektif,yang berarti dapat ditembus oleh air dan zat-zat tertentu,tetapi tidak dapat ditembus oleh zat-zat tertentu yang lain. Hemolisis ini akan terjadi apabila eritrosit dimasukkan ke dalam medium yang hipotonis terhadap isi sel eritrosit.
Gambar 6.Pipet Pasteur
Gambar 7. Mikroskop
Tabel 2.Hemolisis pada darah ayam
Tabung Larutan HCl

Mikroskopis
Hemolisis
Pengamatan di mikroskop
Bentuk
Besar
Warna

I. NaCl 0.9%
-


Bulat Licin



keruh
II.
NaCl 0.65%
-

Lonjong Licin


keruh
III.
NaCl 0.45%
+

Bulat Bergerigi


keruh
IV.
NaCl 0.25%
+

Bulat Bergerigi


keruh
V.
NaCl 3.0 %
-

Bulat Licin


keruh
Gambar 8.Bentuk sel darah Ayam
Tabel 3.Hemolisis pada darah sapi

Tabung(NaCl)

Mikroskopis(hemolisis)
Hasil pengamatan di mikroskop

Bentuk

Besar

Warna

I.NaCl 0.9%

-

Bulat licin



keruh

II.NaCl 0.65%

-

Bulat bergerigi

=

keruh

III.NaCl 0.45%

-

Bulat bergerigi


Merah cerah

IV.NaCl 0.25%

+

Bulat bergerigi


Merah cerah

V.NaCl 3.0%

+

Bulat bergerigi


Keruh
Gambar 9.Sel pada darah sapi
Tabel 9.Hemolisis pada darah kambing
Tabel larutan NaCl
Mikroskopis
(Hemolisis)
Pengamatan di mikroskop
Bentuk
Besar
Warna

I.NaCl 0.9%

-

Bulat licin



keruh

II.NaCl 0.65%

+

Bulat bergerigi


Merah cerah

III.NaCl 0.45%

-

Bulat licin


Merah cerah


IV.NaCl 0.25%

+

Bulat bergerigi

=

Merah cerah

V.NaCl 3.0%

+

Bulat bergerigi


keruh

Gambar 10.Gambar sel pada darah kambing
Ketahanan osmotik erittrosit(osmotik fragility of the erytrocytes) berkaitan dengan bentuk eritrosit serta sifta eritrosit yang rapuh terhadap perubahan medium yang tekanan osmotiknya berbeda dengan plasma darah.Untuk mempertahankan ukuran eritrosit tetap konstan,maka eritrosit harus berada pada lingkungan yang osmolaritasnya sama dengan plasma darah.Tekanan osmotik plasma darah akan turun apabila ditambahkan larutan  dengan tekanan osmotik dibawah tekanan osmotik plasma darah misalnya dengan penambahan NaCl hipotonik atau penambahan air ke dalam darah maka eritrosit akan mengalami lisis.
Ketahanan erotrosit didalam darah terhadap perubahan tekanan osmotik(penururnan tekanan osmotik) tidak sama.Dalam medium yang hipotonik dengan konsentrasi NaCl tertentu sebagian eritrosit mengalami lisis dan sebagian lagi belum.Dengan menurunkan secara perlahan-lahan tekanan osmotik medium maka akan terlihat semakin banyak eritrosit yang mengalami lisis sampai pada konsentrasi NaCl tertentu semua eritrosit mengaami hemolisis (hemolisis total).Tes ketahanan osmotik eritrosit ini menentukan batas konsentrasi NaCl dari medium dimana eritrosit mulai lisis samapi hemolisis total.
4.1.6 Hematokrit
Hematokrit atau Packed Cell Volume (PCV) merupakan persentase sel-sel darah merah dalam 100ml darah.Darah yang ditambah antikoagulan kemudian di sentrifuge dengan kecepatan tinggi.Hematokrit (Ht) adalah persentase seluruh volume eritrosit yang dipisahkan dariplasma dengan cara memutarnya didalam tabung khusus dengan waktu dan kecepatan tertentu dimana nilainya dinyatakan dalam persen (%). Untuk tujuan ini, darah diambil dalam semprit dengan volume yang telah ditetapkan dan dipindahkan kedalam suatu tabung khusus berskala hematokrit (tabung wintrobe). Untuk pemeriksaan hematokrit darah tidak boleh dibiarkan menggumpal sehingga harus diberi antikoagulan. Setelah tabung tersebut diputar dengan kecepatan dan waktu tertentu, maka eritrosit akan mengendap (Sadikin, M. 2002).
Hematokrit adalah nilai yang menunjukan persentase zat padat dalam darah terhadap cairan darah. Dengan demikian, bila terjadi perembesan cairan darah keluar dan pembuluh darah, sementara bagian padatnya tetap dalam pembuluh darah, akan membuat persentase zat padat darah terhadap cairannya naik sehingga kadar hematokritnya juga meningkat (Hardjoeno, H. 2007).Nilai hematokrit yang rendah sering ditemukan pada kasus anemia leukemia, sedangkan peningkatan nilai hematokrit ditemukan pada dehidrasi (suatu peningkatan relatif). Hematokrit dapat menjadi indikator keadaan dehidrasi. Hematokrit dapat mengindikasikan hemokonsentrasi, akibat penurunan volume cairan dan peningkatan eritrosit. Hematokrit dapat diukur pada darah vena atau kapiler berdasarkan perbandingan persentase volume eritrosit / volume darah dengan metode wintrobe atau metode mikro. Hematokrit juga dapat ditentukan dengan menggunakan instrumen elektronik automatik. Walaupun cara automatik lebih unggul dan cara manual, namun mempunyai keterbatasan seperti: harga yang cukup mahal, penggunaannya terbatas, khususnya di daerah apabila reagen habis biasanya pengiriman terlambat sehingga cara manual masih merupakan tes pilihan pada laboratorium, juga terkadang masih perlu dikonfirmasikan bila ada hasil diluar kemampuan alat. Hematokrit diukur dari volume sel rata-rata dan hitung sel darah merah. Nilai normal hematokrit (Ht) sangat bervariasi menurut masing-masing laboratorium dan metode pemeriksaan (Gandasoebrata R, 2006).
Penurunan kadar hematokrit dapat terjadi pada beberapa kondisi tubuh, seperti anemia kehilangan darah akut, leukemia, kehamilan,malnutrisi,gagal ginjal. Sedangkan peningkatan kadar dapat terjadi pada beberapa kondisi : dehidrasi, diare berat, luka baker, pembedehan (Kee JL,2002).Pemeriksaan hematokrit merupakan salah satu pemeriksaan laboratorium dalam mendiagnosa penyakit demam berdarah, dimana pada kasus tersebut terjadi penurunan kadar trombosit (trombositopeumia) secara derastis sampai dibawah 100.00 / mm3 yang diikuti dengan peningkatan kadar hematokrit 20 % atau lebih yang menunjukkan terjadi perembesan plasma atau lebih, dianggap menjadi bukti definitive adanya peningkatan permiabelitas vaskuler. Pada kasus tersebut kadar hematokrit dapat dipengaruhi baik pada pergantian volume tubuh secara dini atau oleh perdarahan.
Hematokrit biasanya tiga kali nilai Hb, kecuali bila ada bentuk dan besar eritrosit abnormal. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi nilai hematokrit ialah jumlah lekosit yang cukup tinggi, nilai glukosa dan natrium darah yang tinggi, hemolisis, dan kesalahan tehnik misalnya penggunaan antikoagulan yang tidak tepat (Hardjoeno, H. 2007).    Meningkatnya nilai Hematokrit dapat disebabkan oleh dehidrasi, waktu tornikuet berkepanjangan, terpapar suhu dingin, peningkatan aktivitas otot, posisi berdiri tegak,diare berat, luka bakar, pembedahan dan teknik centrifugasi.   Menurunnya nilai hematokrit dapat terjadi pada beberapa kondisi tubuh seperti: anemia, leukimia.
Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Hasil Pemeriksaan Hematokrit:Kecepatan centrifugeMakin tinggi kecepatan centrifuge semakin cepat terjadinya pengendapan eritrosit dan begitu pula sebaliknya, semakin rendah kecepatan centrifuge semakin lambat terjadinya pengendapan eritrosit,dan Pengaruh kecepatan centrifuge, dapat kita lihat pada hasil pemeriksaan hematokrit dengan menggunakan kecepatan centrifuge 16.000 rpm dan selama 2-3 menit yang menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang bermakna sertaw aktu centritugasi,selain radius dan kecepatan centrifuge, lamanya centrifugasi juga berpengaruh terhadap hasil pemeriksaan hematokrit. Makin lama centrifugasi dilakukan maka hasil yang diperoleh semakin maksimal.alnutrisi dan gagal ginjal.
Gambar 11.Tabung Hematokrit
Gambar 12. Sentrifuse





Tabel 5.Nilai hematokrit pada beberapa jenis ternak
No
Jenis Ternak
Hematokrit(%)

1

Sapi

40

2

Kambing

32

3

Ayam

27


Tabel 6. Nilai hematokrit hasil pengamatan

No

Kelompok
Jenis Ternak
Sapi
Ayam
Kambing

1

VI

31

25

33

2

VIII

24

27

33

3

IX

25

23

33

4

X

27

25

34

5

XI

29

20

27

            Darah yang di sentrifuge  akan terpisah menjadi 3 bagian yaitu:
1).Lapisan teratas        ::plasma berwarna kuning
2).Lapisan tengah        :buffy coat yang terdiri atas trombosit(bagian teratas berwarna kuning coklat),leukosit(bagian tengah berwarna abu-abu kemerahan), dan eritrosit muda(bagian bawah berwarna merah).
3).Lapisan terbawah    :eritrosit berwarna merah tua.Eritrosit terpisah dibagian bawah karena mempunyai BJ terbesar.


