RSS

Pendahuluan Laporan praktikum semester ANFISTER Mega Selfia Situmorang



BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Ilmu peternakan merupakan ilmu yang mempelajari tentang segala jenis hewan baik itu ruminansia,unggas,dan aneka ternak. Landasan dari ilmu peternakan ini adalah pengetahuan,ilmu pengetahuan itu banyak cara untuk mendapatkannya dan banyak yang dapat dijadikan sumber.Salah satunya yaitu dengan cara praktikum atau percobaan. Oleh karena itu dilakukan praktikum agar dapat memperoleh ilmu pengetahuan baik berupa teori maupun prakteknya,yang dapat kita gunakan sekarang dan nantinya dalam pengembangan skill kita. Dalam hal ini terdapat beberapa sub judul yang akan di praktikkan antara lain:Fisiologi darah,Pemeriksaan hematologi,dan Fisiologi kardiovaskuler.
Didalam tubuh terdapat suatu jaringan yang sangat penting yaitu darah. Darah merupakan suatu jaringan pengikat dengan sel-selnya terendam dalam cairan matriks atau plasma darah yang terdiri dari senyawa organik da anorganik.Suatu contoh darah dapat memberikan gambaran tentang keadaan darah pada waktu di peroleh,namun apabila diambil berulang-ulang dalam jangka waktu tertentu akan  memperlihatkan perubahan faali atau patologis.Ilmu yang mempelajari tentang darah disebut hematologi.Darah mempunyai fungsi sebagai transportasi yaitu pembawa zat-zat makanan dan oksigen ke seluruh sel di dalam tubuh,pembawa karbondoioksida dan zat sisa metabolisme atau zat berbahaya lainnya untuk dibuang,mempertahankan lingkungan asam basa,mempertahankan homeostasis serta sebagai pertahanan tubuh dengan cara menghancurkan mikroorganisme(antigen) melalui fagositosis dan aktivitas antibodi.Secara umum,volume total darah manusia berkisar antara 7-8% dari berat badan,terdiri dari plasma darah 45-65% dan 35-55% sel-sel darah.Sel-sel darah terdiri dari sel darah merah(eritrosit),sel darah putih(leukosit),keping-keping darah(trombosit).
Jantung merupakan organ terpenting dalam peredaran darah,yang memiliki fungsi sebagai pemompa darah untuk dialirkan atau disirkulasikan keseluruh tubuh melalui pembuluh darah.Jantung (bahasa latin, cor) adalah sebuah rongga, organ berotot yang memompa darah lewat pembuluh darah oleh kontraksi berirama yang berulang.Ukuran jantung manusia kurang lebih sebesar kepalan tangan seorang laki-laki dewasa. Jantung adalah satu otot tunggal yang terdiri dari lapisan endothelium. Jantung terletak di dalam rongga thoracic, di balik tulang dada/sternum. Struktur jantung berbelok ke bawah dan sedikit ke arah kiri.Jantung hampir sepenuhnya diselubungi oleh paru-paru, namun tertutup oleh selaput ganda yang bernama perikardium, Lapisan pertama menempel sangat erat kepada jantung, disebut dengan perikardium viseral, yang dipersarafi oleh saraf tonom. Sedangkan lapisan luarnya lebih longgar yang dinamakan dengan perikardium parietal.Secara internal, jantung terbagi atas 4 ruangan, 2 atrium (serambi) dan 2 ventrikel (bilik). Dinding otot ventrikel lebih tebal dibandingkan atrium, terkait dengan fungsinya dalam memompa darah ke seluruh tubuh.Secara skematis, urutan perjalanan darah dalam sirkulasinya pada manusia, yaitu :Darah dari seluruh tubuh – bertemu di muaranya pada vena cava superior dan inferior pada jantung – bergabung di Atrium kanan – masuk ke ventrikel kiri – arteri pulmonalis ke paru – keluar dari paru melalui vena pulmonalis ke atrium kiri (darah yang kaya O2) – masuk ke ventrikel kiri, kemudian dipompakan kembali ke seluruh tubuh melaui aorta. Keluar masuknya darah, ke masing-masing ruangan, dikontrol juga dengan peran 4 buah katup di dalamnya.(1) Katup trikuspidal – katup yang terletak antara atrium kanan dan ventrikel kanan.(2) Katup mitral – katup yang terletak antara atrium kiri dan ventrikel kiri.(3).Katup pulmonalis – katup yang terletak antara ventrikel kanan ke arteri pulmonalis (4).      Katup aorta – katup yang terletak antara ventrikel kiri ke aorta.
Preparat natif darah merupakan cara yang digunakan untuk melihat bbentuk dari sel-sel darah baik darah mamalia,unggas.Selain itu,dapat pula diperhatiakn ada tidaknya sel yang mengalami pengkerutan(krenasi) dan bentuk roleaux dan mengamati ada tidaknya mikroorganisme pasa darah.Pada preparat natif darah akan terlihat bentuk (formasi) eritrosit yang saling berlekatan membentuk deretan seperti uang logam yang di deretkan.Formasi seperti ini disebut roleux.Selain itu,terlihta juga mikroorganisme di dalam darah  misalnya larva cacing dirofilaria imitis,parasit seperti trypanosoma,babesia,theileiria,malaria dan lain-lain apabila diantara sel-sel darah mengalami infeksi.
Waktu pendarahan dilakukan untuk menentukan lama perdarahan untuk menilai faktor-faktormhomeostasis yang letaknya ekstravaskuler tetapi keadaan dinding kapiler dan jumlah trombosit juga berpengaruh.Waktu pendarahan normal sekitar 1-6 menit.Apabila perdarahan terus berlangsung lebih dari 10 menit menunjukkan adanya kelainan dalam sistem homeostasis.