Plasma darah



Buffy coat
eritrosit
lilin

            Ada dua metode pengukuran nilai hematokrit yaitu:
  • Metode makro hematokrit(wintrobe)
  • Metode mikro hematokrit(Van Allen)


4.1.7 Hemoglobin
Hemoglobin adalah metalprotein pengangkut oksigen yang mengandung besi dalam sel merah dalam darah mamalia dan hewan lainnya. Molekul hemoglobin terdiri dari globin, apoprotein dan empat gugus heme, suatu molekul organik dengan satu atom besi (Wikipedia, 2007).    Hemoglobin adalah protein yang kaya akan zat besi. Memiliki afinitas (daya gabung) terhadap oksigen dan dengan oksigen itu membentuk oxihemoglobin di dalam sel darah merah. Dengan melalui fungsi ini maka oksigen dibawa dari paru-paru ke jaringan-jaringan (Evelyn, 2009). Hemoglobin merupakan senyawa pembawa oksigen pada sel darah merah. Hemoglobin dapat diukur secara kimia dan jumlah Hb/100 ml darah dapat digunakan sebagai indeks kapasitas pembawa oksigen pada darah.
            Hemoglobin adalah kompleks protein-pigmen yang mengandung zat besi. Kompleks tersebut berwarna merah dan terdapat didalam eritrosit. Sebuah molekul hemoglobin memiliki empat gugus haeme yang mengandung besi fero dan empat rantai globin (Brooker, 2001).  Hemoglobin adalah suatu senyawa protein dengan Fe yang dinamakan conjugated protein. Sebagai intinya Fe dan dengan rangka protoperphyrin dan globin (tetra phirin) menyebabkan warna darah merah karena Fe ini. Eryt Hb berikatan dengan karbondioksida menjadi karboxy hemoglobin dan warnanya merah tua. Darah arteri mengandung oksigen dan darah vena mengandung karbondioksida (Depkes RI dalam Widayanti, 2008).  Menurut William, Hemoglobin adalah suatu molekul yang berbentuk bulat yang terdiri dari 4 subunit. Setiap subunit mengandung satu bagian heme yang berkonjugasi dengan suatu polipeptida. Heme adalah suatu derivat porfirin yang mengandung besi. Polipeptida itu secara kolektif disebut sebagai bagian globin dari molekul hemoglobin (Shinta, 2005).
            Kadar hemoglobin ialah ukuran pigmenrespiratorik dalam butiran-butiran darah merah (Costill, 1998). Jumlah hemoglobin dalam darah normal adalah kira-kira 15 gram setiap 100 ml darah dan jumlah ini biasanya disebut “100 persen” (Evelyn, 2009). Batas normal nilai hemoglobin untuk seseorang sukar ditentukan karena kadar hemoglobin bervariasi diantara setiap suku bangsa. Namun WHO telah menetapkan batas kadar hemoglobin normal berdasarkan umur dan jenis kelamin  (WHO dalam Arisman, 2002)
Hemoglobin adalah suatu molekul yang berbentuk bulat yang terdiri dari 4 subunit. Setiap subunit mengandung satu bagian heme yang berkonjugasi dengan suatu polipeptida. Heme adalah suatu derivat porfirin yang mengandung besi. Polipeptida itu secara kolektif disebut sebagai bagian globin dari molekul hemoglobin. Ada dua pasang polipeptida didalam setiap molekul hemoglobin (Ganong, 2003). Komponen utama sel darah merah adalah protein hemoglobin yang mengangkut O2 dan CO2 dan mempertahankan pH normal melalui serangkaian dapar intraselular. Molekul-molekul hemoglobin terdiri dari dua pasang rantai polipeptida dan empat gugus hem, masing-masing mengandung sebuah atom besi. Konfigurasi ini memungkinkan pertukaran gas yang sangat sempurna (Supriasa, 2001). Hemoglobin merupakan senyawa pembawa O2 pada sel darah merah. Hemogloboin dapat diukur secara kimia dan jumlah Hemoglobin/100 ml dalam darah dapat digunakan sebagai indek kapasitas sebagai O2 pada darah. Kandungan hemoglobulin yang rendah dengan demikian mengindikasikan anemia (Supriasa, 2001). Pengertian lain hemoglobin adalah pigmen merah pembawa O2 pada eritrosit dan di bentuk oleh eritrosit yang berkembang dalam sum-sum tulang. Pembentukan berlangsung dari setaium perkembangan eritroblas sampai retukulosit. Molekul-molekul Hemoglobin terdiri atas dua pasang rantai polipeptida (Globin) dan empat kelompok heme (Price & Wilson, 2004). Globulin merupakan satu protein yang terbentukdari empat polipetida yang sangat berlipat-lipat. Sedangkan heme merupakan gugus nitrogenosa non protein yang mengandung besi (Sherwood, 2001). Sel-sel darah merah mampu mengkonsentrasikan hemoglobin dalam cairan sel sampai sekitar 34 gm/dl sel. Konsentrasi ini tidak pernah meningkat lebih dari nilai tersebut, karena ini merupakan batas metabolik dari mekanisme pembentukan hemoglobin sel. Selanjutnya pada orang normal, persentase hemoglobin hampir selalu mendekati maksimum dalam setiap sel, namun bila pembentukan hemoglobin dalam sumsum tulang berkurang, maka persentase hemoglobin dalam darah merah juga menurun karena hemoglobin untuk mengisi sel kurang. Bila hematokrit (persentase sel dalam darah normalnya 40 sampai 45 persen) dan jumlah hemoglobin dalam masing-masing sel nilainya normal, maka seluruh darah seorang pria rata-rata mengandung 16 gram/dl hemoglobin, dan pada wanita rata-rata 14 gram/dl (Guyton & Hall, 1997). 
Hemoglobin dibentuk dalam sitoplasma sel sampai stadium retikulosit. Setelah inti sel dikeluarkan, hilang juga RNA dari dalam sitoplasma, sehingga dalam sel darah merah tersebut tidak dapat dibentuk protein lagi, begitu juga berbagai enzim yang sebelumnya terdapat dalam sel darah merah dan protein membran sel (Suyono, 2001). Pembentukan hemoglobin dimulai dalam proeritroblas dan kemudian dilanjutkan sedikit dalam stadium retikulosit, karena ketika retikulosit meninggalkan sumsum tulang dan masuk ke dalam aliran darah, maka retikulosit tetap membentuk sedikit hemoglobin selama beberapa hari berikutnya (Guyton & Hall, 1997).
Hemoglobin dalam tubuh manusia memiliki fungsi sebagai berikut :
 1) Mengangkut O2 dari organ respirasi ke jaringan perifer dengan cara membentuk oksihemoglobulin. Oksihemoglobin ini akan beredar secara luas pada seluruh jaringan tubuh. Jika kandungan O2 di dalam tubuh lebih rendah dari pada jaringan paru-paru, maka ikatan oksihemoglobulin akan dibebaskan dan O2 akan digunakan dalam metebolisme sel.
2) Mengangkut karbon dioksida dari berbagai proton, seperti ion Cl- dan ion hidrogen asam (H+) dari asam karbonat (H2CO3) dari jaringan perifer ke organ respirasi untuk selanjutnya diekskresikan ke luar. Oleh karena itu, hemoglobin juga termasuk salah satu sistem buffer atau penyangga untuk menjaga keseimbangan pH ketika terjadi perubahan PCO2 (Martini, 2009).
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kadar Hemoglobin Kadar Hemoglobin seseorang tidak hanya dipengaruhi oleh paparan Pb(timbal), kebiasaan minum teh setiap hari setelah makan, menkonsumsi alkohol serta merokok dapat mempengaruhi kadar Hemoglobin (Mehdi et al., 2000). Konsumsi teh setiap hari dapat menhambat penyerapan zat besi sehingga akan mempangruhi terhadap kadar Hemoglobin (Gibson, 2005). Beberapa faktor lain yang mempengaruhi kadar Hemoglobin antara lain:
1) Usia Anak-anak, orang tua, ibu yang sedang hamil akan lebih mudah mengalami penurunan kadar Hemoglobin. Pada anak-anak dapat disebabkan karena pertumbuhan  anak-anak yang cukup pesat dan tidak di imbangi dengan asupan zat besi sehingga dapat menurunkan kadar Hemoglobin (National Anemia Action Council, 2009).  
 2) Jenis Kelamin Perempuan lebih mudah mengalami penurunan daripada laki-laki,
terutama pada saat menstruasi (Curtale et al., 2000).
3) Penyakit Sistemik Beberapa penyakit yang dapat mempengaruhi kadar Hemoglobin yaitu Leukimia, thalasemia, tuberkulosi. Penyakit tersebut dapat mempengaruhiproduksi sel darah merah yang disebabkan karenan terdapat gangguan pada sum-sum tulang (Hoffbrand et al., 2005).
4) Pola Makan Pola makan adalah menu makanan yang dalam keseharian oleh seseorang. Pola makan yang sehat tercantum dalm pemilihan menu makanan yang seimbang (Prasetyono, 2009). Sumber zat besi terdapat dimakanan bersumber dari hewani dimana hati merupakan sumber yang paling banyak mengandung Fe (antara 6,0 mg sampai dengan 14,0 mg). Sumber lain juga berasal dari tumbuh-tumbuhan tetapi kecil kandunganya sehingga bisa diabaikan (Gibson, 2005). Zat besi didalam makanan berbentuk hem yaitu berikatan dengan protein atau dalam bentuk nonhem yang berbentuk senyawa besi inorganik yang komplek. Zat besi hem lebih banyak diabsorbsi dibanding dengan zat besi nonhem. Sumber zat besi hem adalah  hati, ginjal, daging, ayam, ikan dimana dalam usus diserap 15-35%. Sumber nonhem umumnya terdapat dalam makanan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan seperti sayur-sayuran, biji-bijian, kacang-kacangan, buah-buahan dan serelia, sedikit dalam daging,
ikan, telur .Faktor lain yang diperhatikan adalah faktor yang mempengaruhi penyerapan dari Fe, atara lain macam bahan itu sendiri. Yang berasal dari hewani 7-22% dan dari tumbuh-tumbuhan 1-6%. Yang mempermudah absorbsi besi nonhem adalah Vitamin C (buah-buahan yang mengandung asam citrid dan sayuran seperti tomat dll), makanan yang mengandung zat besi hem dan makanan yang telah difermentasi. Sedangkan makan yang menghambat absorbsi besi adalah makanan yang mengandung tannin, phytat, fosfat, kalsium dan serat dalam bahan makanan .Konsumsi teh dan kopi satu jam setelah makan akan menurunkan absorbsi dari zat besi sampai 40% untuk kopi dan 85% untuk teh, karena terdapat zat polyphenol seperti tannin yang terdapat dalam teh Pada penelitian yang dilakukan olah Muhilal dan Sulaeman (2004), didapat absorbsi zat besi besi turun sampai 2% oleh karena konsumsi teh, sedangkan absorbsi tanpa konsumsi the hanya diabsorbsi sekitar 12%. Entimilasi dari kebutuhan makan yang mengandung metode estimasi food frekuensi bagaimana frekuensi makan itu dikonsumsi dalam satu periode waktu. Food frekuensi menggunakan design kuisioner atau interview  Efek kekurangan kadar hemoglobin Kadar hemoglobin dalam tubuh harus pada nilai yang normal. Apabila kadar hemoglobin di bawah normal akan terjadi hal-hal sebagai berikut : 1) Sering pusing. Hal ini disebabkan otak sering mengalami periode kekurangan pasokan O2 yang di bawa hemoglobin terutama saat tubuh memerlukan tenaga yang banyak.
2) Mata berkunang-kunang. Kurangnya O2 otak akan mengganggu pengaturan saraf-saraf pusat mata.
3) Pingsan. Kekurangan O2 dalam otak yang bersifat ekstrim/mendadak dalam jumlah besar akan menyebabkan pingsan.
 4) Nafas cepat. Jika Hemoglobin kurang, untuk memenuhi kebutuhan O2 maka kompensasinya menaikkan frekwensi nafas. Orang awam menggambarkan ini dengan sesak nafas.
5) Jantung berdebar. Untuk menculupi kebutuhan O2 maka jantung harus memompa lebih sering agar darah yang mengalir di paru-paru lebih cepat mengikat O2.
6) Pucat. Hemoglobin adalah zat yang zat yang mewarnai darah menjadi merah maka kekurangan yang ekstrim akan menyebabkan pucat pada tubuh. Untuk mengetahui secara pasti tentunya harus dengan pemeriksaan kadar Hemoglobin secara laboratorik. Kadar hemoglobin adalah salah satu pengukuran tertua dalam laboratorium kedokteran dan tes darah yang paling sering dilakukan.       
Respon tubuh bila terjadi kekurangan hemoglobin beraneka ragam tergantung tingkat keparahanya. Berikut merupakan gejala yang timbul bila seseorang kekurangan hemoglobin :
1) Hemoglobin >10 gram % : Gejala terjadi jika system transpor O2 mengalami stres karena meningkatnya permintaan O2 (misalnya : latihan, demam) atau karena berkurangnya oksigenasi darah (misalnya : gangguan paru-paru, tempat tinggi, merokok, pajanan terhadap karbon monoksida). 
2) Hemoglobin 8 – 10 gram % : Gejala meningkatnya curah jantung pada saat istirahat dapat diperhatikan (misalnya : berdebar-debar) terutama dalam pasien tua, tetapi sebagai aturan umum gejala tidak berat. 
3) Hemoglobin < 8 gram % : Meningkatnya gejala-gejala pada saat istirahat, tergantung pada cadangan kardiorespiratorius.
Gambar 10. Standar warma hemoglobin