Waktu beku darah(koagulasi) merupakan salah satu faktor penting     dalam menghentikan suatu perdarahan.Didalam tubuh ada 2 mekanisme koagulasi darah yaitu secara intrinsik dan secara eksikator yang dirancang oleh tubuh untuk saling melengkapi dalam mengatasi trauma ringan sehari-hari terhadap pembuluh darah.Mekanisme intrinsik merupakan serangkaian reaksi enzimatik yang diwali apabila darah bersentuhan dengan permukaan asing.Mekanisme ekstrinsik adalah serangkaian ekstrinsik adalah serangkaian reaksi yang terjadi apabila kerusakan pembuluh darah cukup parah,sehingga jaringan sekitar terkena dan akan berakibat keluarnya jaringan yang mengandung lipoprotein yang khas yaitu tromboplastin jaringan yang akan mengaktivasi faktor X secara langsung.
Laju endap darah (LED) adalah sebuah pengukuran seberapa cepat sel-sel darah merah jatuh ke dasar sebuah tabung uji. Ketika pembengkakan dan peradangan hadir, protein darah mengumpul dan menjadi lebih berat dari biasanya. Jadi, ketika diukur, mereka mengendap dan berkumpul lebih cepat di bagian bawah dari tabung uji. Umumnya, semakin cepat sel-sel darah turun, lebih parah peradangan. LED adalah gambaran komposisi plasma dan perbandingan antara eritrosit dan plasma. Darah dengan antikoagulan yang dimakksudkan ke dalam tabung bervolume kecil dan diletakan tegak lurus selama 1 jam akan menunjukkan pengendapan eritrosit dengan kecepatan yang ditentukan oleh rasio permukaan perbandigan volume eritrosit
Hemolisis adalah pecahnya membran eritrosit, sehingga hemoglobin bebas kedalam medium sekelilingnya (plasma).Kerusakan membran eritrosit dapat disebabkan oleh antara lain penambahan larutan hipotonis, hipertonis kedalam darah, penurunan tekanan permukaan membran eritrosit, zat/unsur kimia tertentu, pemanasan dan pendinginan, rapuh karena ketuaan dalam sirkulasi darah dll.Apabila medium di sekitar eritrosit menjadi hipotonis (karena penambahan larutan NaCl hipotonis) medium tersebut (plasma dan lrt. NaCl) akan masuk ke dalam eritrosit melalui membran yang bersifat semipermiabel dan menyebabkan sel eritrosit menggembung. Bila membran tidak kuat lagi menahan tekanan yang ada di dalam sel eritrosit itu sendiri, maka sel akan pecah, akibatnya hemoglobin akan bebas ke dalam medium sekelilingnya. Sebaliknya bila eritrosi berada pada medium yang hipertonis, maka cairan eritrosit akan keluar menuju ke medium luar eritrosit (plasma), akibatnya eritrosit akan keriput (krenasi). Keriput ini dapat dikembalikan dengan cara menambahkan cairan isotonis ke dalam medium luar eritrosit (plasma).
Hematokrit (Ht) adalah persentase seluruh volume eritrosit yang dipisahkan dariplasma dengan cara memutarnya didalam tabung khusus dengan waktu dan kecepatan tertentu dimana nilainya dinyatakan dalam persen (%). Untuk tujuan ini, darah diambil dalam semprit dengan volume yang telah ditetapkan dan dipindahkan kedalam suatu tabung khusus berskala hematokrit (tabung wintrobe). Untuk pemeriksaan hematokrit darah tidak boleh dibiarkan menggumpal sehingga harus diberi antikoagulan. Setelah tabung tersebut diputar dengan kecepatan dan waktu tertentu, maka eritrosit akan mengendap.
Hemoglobin adalah metaloprotein (protein yang mengandung zat besi) di dalam sel darah merah yang berfungsi sebagai pengangkut oksigen dari paru-paru ke seluruh tubuh,pada mamalia dan hewan lainnya. Hemoglobin juga pengusung karbon dioksida kembali menuju paru-paru untuk dihembuskan keluar tubuh. Molekul hemoglobin terdiri dari globin, apoprotein, dan empat gugus heme, suatu molekul organik dengan satu atom besi.
Leukosit adalah salah satu bagian darah yang penting peranya dalma tubuh, leukosit atau biasa disebut sel darah merah berfungsi fagosit yaitu memakan kuman atau penyakit dan benda asing yang menyerang tubuh seperti bakteri..
Jumlah leukosit lebih sedikit dibandingkan dengan eritrosit. Padalaki-laki dan perempuan dewasa setiap mm kubiknya darah hanya terdapat kira-kira4.500 sampai 10.000 jumlah butir. Leukosit mempunyai bentuk bervariasi danmempunyai ukuran lebih besar dari eritrosit. Leukosit mempunyai inti bulat dancekung. Sel-sel ini dapat bergerak bebas secara amuboid serta dapat menembus dinding kapiler (diapedesis). Di dalam tubuh,leukosit tidak berasosiasi secara ketatdengan organ atau jaringan tertentu, mereka bekerja secara independen seperti organisme sel tunggal. Leukosit mampu bergerak secara bebas dan berinteraksi dan menangkap serpihan seluler, partikel asing, atau mikroorganisme penyusup. Selain itu, leukosit tidak bisa membelah diri atau bereproduksi dengan cara mereka sendiri, melainkan mereka adalah produk dari sel punca hematopoietic pluripotent yang ada pada sumsum tulang.
Fisiologi kardiovaskuler sangat erta kaitannya dengan jantung.Jantung merupakan organ yang paling penting untuk peredaran darah.Jantung berfungsi untuk memompa darah untuk dialirkan dan disirkulasikan ke seluruh tubuh melalui pembuluh darah(vessel).Pembuluh yang darah mengalirkan darah dari jantung ke seluruh tubuh disebut arteri sedangkan pembuluh yang mengedarkan darah dari jaringan ke seluruh tubuh adalah vena.Jantung terbagi tasa bagian kanan dan kiri yang masing-masing terdiri atas atrium yang menerima darah dari vena-vena besar dan ventrikel yang memompa darah ke jantung melalui arteri besar.Antara atrium dan ventrikel terdapat satu katup yang disebut atrioventrikularis .Katup atrioventrikularis bagian kiri jantung disebut katup bikuspidalis dan katup bagian kanan jantung di sebut katup trikuspidalis.