Gambar 14.Hemometer sahli
Tabel 7.Nilai hemoglobin beberapa jenis ternak
Kelompok
Jenis Ternak
Hemoglobin(%)

6
Ayam
7.8%
Sapi
12%
Kambing
9.8%

7
Ayam
7.8%
Sapi
12%
Kambing
10.4%
8
Ayam
7.8%
Sapi
12%
Kambing
9.8%


9

Ayam
7.8%
Sapi
12%
Kambing
9.8%


10

Ayam
9.8%
Sapi
7.8%
Kambing
12%

11
Ayam
7.8%
Sapi
12%
Kambing
9.8%

Hal ini sesuai dengan pendapat (Gandasoebrata R,2000) yaitu adanya hemoglobin dalam darah menimbulkan timbulnya warna merah dalam darah dan hemoglobin tersebut merupakan suatu senyawa organik yang kompleks yang terdiri dari empat pigmen porfirin merah.Sedangkan pada ayam tidak normal karena kadar normal hemoglobin ayam itu 7-13%.          Hemoglobin adalah pigmen yang membuat sel darah berwarna merah yang pada akhirnya akan membuat darah manusia berwarna merah. Menurut fungsinya, hemoglobin merupakan media transport oksigen dari paru paru ke jaringan tubuh. Seperti kita ketahui bersama, oksigen merupakan bagian terpenting dari metabolisme tubuh untuk menghasilkan energi. Hemoglobin juga berfungsi membawa karbondioksida hasil metabolisme dari jaringan tubuh ke paru paru untuk selanjutnya dikeluarkan saat bernafas. Saat kadar hemoglobin rendah maka jumlah sel darah merah pun akan rendah. Demikian pula halnya dengan nilai hematokrit.( Barbara A. B, 2006).
4.1.8 Mengitung Jumlah Sel Darah
Volume darah di dalam tubuh sekitar sepertiga belas berat badan orang sehat, atau kurang lebih 4 – 5 liter. Bila cairan darah terlalu banyak atau terlalu sedikit, maka tubuh sendiri akan mengatur sekresi melalui keringat dan kencing atau urine sehingga kadar larutan dalam darah tetap dan tekanan osmosis dalam darahpun juga tetap. Darah mempunyai bebarapa fungsi yang penting untuk tubuh. Darah mengangkut zat-zat makanan dari alat pencernaan ke jaringan tubuh, hasil limbah metbolisme dari jaringan tubuh ke ginjal, dan hormon dari kelenjar endokrin ke target organ tubuh.( Wikipedia).2000
Fungsi utama dari darah adalah sebagai media transport yaitu mengangkut oksigen ke jaringan dan mengembalikan karbondioksida dari jaringan ke paru-paru, untuk mencapai gas ini sel darah mengandung protein khusus yaitu hemoglobin karena sewtiap sel darah merah mengandung sekitar 640 juta molekul hemoglobulin, selain itu darah juga berfungsi sebagai regulasi dan pertahanan tubuh, yaitu mencegah dari pendarahan dan pertahanan tubuh dari penyakit.( Ismy.2012).
Darah merupakan cairan dengan volume yang berbeda-beda tergantung pada jenis kelamin, ukuran tubuh, dan umur setiap orang atau individu. Jumlah darah dalam tubuh bervariasi tergantung pada berat tubuh seseorang. Pada orang dewasa 1/13 berat badan kira-kira 4-5 liternya adalah darah. Faktor lain yang juga menentukan banyaknya darah adalah umur, pekerjaan, keadaan jantung dan pembuluh darah. Total sirkulasi dari volume darah diperkirakan sekitar 5 s/d 8% dari total bobot badan dan angka ini bervariasi menurut umur, spesies, besar tubuh, aktivitas, status kesehatan, status gizi dankondisi fisiologi (bunting dan laktasi) (Jumrana.2012).
Darah mengangkut oksigen zat-zat makanan dari alat pencernaan ke jaringan tubuh, hasil limbah metabolisme dari jaringan tubuh ke ginjal dan hormone dari kelenjar endokrin ke target organ tubuh. Darah juga berpartisipasi dalam pengaturan kondisi asam-basa, keseimbangan elektrolit dan temperature tubuh, dan sebagai pertahanan suatu organisme terhadap penyakit. Semuanya adalah fungsi yang berhubungan dengan pemeliharaan lingkngan interna yang konstan (Luvid .2012).
Sel darah putih berbentuk tidak tetap. Sel darah putih dibuat di sum-sum marah, kura dan kelenjar limpa. Fungsinya memberantas kuman-kuman penyakit. Sel darah putih atau leukosit berukuran lebih besar daripada sel darah merah, diameternya sekitar 10µm, dan jumlahnya lebih sedikit teradpat 7-10 X 109 leukosit per liter darah dan jumlah in bias meningkat sampai 30 X 109 per liter darah bila ada infeksi di dalam badan. Penngkatan ini dikenal sebagai leukositosis (Watson, R 2007). Leukosit dalam darah jumlahnya lebih sedikit daripada eritrosit dengan rasio 1:700 (Frandson,2006).
Sel darah putih berbentuk tidak tetap. Sel darah putih dibuat di sum-sum marah, kura dan kelenjar limpa. Fungsinya memberantas kuman-kuman penyakit. Sel darah putih atau leukosit berukuran lebih besar daripada sel darah merah, diameternya sekitar 10µm, dan jumlahnya lebih sedikit teradpat 7-10 X 109 leukosit per liter darah dan jumlah in bias meningkat sampai 30 X 109 per liter darah bila ada infeksi di dalam badan. Penngkatan ini dikenal sebagai leukositosis (Jhenata.2012).
Hitung leukosit menyatakan jumlah sel-sel leukosit perliter darah (System International Units =  SI unit) atau per satu mmk darah. Nilai normalnya 4000 - 11000 / mmk. Untuk penerapan hitung leukosit ada dua metode, manual dan elektronik. Pada umumnya metode elektronik belum digunakan secara umum, mungkin baru di laboratorium besar, sehingga cara manual masih memegang peranan penting.( Arlian.2012)
Fluktuasi jumlah leukosit pada tiap individu cukup besar pada kondisi tertentu seperti stres, umur, aktifitas fisiologis dan lainnya. Leukosit berperan penting dalam pertahanan seluler dan humoral organisme terhadap benda-benda asing. Jumlah leukosit lebih banyak diproduksi jika kondisi tubuh sedang sakit apabila dalam sirkulasi darah jumlah leukositnya lebih sedikit dibanding dengan eritrositnya.( Ismy.2012)


Tabel 8. Jumlah Leukosit pada ayam, sapi, dan kambing
Jenis Ternak
Sapi
Ayam
Kambing
Jumlah Leukosit
6,01 ribu
2,95 ribu
7,55 ribu

Tabel 9. Keterangan Leukosit
Jenis Ternak
R1
R2
R3
R4
Sapi
36
30
22
34
Ayam
115
153
187
135
Kambing
55
31
25
40

Sel darah putih( leukosit) berfungsi menyediakan pertahanan yang cepat dan kuat terhadap setiap agen infeksi yang ada. Terdapat beberapa jenis leukosit, yaitu netrofil, eosinofil, basofil, monosit, limfosit dan megakarosit.(Gugun, 2011)
Sel darah putih atau leukosit adalah sel yang membentuk komponen darah. Sel darah putih ini berfungsi untuk membantu tubuh melawan berbagai penyakit infeksi sebagai bagian dari sistem kekebalan tubuh.Sel darah putih tidak berwarna, memiliki inti,dapat bergerak secara amoebeid, dan dapat menembus dinding kapiler /diapedesis. (Susana, 2010).
4.1.9 Differensial Leukosit (Leukogram)
            Perhitungan total leukosit penting untuk diagnosa klinik, tetapi akan lebih memberikan gambaran yang lengkap dengan perhitungan differensial leukosit. Differensial leukosit merupakan persentase setiap jumlah sel darah putih dari total leukosit. Setiap jenis sel darah putih mempunyai fungsi yang berbeda dalam melawan infeksi dan setiap penyakit menghasilkan perbedaan sel darah putih yang ada di dalam darah, misalnya pada keadaan seperti di bawah ini :
  1. Infeksi oleh protozoa, malnutrisi, anemia aplastik akan mengakibatkan penurunan neutrofil.
  2. Latihan yang berat, rematik, luka bakar, akan terjadi peningkatan jumlah neutrofil.
  3. Batuk rejan, gondok, cacar air, meningkatkan jumlah limfosit.
  4. Infeksi parasit, alergi, akan meningkatkan eosinofil.
  5. Penyakit kronis, alergi akan meningkatkan eosinofil.
  6. Penyakit kronis seperti TBC, leukimia akan meningkatkan jumlah monosit.
  7. Penggunaan obat-obatan glucocorticoid menurunkan jumlah limfosit.

Bentuk sel leukosit di bagi menjadi 2, yaitu granulosit dan agranulosit. Leukosit granulosit terdiri dari :
  1. Neutrofil : berdiameter 10-20µ. Nukleus berlobus 3, berwarna ungu dan granular sitoplasma kecil berwarna pink.
  2. Eosinofil : berdiameter 13µ. Nukleus berlobus 2, berwarna biru-ungu, dan granular sitoplasma kecil berwarna merah-orange.
  3. Basofil : berdiameter 14µ. Nukleus berlobus 2, berwarna biru tua, dan granular sitoplasma berwarna biru-tu atau merah-ungu.

Leukosit Agranulosit :
  1. Limfosit kecil : diameter 7µ. Nukleus sangat besar berwarna biru tua atau ungu, sitoplasma tipis, non granular, berwarna biru terang.
  2. Limfosit kecil : diameter 10µ. Nukleus oval besar berwarna ungu tua, sitoplasma non granular, berwarna biru terang.
  3. Monosit : diameter 15µ. Nukleus besar seperti tapal kuda berwarna biru atau ungu, sitoplasma non granular, berwarna biru abu-abu terang.





Dari praktikum yang telah dilaksanakan, didapatkan hasil sebagai berikut :
Tabel 10. Hasil Pengamatan Differensial Leukosit

Kelompok

Darah
Leukosit (%)
Basofil
Eosinofil
Myelo
Juven
Stab
Seg
Limph
Mon
6
Sapi
29,41
0
47,05
17,64
0
0
0
5,88
7
Kambing
6,45
6,45
22,
6,45
32,25
6,45
16,12
3,22
8
Ayam
23
11
-
5
8
11
57
16
9
Mamalia
(Laki)
1,07
4,82
1,60
0
0,53
13,37
40,64
-
10
Mamalia
(Pr)
30,77
-
38,46
30,77
-
-
-
-
11
Sapi
3,84
13,4
11,35
5
16
7
4
32

Untuk melihat struktur sel-sel darah dengan menggunakan mikroskop cahaya pada umumnya dibuat sediaan apus. Sediaan apus darah ini tidak saja untuk mempelajari bentuk masing-masing sel darah, tetapi juga dapat digunakan untuk menghitung perbandingan antar masing-masing jenis sel darah.Selain itu dengan pembuatan apus maka darah yang kita gunakan akan dapat bertahan lebih lama dibandingkan apabila kita menggunakan preparat darah basah. Karena darah mempunyai kemampuan cepat membeku apabila terkena udara sehingga komponen-komponen darah menjadi rusak. Dengan pembuatan sediaan apus komponen darah akan dapat dipertahankan mendekati keadaan awal saat masih segar. Hal ini disebabkan pada pembuatan sediaan apus mengalami beberapa perlakuan.( dwis/enchop_07 .2009)
 Darah merupakan cairan yang berada dalam jaringan tubuh. Beberapa cairan tubuh selain darah adalah cairan jaringan, cairan limfa, sinovial, aqueos humor, edolimfa, dan perilimfa. Darah yang terdapat di dalam vena berwarna merah tua, memiliki berat jenis yang bervariasi dari 1.054 – 1.060 dan berat jenis plasma bervariasi dari 1.024 – 1.028. Darah terdiri dari dua bagian, yaitu sel-sel darah merah (butir-butir darah) dan cairan darah (plasma darah). Sel-sel darah merupakan bagian darah yang mempunyai bentuk sedangkan plasma darah berupa cairan yang jumlah total volumenya 70%. Ada 3 macam bentukannya, yaitu : sel darah merah (eritrosit), sel darah putih (lekosit) dan keping darah (trombosit).(Stresing .2009).
Didapatkan  hasil sebagai berikut yaitu diperoleh sel darah merah atau eritrosit, sel darah putih atau leukosit dan trombosit atau keeping-keping darah yang merupakan komponen sel darah. Hal ini sesuai dengan pendapat Mikrajuddin (2004), yang menyatakan bahwa darah manusi ataupun hewan terdiri dari dua kompoen penting yaitu sel-sel darah dan plasma darah (cairan drah). Dimana sel-sel darah itu sendiri terdiri dari sel drah merah dan sel drah putih serta kepng drah, sedangkan cairan drah terdiri dari cairan darah (Plasma darah).
Menurut Bajkai (2009), yang menyatakan bahwa susunan darah terdiri dari sel darah merah (eritrosit), sel darah putih (leukosit), keeping-keping darah (trombosit), dan plasma darah. Pada praktikum ini ditemukan sel darah putih (leukosit), hal ini dikarenakan cirri-ciri dan spesifikasi leukosit yang memiliki inti atau nucleus. Hal ini ditunjang dengan pendapat Syaifuddin (2002) yang menyatakan bahwa salah satu karakteristik dari sel darah putih yakni memiliki inti atau nucleus serta mampu bergerak bebas dalam darah.
Warna yang ditemukan pada sel darah putih adalah bening memiliki inti. Hal ini ditunjang oleh pendapat Watson (2002), yang menyatakan bahwa salah satu cirri dari sel darah putih tidak berwarna.