1.2  Tujuan dan Manfaat
Pada hal ini ada beberapa praktikum yang harus dilakukan preparat natif darah,waktu pendarahan,waktu beku darah,hemolisis dan ketahanan osmotik eritrosit,hematokrit,hemoglobin,menghitung sel darah merah dan menghitung sel darah merah serta differensial leukosit9leukogram).
Tujuan dari praktikum preparat natif darah adalah untuk mengamati,memperhatikan bentuk sel darah pada unggas dan mamalia,mengamati dan memperhatikan ada tidaknya sel yang mengalami pengkerutan(krenasi) dan bentuk roleaux,serta mengamati ada tidaknya mikroorganisme didalam darah.
Tujuan pada praktikum waktu perdarahan adalah untuk menentukan lama waktu perdarahan dengan metode Duke.Tujuan praktikum waktu beku darah adalah untuk menentukan waktu beku darah (waktu koagulasi darah ternak atau manusia.
Tujuan praktikum Laju Endap Darah adalah untuk menentukan laju endap darah menggunakan tabung wastergreen.
Tujuan praktikum hemolisis adalah untuk mengamati hemolisis darah dan keriput pada membran peritrosit(krenasi) akibat perubahan larutan medium darah dan untuk menentukan batas konsentrasi NaCl dari medium dimana eritrosit mulai lisis(minimum resistance) hingga hemolisis total(maximum resistance).
Tujuan praktikum hematokrit dalah untuk menetukan nilai hematokrit(% volume eritrosit di dalam darah) demgan metode mikrohematokrit.
Tujuan praktikum hemoglobin adalah untuk menentukan kadar hemoglobin didalam darah menurut metode sahli.Tujuan menghitung jumlah sel darah adalah untuk mengetahui jumlah sel darah merah sapi dan ayam per mm darah dan untuk mengetahui jumlah sel darah putih sapi dan ayam per mm darah.
Tujuan praktikum diferensial leukosit(leukogram) adalah untuk mempelajari cara membuat preparat ulas/apus darah,mengamati berbagai macam bentuk sel-sel darah pada preparat darah perifer serta menghitung % jenis sel darah putih pada preparat ulas darah perifer.
Tujuan dari praktikum fisiologi kardiovaskuler antara lain untuk memepelajari cara pengukuran tekanan darah secara tidak langsung,untuk mendengarkan bunyi jantung,serta untuk menentukan kemampuan fisik (kesehatan) seseorang dengan menilai kesanggupan jantung dan paru-parunya melalui frekuensi denyut nadi setelah melakukan suatu aktivitas atau kegiatan.
Adapun manfaat dari dilaksanakannya praktikum anatomi dan fisiologi ternak  adalah agar kita dapat mengetahui bentuk dari sel-sel darah,mengetahui ada tidaknya sel yang mengalami pengkerutan,mengamati ada tidaknya mikroorganisme pada darah,mengetahui lama perdarahan,lama waktu koagulasi darah,mengamati laju endap darah,mengamati hemolisis darah dan menentukan batas konsentrasi NaCl,menetukan nilai hematokrit darah,menetukan kadar hemoglobin dalam darah,dapat mengetahui jumlah sel darah,dapat mengetahui cara membuat preparat apus darah,mengamati berbagai bentuk sel darah putih serta menghitung % jenis sel darah putih(leukosit) pada preparat ulas darah perifer.Selain itu,kita juga dapat mengetahui bagaimana cara pengukuran tekanan darah,mengukur kemampuan fisik dan bagaimana bunyi dari jantung.









































BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Syaifuddin,2002. Darah memiliki dua komponen penyusun yaitu plasma dan sel darah. Plasma darah merupakan bagian dari komponen darah yang berwarna kekuning-kuningan yang jumlahnya sekitar 60% dari volume darah, sedangkan sel darah adalah komponen selluler dari darah termasuk sel darah merah (eritrosit), sel darah putih (Leukosit) dan keping-keping darah (trombosit).
Aora,2005.Darah merupakan jaringan yang berbentuk cairan yang mengalir keseluruh tubuh melalui vena dan arteri yang memasok oksigen dan bahan makanan keseluruh jaringan tubuh serta mengambil karbondioksida dan sisa metabolisme dari jaringan. Darah memiliki dua komponen penyusun yaitu plasma darah dan sel darah. Plasma darah merupakan bagian dari komponen darah yang berwarna kekuning-kuningan yang jumlahnya sekitar 60 % dari volume darah, sedangkan sel darah adalah komponen seluler dari darah termasuk sel darah merah (Eritrosit), sel darah putih (Leukosit) dan keping-keping darah (Trombosit).
Siregar, H 2000. Darah adalah cairanHemoglobin adalah metalprotein pengangkut oksigen yang mengandung besi dalam sel merah dalam darah mamalia dan hewan lainnya.
Sadikin M, 2002.Darah adalah jaringan tubuh yang yang berbeda dengan jaringan tubuh lain, berada dalam bentuk konsistensi cair, beredar dalam suatu sistem tertutup yang dinamakan sebagai pembuluh darah dan menjalankan fungsi transpor sebagai bahan serta fungsi homeostatis.