4.2 Fisiologi Kardiovaskuler
            Sistem kardiovaskular merupakan sistem yang menjelaskan proses sirkulasi yang terjadi di dalam tubuh manusia. Berdasarkan lintasan sirkulasi,ada 3 macam sirkulasi dalam tubuh manusia,sirkulasi sistemik,sirkulasi paru,dan sirkulasi khusus (sirkulasi pada janin,sirkulasi koroner jantung). Sirkulasi tidak hanya menjelaskan tentang sirkulasi darah saja tetapi juga ada sirkulasi cairan limfe yang berperan dalam sistem kekebalan tubuh dan pengaturan keseimbangan cairan di ruang interstisial.
Sistem kardiovaskuler terdiri dari : jantung , pembuluh darah (vena dan arteri), pembuluh limfe dan darah. Jantung merupakan salah satu organ tubuh manusia yang sangat penting karena  mempunyai fungsi sangat penting untuk kelangsungan hidup manusia yaitu memompa darah ke jaringan, menyuplai oksigen dan zat nutrisi lain sambil mengangkut karbondioksida dan sampah hasil metabolisme.
Jantung dibagi oleh septa vertikal menjadi empat ruang: atrium dextrum, atrium sinistrum, ventriculus dexter, dan ventriculus sinister Jantung memiliki empat rongga yang terdiri atas dua serambi yang berdinding tipis dan dua bilik yang berdinding lebih tebal. Jantung ruminansia mempunyai 4 ruang yang terbagi sempurna dan terletak didalam rongga dada serta terbungkus oleh perikardium Jantung merupakan organ otot yang berperan penting dalam peredaran darah. Secara anatomis, jantung dibagi menjadi 4 ruang yaitu dua ventrikel atau bilik (bilik  kanan dan  bilik kiri) yang berdinding tebal dan 2 atrium atau serambi (serambi kanan dan serambi kiri) yang berdinding tipis. Serambi dan bilik berkontraksi secara bergantia.Jantung berfungsi memompa darah untuk menyediakan oksigen,nutrien dan hormone ke seluruh tubuh serta mengangkut sisa metabolisme ke seluruh tubuh  seperti karbondioksida,asam urat dan ureum. Untuk menjalankan fungsinya sebagai pompa,jantung dapat berkontraksi dan berlelaksasi. Proses kontraksi dan relaksasi jantung dikenal sebagai denyut jantung. Pada saat berdenyut,setiap ruang jantung  mengendur dan terisi darah,selanjutnya jantung berkontraksi dan memompa dalam keluar dari jantung.Sedangkan pembuluh darah berfungsi sebagai saluran untuk mendistribusikan darah dari jantung ke semua bagian tubuh dan mengembalikannya kembali ke jantung.Dan darah sebagai medium transportasi dimana darah akan membawa oksigen dan nutrisi. Sedangkan sistem saluran limfe berhubungan erat dengan sistem sirkulasi darah.Darah meninggalkan jantung melalui arteri dan dikembalikan melalui vena.Sebagian cairan yang meninggalkan sirkulasi dikembalikan melalui saluran limfe, yang merembes dalam ruang-ruang jaringan. Sistem kardiovaskuler sangat memegang peranan penting bagi tubuh manusia, makadari itu kita perlu mengetahui bagian-bagian serta manfaat dari sistem kardiovaskuler.
Otot jantung mempunyai karakteristik fisiologis yang dicirikan oleh fungsi jantung yaitu :
1.Excitability, merupakan kemampuan jantung berkontraksi bila mendapat rangsangan  dengan intensitas yang cukup besar.Respon jantung berupa perambatan potensial aksi dan kontraksi mekanik.
2.Conductivity,adalah kemampuan jantung untuk merambatkan impuls.
3.Contractility adalah kemampuan jantung untuk berkontraksi. Kontraksi jantung dikenal dengan sistol, kemudian relaksasi atau pengendoran yang disebut diastol. Kecepatan kontraksi otot jantung lebih lambat dari daripada kontraksi otot polos.
4.Automaticity adalah kemampuan jantung untuk berdenyut dengan sendirinya tanpa impuls yang datang dari luar jantung. Denyut jantung ditimbulkan oleh otot jantung itu sendiri, sedangkan frekuensi denyut jantung dipengaruhi oleh aktivitas saraf dan hormon.  Pada mamalia , yang pertama menimbulkan denyut adalah nodus sinoauricularis. 5. Hukum starling pada jantung; Otot jantung tidak berkontraksi bila kekuatan rangsangan tidak cukup kuat, tetapi akan berkontraksi secara maksimal jika kekuatan rangsangan cukup kuat. Sifat ini dikenal sebagai ”all or none law”
 6.Aksi vagus terhadap jantung ; saraf vagus jantung akan menghambat gerakan jantung dan diimbangi dengan syaraf simpatetik yang mempercepat denyut jantung.
 7.Jantung mempunyai periode refrakter yang lama. Periode refrakter adalah saat yang menujukkan bahwa jaringan hidup kehilangan sifat eksitabilitas untuk sementara. Jadi pada saat itu jaringan tersebut jaringan tidak memberikan respon bila dirangsang. Periode refrakter pada jantung terjadi saat sistol berlangsung
Jantung adalah suatu organ yang penting untuk peredaran darah.Fungsi jantung ini sebagai pemompa darah untuk dialirkan atau disirkulasikan ke seluruh tubuh melalui pembuluh darah (vessel).Jantung berkontraksi atau berdenyut secara berirama akibat potensial aksi yang ditimbulkan sendiri, suatu sifat yang dikenal dengan otoritmisitas.Terdapat dua jenis khusus sel otot jantung yaitu 99% sel otot jantung kontraktil yang melakukan kerja mekanis, yaitu memompa.Sel – sel pekerja ini dalam keadaan normal tidak menghasilkan sendiri potensial aksi.Sebaliknya, sebagian kecil sel sisanya adalah sel otoritmik tidak berkontraksi tetapi mengkhususkan diri mencetuskan dan menghantarkan potensial aksi yang bertanggungjawab untuk kontraksi sel – sel pekerja.Kontraksi otot jantung dimulai dengan adanya aksi potensial pada sel otoritmik.
Jantung merupakan organ muscular berongga, bentuknya menyerupai pyramid atau jantung pisang yang merupakan pusat sirkulasi darah ke seluruh tubuh, terletak dalam rongga toraks pada bagian mediastinum. Ujung jantung mengarah kebawah, ke depan bagian kiri: Basis jantung terdapat aorta batang nadai paru pembuluh balik atas dan bawah dan pembuluh paru. Jantung difiksasi pada tempatnya agar tidak mudah berpindah tempat. Penyokong jantung utama adalah paru yang menekan jantung dari samping diafragma menyokong dari bawah, pembuluh darah besar yang keluar dan masuk jantung sehingga jantung tidak mudah berpindah.
Siklus jantung merupakan peristiwa yang terjadi pada jantung berawal dari permulaan sebuah denyut jantung sampai berakhirnya denyut jantung berikutnya disebut siklus jantung (cardiac cycle). Setiap siklus dimulai oleh pembentukan potensial aksi yang spontan di dalam nodus sinus (sinoatrioventricular node/ SA node). Nodus ini terletak pada dinding lateral superior atrium kanan dekat tempat masuk vena cava superior, dan potensial aksi menjalar dengan cepat sekali melalui kedua atrium dan kemudian melalui berkas A-V ke ventrikel karena ada pengaturan khusus sistem konduksi dari atrium menuju ke ventrikel, ditemukan keterlambatan selama lebih dari 1/10 detik sewaktu impuls jantung dihantarkan dari atrium ke ventrikel. Keadaan ini menyebabkan atrium akan berkontraksi mendahului ventrikel, sehingga akan memompakan darah ke dalam ventrikel sebelum kontraksi ventrikel yang kuat. Atrium bekerja sebagai pompa primer bagi ventrikel, dan ventrikel selanjutnya akan menyediakan sumber kekuatan yang utama untuk memompakan darah ke sistem pembuluh darah.Hal ini sejalan dengan pendapat Rikayasa(2006) yang menyatakan bahwa siklus jantung adalah periode dimulainya satu denyutan jantung dan awal dari denyutan selanjutnya. Siklus jantung terdiri dari periode sistol dan diastol.
 Sistol adalah periode kontraksi dari ventrikel, dimana darah akan dikeluarkan dari jantung.Hal ini sejalan dengan pendapat Sherwood(2002) yang menyatakan bahwa tekanan sistolik adalah tekanan darah pada saat terjadi kontraksi otot jantung. Istilah ini secara khusus digunakan untuk merujuk pada tekanan arterial maksimum saat terjadi kontraksi pada lobus ventrikular kiri dari jantung. Rentang waktu terjadinya kontraksi disebut systole Pada format penulisan angka tekanan darah, umumnya, tekanan sistolik merupakan angka pertama. Sebagai contoh, tekanan darah pada angka 120/80 menunjukkan tekanan sistolik pada nilai 120 mmHg.
Diastol adalah periode relaksasi dari ventrikel, dimana terjadi pengisian darah.Diastol  dapat dibagi menjadi dua proses yaitu relaksasi  isovolumetrik  dan  ventricular filling. Pada relaksasi  isovolumetrik   terjadi ventrikel yang mulai relaksaasi, katup semilunar dan katup atrioventrikularis tertutup dan volume ventrikel tetap tidak berubah. Pada ventricular filling dimana tekanan dari atrium lebih tinggi dari tekanan di ventrikel, katup mitral dan katup trikuspid akan terbuka sehingga ventrikel akan terisi 80% dan akan mencapai 100 % jika atrium berkontraksi.Hal ini sejalan dengan pendapat Sherwood (2002) yang menyatakan bahwa tekanan diastolik adalah tekanan darah pada saat jantung tidak sedang berkonstraksi atau beristirahat. Pada kurva denyut jantung, tekanan diastolik adalah tekanan darah yang digambarkan pada rentang di antara grafik denyut jantung.
Pada tiap siklus jantung terjadi systole dan diastole secara berurutan dan teratur dengan adanya katup jantung yang terbuka dan tertutup.Pada saat itu jantung dapat bekerja sebagai suatu pompa sehingga darah dapat beredar ke seluruh tubuh.Selama satu siklus kerja jantung terjadi perubahan tekanan di dalam rongga jantung sehingga terdapat perbedaan tekanan.Perbedaan ini menyebabkan darah mengalir dari rongga yang tekanannya leDalam keadaan normal darah mengalir terus dari vena-vena besar ke dalam atrium.Kira-kira 70% aliran ini langsung mengalir dari atrium ke ventrikel walaupun atrium belum berkontraksi.Kontraksi atrium mengadakan pengisian tambahan 30% karena atrium berfungsi hanya sebagai pompa primer yang meningkatkan efektivitas ventrikel sebagai pompa.Kira-kira 30% tambahan efektivitas, jantung terus dapat bekerja dengan sangat memuaskan dalam keadaan istirahat normalbih tinggi ke tekanan yang lebih rendah.