Suryo, 2005.Darah terdiri dari dua komponen, yaitu sel sel dan cairannya (plasma). Plasma tanpa fibrinogen biasa kita sebut dengan serum. Pada abad ke 18, terjadi banyak kematian pada resipien tanpa diketahui sebab sebab nya. Namun Landsteiner menemukan bahwa sel sel darah manusia dari beberapa indivisu akan menggumpal ( beraglutinasi ) dalam kelompok kelompok yang dapat dilihat dengan mata telanjang, apabila dicampur dengan serum dari beberapa orang, tetapi tidak dengan semua orang. Kemudian diketahui bahwa dasar dari menggumpalnya eritrosit tadi ialah adanya reaksi antigen antibodi. Apabila suatu substansi asing disuntikkan ke dalam aliran darah dari seekor hewan akan mengakibatkan terbentuknya antibodi tertentu yang akan beraksi dengan antigen.
Underwood,2004.Darah merupakan cairan viskus yang mengalami perubahan pada fisiknya yang dapat ditemukan pada beberapa penyakit. Komposisi darah yang unik suatu suspensi sel yang dapat berubah didalam larutan yang kaya protein menghasilkan sifat fisik yang kompleks. Sebagian besar pembuluh darah, shear rates (misalnya perbedaan velositas antara lapisan cairan) sangat tinggi yang bersebelahan dengan dinding arteri besar sebaliknya shear rates yang rendah terdapat pada vena kecil.
Price,2000.Unsur seluler suluruh darah terdiri dari sel darah merah (eritrosit, RBC atau red blood corpuscules), beberapa jenis sel darah putih (leukosit, WBC atau white blood corpuscules), dan pecahan sel yang disebut trombosit. Fungsi sel darah merah adalah untuk transfor dan pertukaran oksigen serta karbondioksida. Sedangkan sel darah putih bertanggung jawab untuk mengatasi infeksi dan trombosit untuk hemostatis.
Junquiera dkk, 2002.Komponen darah yang lain yaitu platelet (trombosit), yaitu partikel yang menyerupai sel, dengan ukuran lebih kecil daripada sel darah merah atau sel darah putih. Sebagai bagian dari mekanisme perlindungan darah untuk menghentikan perdarahan, trombosit berkumpul pada daerah yang mengalami perdarahan dan mengalami pengaktifan. Setelah mengalami pengaktivan, trombosit akan melekat satu sama lain dan menggumpal untuk membentuk sumbatan yang membantu menutup pembuluh darah dan menghentikan perdarahan. Pada saat yang sama, trombosit melepaskan bahan yang membantu mempermudah pembekuan.
Robert,2003 dalam Mulyani,2006.Darah berfungsi mengedarkan suplai makanan kepada sel-sel tubuh, membawa oksigen ke jaringan-jaringan tubuh, membawa hormon dan enzim ke organ yang memerlukan. Pertukaran oksigen terjadi dari air dengan karbondioksida terjadi pada bagian semipermeable yaitu pembuluh darah yang terdapat di daerah insang. Selain itu, di daerah insang terjadi pengeluaran kotoran yang bernitrogen.Melalui sel darah, suatu organisme dapat pula diketahui sampai mana organisme tersebut mengalami pencemaran, baik itu dari media hidupnya dimana kualitas air tidak memenuhi syarat. Untuk mengetahui lebih lanjut dapat kita lihat dari presentase hematokrit yang terkandung dalam darah.
Handayani W dan  Haribowo A.S, 2008.Darah diproduksi dalam sumsum tulang dan nodus limpa. Volume darah manusia sekitar 7% - 10% berat badan normal dan berjumlah sekitar 5 liter, jumlah ini berbeda tiap-tiap orang. Darah terdiri dari 2 komponen yaitu plasma darah dan butir-butir darah. Plasma darah adalah bagian cair darah yang sebagian besar terdiri atas air, elektrolit dan protein darah. Butir-butir darah (Blood corpuscles) terdiri atas 3 elemen yaitu eritrosit (sel darah merah), leukosit (sel darah putih), dan trombosit (butir pembeku/platelet).
Guyton,2000.Pendarahan yang normal adalah 1-6 menit,dan waktu penjedalan darah 5-8 menit.waktu pendarahan dapat diartikan sebagai waktu yang diperlukan dari darah keluar sampai berhenti.sedangkan sewaktu penjedalan darah adalah waktu yang diperlukan dari darah keluar sampai terjadinya benang-benang fibrin pada tetesan darah,apabila darah keluar dengan waktu yang tidak normal maka darah tersebut rusak atau mengalami kelainan (tercampur bahan lain).
Corwin, EJ, 2007. Sel darah darah merah (eritrosit) tidak memiliki inti sel, eritrosit mempunyai kandung protein hemoglobin, yang mengangkut sebagian besar oksigen dari paru ke seluruh sel tubuh. Sel eritrosit diproduksi di sumsum tulang.
Boedina SK, 2002.Eritrosit terbentuk melalui beberapa tahapan yaitu pembelahan dan perubahan morfologi sel-sel berinti dimulai dari proeritoblas sampai ortokromatik eritroblas, kemudian membentuk eritrosit tidak berinti yang disebut retikulosit dan akhirnya menjadi eritrosit.
Atul mehta & Victor Hoffbrand, 2006.Eritrosit dibentuk dalam sumsum merah tulang pipih, misalnya di tulan dada, tulang selangka, dan di dalam ruas-ruas tulang belakang. Pembentukannya terjadi selama tujuh hari. Pada awalnya eritrosit mempunyai inti, kemudian inti lenyap dan hemoglobin terbentuk. Setelah hemoglobin terbentuk, eritrosit dilepas dari tempat pembentukannya dan masuk ke dalam sirkulasi darah. (Ira P, 2012). Sel darah merah yang sedang berkembang dalam sumsum (eritroblas) memiliki nukleus(inti); inti memadat seiring Maturasi, dikeluarkan sebelum sel darah merah lepas kedalam sirkulasi.
Ira P, 2012.Masa hidup eritrosit hanya sekitar 120 hari atau 4 bulan, kemudian dirombak di dalam hati dan limpa. Sebagian hemoglobin diubah menjadi bilirubin dan biliverdin, yaitu pigmen biru yang memberi warna empedu. Zat besi hasil penguraian hemoglobin dikirim ke hati dan limpa, selanjutnya digunakan untuk membentuk eritrosit baru. Kira-kira setiap hari ada 200.000 eritrosit yang dibentuk dan dirombak. Jumlah ini kurang dari 1% dari jumlah eritrosit secara keseluruhan.
Ira  P , 2012.Eritrosit mempunyai bentuk bikonkaf, seperti cakram dengan garis tengah 7,5 μm dan tidak berinti. Warna eritrosit kekuning-kuningan dan dapat berwarna merah karena dalam sitoplasmanya terdapat pigmen warna merah berupa Hemoglobin.
Boedina SK, 2002.Apabila pada pemeriksaan darah tepi dengan eritrosit sebagian besar mempunyai diameter <7 µm disebut dengan istilah mikrositosis. Hal ini dapat dijumpai pada anemia difisiensi besi, thalasemia, dan anemia karena penyakit menahun. Sedangkan apabila eritrosit dengan diameter lebih dari 9 µm atau lebih besar dari ukuran normal maka disebut makrositosis, hal ini bisa dijumpai pada anemia megaloblastik. Eritrosit yang menunjukkan zone tengah yang lebih pucat dan lebar disebut juga sebagai eritrosit hipokrom, merupakan petunjuk bahwa kadar hemoglobin eritrosit itu rendah. Apabila sebaliknya dengan kondisi terdapat eritrosit muda yang ukurannya lebih besar dari pada eritrosit normal dan berwarna kebiru-biruan biasa disebut dengan polikromasi, hal ini bisa dijumpai pada retikulositosis.
Wikipedia, 2007.Molekul hemoglobin terdiri dari globin, apoprotein dan empat gugus heme, suatu molekul organik dengan satu atom besi.
Wells, 2005 dalam Kuswardani, 2006.Satu gram hemoglobin dapat mengikat sekitar 1,34 ml oksigen. Kadar hemoglobin yang rendah dapat dijadikan sebagai petunjuk mengenai rendahnya kandungan protein pakan, defisiensi vitamin atau ikan mendapat infeksi. Sedangkan kadar tinggi menunjukkan bahwa ikan sedang berada dalam kondisi stress.
Writmann FK, Dsyoghi, 2010.Faktor-faktor yang mempengaruhi waktu pendarahan suatu darah yakni besar kecilnya luka, suhu, status kesehatan, umur, besarnya tubuh dan aktivitas kadar hemoglobin dalam darah. Kisaran waktu pendarahan yang normal adalah 15 hingga 120 detik.
 Indah, 2008.Proses koagulasi atau penggumpalan darah terjadi ketika luka pada tubuh mulai mengeluarkan darah. Sebuah enzim yang disebut tromboplastin yang dihasilkan sel-sel jaringan yang terluka bereaksi dengan kalsium dan protrombin di dalam darah. Akibat reaksi kimia, jalinan benang-benang yang dihasilkan membentuk lapisan pelindung, yang kemudian mengeras.
Puzzy, 2009.Bekuan mulai terbentuk dalam 15 sampai 20 detik bila trauma pembuluh sangat hebat, dan dalam 1 sampai 2 menit bila traumanya kecil.
Sonjaya, 2008.Waktu pendarahan biasanya dapat juga diartikan sebagai waktu ulai keluarnya tetesan darah pertama sampai tidak ada lagi noda di kertas saring atau tissue. Faktor-faktor yang mempengaruhi waktu pendarahan suatu darah yaitu besar kecilnya luka, suhu, status kesehatan, umur, besarnya tubuh dan aktivitas, kadar hemaglobin dalam plasma dan kadar globulin dalam darah.
Wibowo, 2009.Waktu beku darah biasa disebut dengan waktu koagulasi darah. Waktu antara darah masuk sampai terjadi penggumpalan adalah waktu koagulasi rata-rata 4 – 5 menit. Menghitung jumlah eritrosit dapat dilakukan dengan cara manual dan automatik. Menghitung jumlah eritrosit dengan cara manual menggunakan volume yang kecil dan pengenceran yang tinggi memakan waktu dan ketelitiannya kurang, sehingga sekarang ini jarang digunakan. Sebelum ada cara automatik pemeriksaan manual masih sering dipakai namun hanya sedikit yang menunjukkan hasil yang teliti dan dapat dipercaya. Pada umumya pemeriksaan manual memberikan hasil yang meragukan.
Uthman E, 2001.Peningkatan jumlah eritrosit dijumpai pada polistemia vera, dehidrasi, dan hipoksia. Sedangkan penurunan jumlah eritrosit dapat dijumpai pada anemia, perdarahan, hemolisis dan malnutrisi.
Kee JL,2000.Penurunan kadar hematokrit dapat terjadi pada beberapa kondisi tubuh, seperti anemia kehilangan darah akut, leukemia, kehamilan,malnutrisi,gagal ginjal. Sedangkan peningkatan kadar dapat terjadi pada beberapa kondisi : dehidrasi, diare berat, luka baker, pembedehan
Wirawan R, 2004.Pemakaian antikoagulan Na2EDTA  berlebih menyebabkan penurunan dan perubahan degeneratif eritrosit oleh Na2EDTA yang bersifat hiperosmolar, sehingga menyebabkan eritrosit mengerut dan dapat menyebabkan penurunan jumlah eritrosit karena tidak terhitung oleh alat automatik hematology analyzer.