Selama systole ventrikel, sejumlah darah tertimbun dalam atrium karena katub atrium ke ventrikel tertutup. Tepat setelah sistolik berakhir tekanan ventrikel turun kembali  sampai ke tekanan diastolic yang rendah. Tekanan pada atrium yang tinggi dengan segera mendorong katub antara atrium dan ventrikel membuka dan memungkinkan darah mengalir dengan cepat ke dalam ventrikel.Ini dinamakan periode pengisian cepat ventrikel.Periode pengisia berlangsung kira-kira 1/3 pertama diastolic.Selama 1/3 tengah diastolic darah sedikit mengalir ke ventrikel.Darah yangterus masuk ke dalam atrium dari vena-vena dan berjalan melalui atrium langsung ke ventrikel. Bila kontraksi ventrikel mulai, tekanan ventrikel meningkat dengan cepat, menyebabkan katub atrium dan ventrikel menutup. Diperlukan penambahan 0,02-0,03 detik bagi ventrikel untuk meningkatkan tekanan yang cukup untuk mendorong katup-katup semilunaris aorta dan semilunaris arteri pulmonalis, membuka melawan tekanan dalam aorta dan arteri pulmonalis. Selama periode ini terjadi kontraksi pada ventrikel tetapi tidak terjadi pengosongan.Periode ini dinamakan periode kontraksi sistemik.
Selama ¼ terakhir diastole ventrikel hampir tidak ada aliran darah dari vetrikel masuk ke arteri besar walaupun otot ventrikel tetap berkontraksi.
Pada akhir systole relaksasi ventrikel mulai dengan tiba-tiba, mungkin tekanan dalam ventrikel turun dengan cepat. Peningkatan tekanan dalam arteri besar tiba-tiba mendorong darah kembali kea rah ventrikel, menimbulkan bunyi penutupan katup aorta dan pulmonal dengan keras selama 0,03-0,06 detik. Selanjutnya otot ventrikel relaksasi dan tekanan dalam ventrikel turun dengan cepat kembali ke tekanan diastole yang sangat rendah.Katup atrium dan ventrikel membuka mengawali siklus pompa ventrikel yang baru.
Selama diastole, pengisian ventrikel dalam keadaan normal meningkatkan volume setiap ventrikel sekitar 120-130 ml. Volume ini dinamakan volume akhir diastolic.Pada waktu ventrikel kosong selama systole, volume berkurang kira-kira 70 ml, dinamakan isi sekuncup.Volume yang tersisa dalam tiap-tiap ventrikel sekitar 50-60 ml dinamakan volume akhir sistolik.
Katup trikuspidalis dan katup bikuspidalis mencegah pengaliran balik darah dari ventrikel ke atrium selama systole.Katup semilunaris aorta dan katup semilunaris arteri pulmonalis mencegah alirab balik dari aorta dan arteri pulmonalis ke dalam ventrikel selama periode diastole. Semua katup ini membuka dan menutup secara pasif yaitu akan menutup bila selisih tekanan yang membalik mendorong darah kembali dan membuka bila selisih tekanan ke depan mendorong darah kearah depan.
Seseorang yang seang istirahat jantungnya memompakan darah 4-6 liter/menit, Dalam keadaan kerja berat mungkin diperlukan pemompaan darah sebanyak 5 kali dari jumlah tersebut. Dua cara dasar pengaturan kerja pemompaan jantung.
Pembuluh darah adalah prasarana jalan bagi aliran darah ke seluruh tubuh.Saluran darah ini merupakan system tertutup dan jantung sebagai pemompa darah.Fungsi pembuluh darah adalah mengangkut (transportasi) darah dari jantung ke seluruh bagian tubuh dan mengangkut kembali darah yang sudah dipakai kembali ke jantung.Fungsi ini disebut sirkulasi darah.Selain darah itu juga darah mengangkut gas-gas, zat makanan, sisa metabolisme, hormone, antibodi, dan keseimbangan elektrolit.
Klasifikasi pembuluh darah dibagi menjadi 5 jenis yaitu:
1.Arteri:dindingnya kuat, tebal dan elastis yang terdiri dari Tunika intima dalam berhubungan dengan darah terdiri darijaringan endotel,tunika Media, lap. tengah tdd jar. otot polos bersifat elastis,tunika eksterna / adventisia, lap luar tdd jar ikat berguna menguatkan arteri,tunika intima diperdarahi oleh darah yg mengalir di pembuluh darah, tunika media dan adventisia diperdarahi oleh vasa vasorum.Dipersarafi oleh saraf otonom : vasomotor : vasokontriktor dan vasodilator. sehingga dapat berkontriksi atau berdilatasi.
2.Arteriola:dindingnya tdd otot polos dan sedikit serabut elastis,tunika adventisia tipis,dapat berkontraksi dan berdilatasi,berperan dlm mempertahankan tekanan darah.
3.Kapiler: dinding hanya terdiri satu lapis sel yaitu tunika intima
Fungsi :Penghubung arteri dan vena,tempat pertukaran zat,menyerap zat makanan (pada usus)menyaring darah/filtrasi (pada ginjal)
4.Venula:berfungsi sebagai saluran pengumpul,dindingnya lemah tetapi peka
pada pertemuan antara kapiler dan venula terdapat sfingter postkapiler.
5.Vena:membawa darah ke jantung,dinding terdiri atas 3 lapisan seperti arteri tetapi lebih tipis,sifatnya dibandingkan dengan arteri:vena kurang elastis,mempunyai katup,lebih cepat kolap.Fisiologi otot jantung struktur dinding jantung terdiri atas 3 lapisan :a). Epikardium, lapisan terluar strukturnya sama dengan pericardium visceral,b).Miokardium, lapisan tengah terdiri dari otot menentukan kekuatan kontraksi,c).Endokardium lapisan terdalam terdiri dari jaringan endotel juga menutupi katup-katup jantung,Perikardium (pembungkus luar jantung) terdiri atas lapisan Parietal yaitu lapisan fibrous bagian luar. Dan Lapisan visceral yaitu membran serous bagian dalam melekat pada jantung. Diantara lapisan tersebut terdapat cairan serus sebagai lubrication.
Pembuluh darah terdiri atas arteri dan vena.Arteri berhubungan langsung dengan vena pada bagian kapiler dan venula yang dihubungkan oleh bagianendotheliumnya.Arteri dan vena terletak bersebelahan.Dinding arteri lebih tebal dari pada dinding vena.Dinding arteri dan vena mempunyai tiga lapisan yaitu lapisan bagian dalam yang terdiri dari endothelium, lapisan tengah yang terdiri atas otot polos dengan serat elastis dan lapisan paling luar yang terdiri atas jaringan ikat ditambah dengan serat elastis.Cabang terkecil dari arteri dan vena disebut kapiler.Pembuluh kapiler memiliki diameter yang sangat kecil dan hanya memiliki satu lapisan tunggalendothelium dan sebuah memb Pembuluh darah terbagi atas Pembuluh darah arteri yang berperan sebagai tempat mengalir darah yang dipompa dari bilik merupakan pembuluh yang liat dan elastis,tekanan pembuluh lebih kuat dari pada pembuluh balik,memiliki sebuah katup (valvula semilunaris) yang berada tepat di luar jantung.Aorta yaitu pembuluh dari bilik kiri menuju ke seluruh tubuh, arteriol yaitu percabangan arteri,   kapiler :(1)  Diameter lebih kecil dibandingkan arteri dan vena,(2)  Dindingnya terdiri atas sebuah lapisan tunggal endothelium dan sebuah membran basal.Pembuluh Balik (Vena)    terletak di dekat permukaan kulit sehingga mudah di kenali dan inding pembuluh lebih tipis dan tidak elastis,ekanan pembuluh lebih lemah di bandingkan pembuluh nadi,terdapat katup yang berbentuk seperti bulan sabit (valvula semi lunaris) dan menjaga agar darah tak berbalik arah.terdiri dari :Vena cava superior yang bertugas membawa darah dari bagian atas tubuh menuju serambi kanan jantung,Vena cava inferior yang bertugas membawa darah dari bagian bawah tubuh ke serambi kanan jantung serta vena cava pulmonalis yang bertugas membawa darah dari paru-paru ke serambi kiri jantung.ran basal.
4.2.1 Pemeriksaan Tekanan Darah
Tekanan di dalam pembuluh darah dipengaruhi oleh tahanan pembuluh-pembuluh darah dan aliran darah.Pada saat sistolik,darah menekan kesegala arah sepanjang pembuluh darah yang menyebabkan pembuluh elastis yang mengembang.Pada saat diastole,pembuluh ini akan menyempit kembali sehingga menyebabkan darah terdorong maju.Dengan demikian aliran darah tetap ada baik selama jantung berkontraksi(sistole) maupun selama relaksasi(diastole). Pernyataan ini sesuai dengan pendapat Rikayasa (2006 )yang menyatakan bahwa pada pemeriksaan tekanan darah akan didapat dua angka. Angka yang lebih tinggi diperoleh pada saat jantung berkontraksi (sistolik), angka yang lebih rendah diperoleh pada saat jantung berelaksasi (diastolik). Hal ini sejalan dengan pendapat frandson (2001) bahwa Tiap kontraksi sistolis dai ventrikel kiri mendorong lebih banyak darah ke dalam arteri dan anteriol yang telah terisi darah dari tekanan distolik. Darah tambahan pada setiap systole akan lebih memekarkan arteri. Gelombang tekanan sistolik yang bermula dari jantung dan menyebar ke seluruh jaringan atorial disebut pulsa atau gelombang pulsa. Gelombang ini dapat dirasakan dalam arteri di dekat permukaan badan, terutama apabila arteri dapat ditekan ke arah tulang yang terdekat di dekatnya ataupun ke arah struktur lain yang padat.Tekanan darah kurang dari 120/80 mmHg didefinisikan sebagai "normal".Pada tekanan darah tinggi, biasanya terjadi kenaikan tekanan sistolik dan diastolik.Hipertensi biasanya terjadi pada tekanan darah 140/90 mmHg atau ke atas, diukur di kedua lengan tiga kali dalam jangka beberapa minggu.
Penentuan tekanan darah merupakan  salah satu yang sangat penting untuk keperluan klinik.Melalui tekanan darah dapat di ketahui fisiologi kardiovaskuler.Tekanan darah dapat di ukur dengan metode tidak langsung dilakukan dengan cara pengukuran tekanan arteri dari luar dengan mendengarkan denyut arteri(menggunakan stetoskop).Cara ini disebut juga metode auscultatory.Prinsip dari metode ini adalah apabila arteri di tekan keluar  dengan tekanan yang melebihi tekanan  darah lateral,maka pembuluh darah arteri tersebut akan terjepit dan menutup akibatnya aliran darah akan terhenti.Apabila tekana dari luar dikurangi pada saat tekanan menjadi lebih rendah dari tekanan latera,maka pembuluh darah akan membuka  serta mengalirkan daarah dalam waktu yang pendek pada puncak tekanan sistole.Jika tekanan luar makin di kurangi maka pembukaan dan pengaliran darah waktunya sama dengan siklus jantung.Pada saat tekanan luar mulai lebih rendah dari tekanan lateral sewaktu jantung dalam keadaan diastole,maka aliran darah kontinyu sepanjang seluruh siklus jantung.
Gambar . Stetoskop

Gambar 27. Sphygmomanometer


4.2.2 Bunyi Jantung
Bunyi jantung dapat kita mendengar bunyi jantung normal,yang biasanya dideskripsikan sebagai 'lub,dub,lub,dub..' Bunyi 'lub' dikaitkan dgn penutupan katup atrioventrikular (A-V) pd permulaan sistol,dan bunyi 'dub' dikaitkan dgn penutupan katup semilunaris (aorta dan pulmonaris) pada akhir sistol. Bunyi ‘lub’ disebut bunyi jantung pertama dan ‘dub’ sebagai bunyi jantung kedua,karena siklus normal jantung dianggap dimulai pada permulaan sistol ketika katup A-V menutup.Pernyataan ini sesuai pendapat Sarkayasa ( 2008 ) yang menyatakan bahwa bunyi jantung kedua secara normal memiliki frekuensi lebih tinggi daripada bunyi jantung pertama pada saat melakukan pernapasan yang berlangsung tanpa kita sadari. Ketegangan katup semilunaris jauh lebih besar daripada katup A-V.2. Koefisien elastisitas arteri lebih besar sehingga ruang2 utama jantung bergetar selama bunyi kedua bila dibandingkan dgn ruang ventrikel yang jauh lebih longgar saat menimbulkan sistem getaran pada bunyi jantung pertama. 
4.2.3 Test Kemampuan Fisik
Salah satu indikator kesehatan jantung adalah terjadinya peningkatan denyut nadi pada saat beristirahat. Waktu yang tepat untuk mengecek denyut nadi adalah saat kita bangun pagi dan sebelum melakukan aktivitas apapun.Pada saat itu kita masih relaks dan tubuh masih terbebas dari zat-zat pengganggu seperti nikotin dan kafein.Kita dapat mengecek sendiri dengan merasakan denyut nadi kita di bagian tubuh tertentu. Test Scheneider merupakan test kemampuan fisik klasik yang digunakan sejak tahun 1920 untuk menguji status kesehatan seseorang atau efisiensi sirkulasi darahnya.
Kemampuan fisik(physichal fitness) adalah kesanggupan atau ketahanan seseorang untuk melakukan kerja otot dengan memuaskan dibawah kondisi khusus.Kemampuan fisik seseorang sangat bergantung pada komponen-komponen dari sistemtransport oksigen,pernafasan,kardiovaskuler,otot,dan sistem enzim didalam tubuh.Selain itu,kemampuan fisik seseorang kuga ditentukan oleh genetik,komsumsi makanan sehari-hari,latihan –latihan yang dilakukan dan faktor-faktor lain.Kondisi fisik ini dapat diperbaiki dengan latihan-latihan tertentu.Penentuan kemampuan fisik seseorang dapat dilakukan dengan melakukan pemeriksaan faali alat pernafasan,faali jantung(frekuensi nadi dan tekanan darah),kemampuan kerja otot,kerja yang dihasilkan dan lain-lain.
Pada orang yang sedang atau sesudah melakukan aktivitas olahraga,darah yang keluar dari jantung (cardiac output=volume darah yang dipompakan oleh setiap ventrikel per menit) meningkat dengan cepat,sehingga mengakibatkan frekuensi denyut jantung meningkat.Sebagai akibat lebih lanjut adalah terjadinya peningkatan tekanan darah karena tekanan darah  merupakan produk dari cardiac output.Pada sistem pernafasan,ventilasi alveolar (pertukaran antara udara yang masuk ke paru-paru dengan alveoli) juga meningkat yang diakibatkan oleh peningkatan tekanan CO2 dan O2 didalam darah.
Untuk mengetaui kemampuan fisik yang mengindikasikan status kesehatan seseorang dapat dilakukan dengan test kemampua fisik untuk mengetahui kesanggupan jantung dan paru-parunya dalam melakukan suatu kegiatan.Ada beberapa test kemampuan fisik yaitu:maximum oxygen consuption(VO2 max),Pengiraan VO2max (ml/kg/min)cara cooper,test dingin,test schneider,test harvard step,test ratio tuttle pulsus.