Corwin, EJ, 2007.Sel darah putih (leukosit) dibentuk disumsum tulang dari sel-sel progenitor. Pada proses diferensiasi selanjutnya, sel-sel progenitor menjadi golongan yang tidak bergranula yaitu, limfosit T dan B, monosit, dan magrofag, atau golongan yang bergranula yaitu, neutrofil, basofil, dan eosinofil. Peranan sel darah putih adalah untuk mengenali dan melawan 11    mikroorganisme pada reaksi imun dan untuk membantu proses peradangan dan penyembuhan.
Wirawan. R dan Silman.E, 2001.Hitung jumlah leukosit merupakan pemeriksaan yang digunakan untuk menunjukkan adanya infeksi dan dapat juga untuk mengikuti perkembangan dari suatu penyakit tertentu. Dua metode yang digunakan untuk menghitung jumalah leukosit yaitu metode manual atau mikroskopis dan automatik untuk metode elektronik.
Corwin, EJ, 2007. Leukositosis adalah peningkatan jumlah sel darah dalam sirkulasi. Hal ini merupakan respons normal terhadap infeksi atau proses peradangan. Sedangakan penurunan jumlah leukosit dibawah nilai normal adalah leukopenia, hal ini dapat disebabkan misalnya infeksi virus, penyakit atau kerusakan sumsum tulang, radiasi atau kemoterapi. Penyakit sistemik yang parah misalnya lupus eritrematosus, penyakit tiroid, dan sindrom cushing,dapat menyebabkan penurunan jumlah leukosit.
Depkes,2001.Sel darah putih ( lekosit ) rupanya bening dan tidak berwarna,bentuknya lebih besardari sel darah merah, tetapi jumlah sel darah putih lebihsedikit. Diameter lekosit sekitar10 µm. Batas normal jumlah lekosit berkisar4.000 – 10.000 / mm³  darah.Lekosit di dalam tubuh berfungsi untukmempertahankan tubuh terhadap benda –benda asing ( foreign agents)termasuk kuman – kuman penyebab penyakit infeksi.Lekosit yang berperan adalah monosit, netrofil, limfosit.Lekosit jugamemperbaiki kerusakan vaskuler.Lekosit yang memegang peranan adalaheosinofil sedangkan basofil belum di ketahui pasti.
A.C Guyton,2001.Sel – sel polimorfonuklear dan monosit dalam keadaan normal hanya dibentuk didalam sumsum tulang, sedangkan sel – sel limfosit dan sel – selplasma diproduksi dalam bermacam – macam organ limfoid termasuk limfe,limpa, tonsil, dan bermacam–macamsel – sel limfoid yang lain di dalamsumsum tulang, usus dan sebagainya.Sel – sel darah putih yang di bentuk didalam sumsum tulang, terutama granulosit akan di simpan di dalam sumsumsampai mereka diperlukan di dalam sistem sirkulasi,kemudian bilakebutuhannya meningkat maka akan menyebabkan granulosit tersebutdilepaskan.Dalam keadaan normal granulosit yang bersirkulasi di dalam seluruh alirandarah kira –kira tiga kali daripada jumlah granulosit yang di simpan dalamsumsum, jumlah ini sesuai dengan persediaan granulosit selama enam hari.
F.K Widman,2002.Eosinofil adalah granulosit dengan inti yang terbagi 2 lobus dan sitoplasmabergranula kasar, refraktil dan berwarna merah tua oleh zat warna yangbereaksi asam yaitu eosin.Walaupun mampu melakukan fagositosis eosinofil tidak mampu membunuh kuman.
Depkes,2002.Basofil mempunyai bentuk bulat, dan intinya sukar dilihat sebab tertutupoleh granula.Granulanya sangat besar bulat,berwarna ungu tua, jumlahnyabanyak tetapi letaknya tidak begitu rapat. Kadang – kadang vakuol tampakberwarna pucat dalam sitoplasma.Netrofil Sel – sel ini di sebut lekosit polimorfonuklear karena bentuk intinyabermacam –macam.Ada dua jenis netrofil yaitu netrofil batang dan netrofilsegment. Ciri –cirri netrofil batang : inti berbentuk seperti batang ,bentukginjal atau huruf S, warna ungu tua.Sitoplasma kemerahan dan granulakecil – kecil halus, warna lembayung muda.Sedangkan netrofil segmenberbentuk bulat, sitoplasma kemerah – merahan banyak.Mempunyai intiterdiri 2-5 lobus yang di hubungkan dengan benang kromatin, warnaungutua padat. Granulanya kecil – kecil warna lembayung muda banyak tetapiterpisah.Sel limfosit mempunyai ukuran yang kecil, kira-kira hampir samadengan SDM. Limfosit adalah sel lekosit kedua terbanyak di dalam darahsesudah lekositnetrofil. Antara 25% dan 35% dari jumlah seluruh lekositdarah adalah limfosit,mempunyai ciri – ciri sebagai berikut : diameterantara 8 – 10 mikron, nukleous bundar atau lonjong, berlekuk atauberbentuk seperti ginjal dengan kromatin kasar,sitoplasma sedikit,berwarna biru muda dan tanpa granula.
Sadikin,M,2002.Monosit adalah sel darah yang kasar.Konsentrasi sel monosit ini didalamdarah antara 5% sampai 10%. Sel monosit ini hanya berada dalamdarah selama24 jam saja, untuk selanjutnya bermigrasi ke berbagaijaringan, menetap disana dan berubah menjadi sel dengan sitoplasma yanglebih besar dan kerap kali berlekuk-lekuk, dengan diameter antara 16 - 20mikron, nukleous bervariasi biasanya berbentuk ginjal, kromatin tersusundalam untaian dengan warna lembayung muda, sitoplasma banyakberwarna biru keabu – abuan.
Depkes2002.Sel Plasma memp Leukosit digolongkan menjadi dua yaitu granulosit yang terdiri dari sel neutrofil, sel eosinofil, sel basofil dan agranulosit yang terdiri dari monosit dan limfosit (Frandson, 1992). Semua sel-sel tersebut berpartisipasi dalam pertahanan tubuh, tetapi masing-masing sel secara kinetik dan fungsional tidak terikat satu sama lain (Duncan dan Prasse, 1997). Ayam memiliki jumlah leukosit absolut antara 9,76 – 31,0 (x103/ mm3) atau 9.20 – 28,6 (x103/ mm3) (Mitruka dan Rawsley, 1981).
Benjamin,2001.Peningkatan jumlah total leukosit disebut leukositosis dapat terjadi karena infeksi, keracunan (bahan kimia dan obat-obatan), hemorogi akut, hemolisis akut, leukemia, neoplasma, masuknya benda asing dan trauma  penurunan leukosit (leukopenia) dapat disebabkan oleh perubahan sumsum tulang, yaitu degenerasi, depresi, deplesi dan destruksi serta kondisi lain seperti infeksi bakteri berat, viral, agen fisik dan kimia yang dapat menyebabkan hancurnya sumsum tulang.
Mitruka dan Rawnsley, 2003. Hasil pemeriksaan total leukosit dan diferensial leukosit dipengaruhi oleh faktor sampling darah, metode pemeriksaan, serta individu pemeriksa Adanya aktivitas yang berlebihan dari hewan pun mempengaruhi hasil perhitungan total dan differensial leukositnya.
Banks, 2001.Neutrofil berdiameter 8,7 mm, dengan nukleus bersegmen dan mempunyai 5 lobi, jumlahnya antara 15-45 % dari total leukosit, bergranula dan tercat netral. Ayam memiliki jumlah neutrofil antara 2,23-6,92 (x103/mm3) atau 3,07-9,76 (x 103/mm3.Sel ini merupakan jajaran pertama untuk sistem pertahanan melawan infeksi (Frandson, 1992), selain itu dapat memfagosit berbagai partikel, bakteri, mikroorganisme dan sangat aktif   dalam  proses peradangan.
Jain,2002.Peningkatan jumlah sel neutrofil yang beredar dalam sirkulasi disebut dengan neutrofilia yang dapat disebabkan oleh infeksi bakteri, jamur, spirocheta dan virus, keracunan metabolik, keradangan akut dan pada kondisi fisiologis saat latihan fisik.Penurunan jumlah neutrofil di dalam sirkulasi disebut neutropenia, dapat terjadi karena adanya peningkatan destruksi neutrofil di dalam peredaran darah, peningkatan pengeluaran neutrofil ke dalam jaringan tanpa diimbangi oleh pemasukan ke dalam sirkulasi darah dan penurunan produksi neutrofil di sumsum tulang.
Frandson,2004.Basofil berdiameter 8,2 mm, mengandung granula berwarna biru oleh pewarnaan, hanya sedikit terdapat dalam darah yang normal kira-kira 2% jumlah total leukosit. Ayam memiliki junlah basofil antara 0,36-1,12 (x103/mm3) atau 0,41-1,32 (x103/mm3).
Frandson dan Whitten, 1981; Coles, 2004. Peningkatan jumlah basofil dalam sirkulasi darah disebut basofilia. Keadaan ini dapat disebabkan oleh hipotiroidismus, leukemia granula basofil, suntikan estrogen dan berkaitan dengan eosinofilia. Penurunan jumlah basofil dalam sirkulasi disebut basopenia, dapat disebabkan karena suntikan kortikosteroid.
Frandson, 2004.Sel eosinofil dikenal dengan nama asidofil nampak sebagai granula yang berwarna merah di dalam sitoplasma. Sel-sel eosinofil umumnya jumlahnya tidak banyak, dapat meningkat dalam  kasus penyakit-penyakit kronis tertentu. Sel ini bersifat amuboid dan fagositik (Frandson, 1992). Jumlah eosinofil dalam darah ayam sekitar 10 % dari jumlah total leukosit dan memiliki jumlah 0,78-2,48 (x  103/mm3) atau 0,67-2,27 (x103/mm3) (Mitruka dan Rawnsley, 1981). Aktivitas fagositosis dari sel eosinofil dibantu oleh hubungan komplek antigen-antibodi (Banks, 1981). Fungsi utamanya adalah untuk toksifikasi baik terhadap protein asing yang masuk ke dalam tubuh melalui paru-paru atau saluran pencernaan, maupun racun yang dihasilkan oleh bakteri dan parasit.
Jain,2001.Meningkatnya jumlah eosinofil dalam sirkulasi disebut eosinofilia (Jain, 1986). Eosinofilia dapat terjadi karena adanya faktor-faktor di dalam reaksi antigen dan antibodi dan dalam kondisi alergi karena parasit (Kelly, 1974). Penurunan jumlah sel eosinofil di dalam sirkulasi (eosinopenia) dapat terjadi pada keadaan stress, injeksi adrenalin dan pada pemberian kortikosteriod.
Kelly,2001).Limfopenia dapat terjadi karena penyakit virus, keadaan stres, radiasi dan pemberian hormon adreno kortikoid, dapat disebabkan oleh pengaruh panas dan dingin, operasi, obstruksi saluran pencernaan, saluran empedu dan respirasi. Limfositosis dapat disebabkan karena keadaan neutropenia, infeksi akut, infeksi karena vaksinasi
Nabib dan Pasaribu, 2000 dalam Mulyani, 2006.Limfosit memiliki peranan dalam respon imunitas dan monosit merupakan sel makrofag yang berperan penting dalam memfagosit mikroorganisme patogen. Sedangkan trombosit sangat berperan dalam proses pembekuan darah dan berfungsi untuk mencegah kehilangan cairan tubuh pada kerusakan-kerusakan di permukaan
Coles, 2003. Peningkatan jumlah monosit dalam peredaran darah hingga diatas normal disebut monositosis. Keadaan ini dapat terjadi pada stadium kesembuhan oleh infeksi bakteri, penyakit kronis akibat jamur, dan pada hewan yang diinjeksi dengan adrenokortikosteroid Penurunan jumlah monosit dalam peredaran darah (monositopenia) dapat disebabkan karena stres dan  pada akhir masa kesembuhan  penyakit fase akut yang kemudian diikuti dengan monositosis, mempunyai cirri-ciri : ukuran 8-20 um, berbentukbulat, berwarna keungu-unguan , kromatin tersusun retikulair seperi jari-jari sepeda , membran inti tidak jelas,danbutir inti tidak ada.
Riswanto, 2010.Antikoagulan adalah zat yang digunakan untuk mencegah proses pembekuan darah dengan cara mengikat kalsium atau dengan menghambat pembentukan trombin yang diperlukan untuk mengkonversi fibrinogen menjadi fibrin dalam proses pembekuan.
Wirawan. R dan Silman.E, 2002. Jenis antikoagulan yang digunakan harus disesuaikan dengan jenis pemeriksaan yang diminta. Perbandingan volume darah dan antikoagulan harus sesuai dan tepat karena dapat mempengaruhi hasil pemeriksaan yang tidak sesuai dengan kenyataan Ada beberapa antikoagulan yg banyak
Gandasubrata, 2010. Antikoagulan EDTA dapat digunakan dalam dua bentuk yaitu berupa cair dan zat kering. Sampai saat ini EDTA dalam bentuk serbuk masih banyak digunakan di berbagai laboratorium dan untuk memudahkan pengukuran maka dibuat menjadi larutan 10%.
Riswanto, 2013.   Antikoagulan EDTA umumnya tersedia dalam bentuk garam sodium (natrium) atau potassium (kalium), mencegah koagulasi dengan cara mengikat atau mengkhelasi kalsium. EDTA memiliki keunggulan dibanding dengan antikoagulan yang lain, yaitu tidak mempengaruhi sel-sel darah, sehingga ideal untuk pengujian hematologi, seperti pemeriksaan hemoglobin, hematokrit, KED, hitung lekosit, hitung trombosit, retikulosit, apusan darah, dan penentuan golongan darah   Ada tiga macam EDTA, yaitu dinatrium EDTA (Na2EDTA), dipotassium EDTA (K2EDTA) dan tripotassium EDTA (K3EDTA). Na2EDTA dan K2EDTA biasanya digunakan dalam bentuk kering, sedangkan K3EDTA biasanya digunakan dalam bentuk cair.  Na2EDTA biasanya digunakan dengan konsentrasi 1 - 1,5 mg/ml darah. Penggunaannya harus tepat karena apabila jumlah EDTA kurang, darah dapat mengalami koagulasi. Sebaliknya, bila EDTA kelebihan, eritrosit mengalami krenasi, trombosit membesar dan mengalami disintegrasi. Setelah darah dimasukkan ke dalam tabung, segera lakukan pencampuran/homogenisasi dengan cara membolak-balikkan tabung untuk menghindari penggumpalan trombosit dan pembentukan bekuan darah .
Riswanto, 2013. Trisodium sitrat dihidrat (Na3C6H5O7.2H2O) atau sitrat bekerja dengan mengikat atau menghelasi kalsium. Digunakan dalam bentuk cair sebagai trisodium sitrat dihidrat 3,2% (109 mmol/L). Antikoagulan ini digunakan untuk pengujian sistem pembekuan darah karena paling baik dalam memelihara faktor-faktor pembekuan darah dan mengembalikan kalsium kedalam spesimen selama proses pemeriksaan serta dapat dengan mudah mengembalikan efek pengikatan. Penggunaan Natrium sitrat konsentrasi 3,8% digunakan untuk pemeriksaan erythrocyte sedimentation rate (ESR) atau KED/LED cara Westergreen. Penggunaannya adalah 1 bagian sitrat + 4 bagian darah.
Gandasoebrata, 2013. Antikoagulan ini bersifat seperti antirombin, tidak mempengaruhi bentuk eritrosit dan leukosit. Heparin dapat dipakai sebagai larutan ataupun dalam bentuk kering dengan konsentrasi  penggunaan adalah 1 mg heparin kering untuk 10 ml darah. Antikoagulan ini merupakan asam mukopolisacharida yang bekerja dengan cara menghentikan pembentukan trombin dari prothrombin sehingga menghentikan pembentukan fibrin dari fibrinogen. Ada tiga macam heparin: ammonium heparin, lithium heparin dan sodium heparin.
Riswanto, 2013. Lithium heparin paling banyak digunakan sebagai antikoagulan karena tidak mengganggu analisa beberapa macam ion dalam darah.  Heparin banyak digunakan pada analisa kimia darah, enzim, kultur sel, OFT (osmotic fragility test). Konsentrasi dalam penggunaan adalah 0.1 – 0.2 mg/ml darah. Heparin tidak dianjurkan untuk pemeriksaan apusan darah karena menyebabkan latar belakang biru.
Riswanto,2013.Oksalat bekerja dengan mencegah pembekuan darah dengan cara mendapatkan kalisum dalam darah. Antikoagulan ini dapat dijumpai sebagai ammonium, lithium, kalium (potassium) dan natrium (sodium). Natrium oksalat (Na2C2O4) 0,1 N digunakan untuk pengujian faktor pembekuan darah misalnya PPT (plasma prothrombin time) dengan perbandingan 9 bagian darah ditambah 1 bagian Na oksalat. Kalium oksalat digunakan bersama dengan natrium fluorida untuk penentukan kadar glukosa darah, dimana fungsinya adalah sebagai antiglikolisis yang mencegah metabolisme glukosa oleh sel.
Narayanan S, 2000.Pemakaian antikoagulan EDTA berlebihan menyebabkan perubahan pada morfologi neutrofil, seperti pembengkakan, hilangnya lobus neutrofil dan sel mengalami disintegrasi yang dapat menyebabkan penurunan jumlah leukosit. 
M