4.2.3.a Maximum Oxygen Consumption
Maximum oxygen consumption (VO2 max) adalah pengambilan oksigen yang tertinggi,yang dicapai oleh seseorang yang sehat pada waktu latihan otot mencapai kelelahan yang yang maksimum dengan berjalan diatas treadmill atau pada bentuk latihan yang melibatkan keaktifan dari sejumlah besar otot.Pengambilan oksigen meksimum disebut juga aerobis capacity.
4.2.3.b Pengiraan VO2max(ml/kg/min) cara cooper
Tabel 11.Tingkat kemampuan aerobic dan VO2max(ml/kg/min)

Kelompok Umur
Laki-laki
Wanita
Sangat rendah
rendah
sedang
tinggi
Sangat tinggi
Sangat rendah
rendah
sedang
tinggi
Sangat tinggi
12-17
34
39
44
49
54
30
35
40
45
50
18-23
34
39
44
49
54
28
33
38
43
48
24-29
32
37
42
47
52
26
31
36
41
46
30-35
30
35
40
45
48
22
27
32
37
42
36-41
28
33
38
43
47
21
26
31
36
41
42-47
26
31
36
41
46
20
25
30
35
40
48-53
24
29
34
39
44
18
23
28
33
38
54-59
22
27
32
37
42
16
21
26
31
36
60 keatas
20
25
30
35
40
14
19
24
29
34



Tabel 12. Tingkat kemampuan aerobik untuk berlari  selama 12 menit dan VO2 max (ml/kg/menit)
Jarak (km)
VO2max(ml/kg/min)
Tingkat kemampuan (umur<40)
<1.61
<25.0
Sangat jelek
1.61-1.99
25.0-33.7
jelek
2.00-2.39
33.8-42.6
cukup
2.40-2.80
42.7-51.5
baik
2.81 atau lebih
51.6 atau lebih
Sangat baik



4.2.3.c Test Scheneider
Test ini merupakan test kemampuan fisik klasik yang digunakan sejak tahun 1920 untuk menguji status kesehatan seseorang atau efisisensi sirkulasi darahnya.Interprestasi skor schneider:
  • 15        :sangat baik
  • 12-14   :baik
  • 9-11     :cukup
  • <9        :buruk
Tabel 13.Test Schneider
Berdiri
Duduk
Berbaring
Berdiri satu kaki
Berdiri diatas kursi
90.1
78.5
70.2
86.5
80.1

Dari tabel tersebut dapat diketahui bahwa semakin banyak aktivitas atau semkin berat aktivitasnya,maka akan semakin tinggi pula frekuensi denyut nadinya artinya frekuensi denyut nadi sangta di pengaruhi oleh aktivitas yang dilakukan.

4.2.3.d Test Harvard Step
Ada dua cara pelaksanaan test harvard step yaitu cara lambat dan cara cepat.Test harvard step dapat dilakukan dengan menggunakan rumus atau menggunakan tabel harvard.
1.Cara lambat
            Praktikan melalukan kegiatan naik turun bangku dengan irama 30 kali dalam  1 menit(satu kali naik turun bangku 2 detik).Percobaan ini tidak boleh lebih dari 5 menit(gunakan waktu maaksimal 5 menit).Sesudah latihan ini,praktikan duduk dan denyut nadinya dihitung berturut-turut selama 30 detik,yaitu dari 1 menit sampai 3 menit lebih 30  detik.Selanjutnya kemampuan fisik praktikan tersebut di hitung dengan menetapkan angka  indeks kemampuan fisik(AIK) dengan rumus sebagai berikut:

            AIK=lama naik turun bangku(detik)x 100
                      2x(jumlah 3 bilangan nadi terhitung)
Interprestasi AIK adalah sebagai berikut:
  • <55      :kemampuan kurang
  • 55-64   :kemampuan sedang
  • 65-79   :kemampuan cukup
  • 80-89   :kemampuan baik
  • >90      :kemampuan amat baik




Tabel 14. Hasil test harvard step cara lambat

Nama
Waktu
30 detik(1)
30 detik(2)
30 detik(3)

Rico Syaefudin

79

52

27






2.Cara cepat
a.Dengan menggunakan rumus
            AIK=lamanya naik turun bangku (detik)x100
                        5.5xnadi yang terhitung pada 30 detik pertama
            Caranya sama seperti pada cara lambat hanya di tetapkan bilangan nadi terhitung satu kali saja yaitu selama 30 detik setelah percobaan selesai dari i menit sampai 1 menit 30 detik.
Tabel 15.Hasil test harvard step cara cepat
Nama
30 detik
Rico
80






Tabel 16.Hasil Test Harvard step
Kelompok
Nama
jumlah
1 menit
5 menit
total
7
Rico
79
52
27
158
8
Dicky
56
56
50
160
9
Amin
60
64
53
197
10
Fadhol
90
63
34
209
11
Anugra
70
78
40
188

Tabel 17. Interprestasi
Nama
Interprestasi
Anugra
79.78(cukup baik)
Amin
75.56(cukup)
Dicky
93.75(amat baik)
Rico

94.93(amat baik)
Fadhol
71.77(cukup)

            Pengaruh frekuensi denyut jantung tiap orang berbeda.Ditentukan dari jenis kelamin,umur,dan aktivitas yang dilakukan sehingga frekuensi denyut jantun masing-masing individu berbeda dengan individu lain.Denyut jantung normal ditandai dengan bunyi lup dub lup dub.Sistem organ yang lain aktivitas jantung dalam melaksanakan tugasnya dipengaruhi oleh system saraf. Sistem ini bekerja dengan kombinasi tertentu dan fungsional. Saraf ini misalnya efferens, saraf cardial anhibitory dan saraf accelerate. Sedangkan kecepatan denyut jantung dapat dipengaruhi oleh temperatur manusia tersebut, aktivitas tubuh, letak geografis dan penyakit/strees,serta kondisi fisiknya.Hal ini sejalan denganpendapat Duke(2000) yang menyatakan bahwa kecepatan deenyut jantung dapat di pengarruhi oleh temperatur tubuh,aktivititas tubuh,letak heografis serta penyakit dan stress.


BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Dari seluruh kegiatan hasil praktikum yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa setiap aktivitas yang dilakukan didapat hasil praktikum yang sesuai dengan petunjuk buku pedoman dan menggunakan waktu lama, ada juga kegiatan praktikum yamg dilalui dengan menggunakan waktu yang relatif lebih cepat dari pada kegiatan – kegiatan lain, dan terkadang ada juga dari kegiatan praktikum yang dilakukan hasilnya gagal atau tidak sesuai dengan ketentuan buku pedoman (diktat) maupun dari petunjuk dosen dan asisten dosen dimana setiap kegiatan dilakukan dengan konsentrasi, ketelitian yang penuh dan ekstra hati- hati agar praktikum tersebut berhasil.
Adapun kesimpulan dari praktikum Anatomi dan Fisiologi ternak mengenai fisiologi darah yaitu darah merupakan bagian yang penting bagi suatu makhluk hidup terutama hewan dan manusia karena darah memiliki fungsi sebagai alat transportasi yaitu pembawa zat-zat makanan dan oksigen ke seluruh sel di dalam tubuh, pembawa karbondioksida dan zat sisa metabolisme atau zat yang berbahaya lainnya untuk dibuang, mempertahankan lingkungan asam basa, mempertahankan homeostatis, serta sebagai pertahanan tubuh dengan cara menghancurkan mikroorganisme (antigen) melalui fagositosis dan aktivitas antibodi. Darah terdiri atas plasma darah 45-65% dan sel-sel darah 35-55%. Tiap bagian-bagian darah memiliki fungsinya masing-masing.
Kesimpulan dari praktikum Fisiologi Kardiovaskuler yaitu tekanan darah pada setiap orang berbeda-beda dan kesanggupan jantung setelah melakukan suatu kegiatan dapat dihitung dengan menggunakan rumus cepat dan lambatJantung sebaiknya dijaga dengan cara menuju jantung sehat yang paling utama adalah dengan mengubah gaya hidup ( therapeutic lifestyle change). 


5.2 Saran
Untuk kedepan pada setiap kegiatan praktikum, sebaiknya segala sesuatu yang berhubungan dengan yang akan dipraktikumkan dipersiapkan terlebih dahulu seperti alat dan bahan yang akan dipraktikumkan, penguasaan materi sebelum praktikum juga harus diperhatikan, harus lebih disiplin baik waktu maupun pada saat bekerja dan pada saat praktikum hendaknya terlaksana dengan tertib dan lebih kondusif serta semakin meningkatkan kerja sama kelompok agar lebih efektif dan mencapai hasil yang maksimal.




           






  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar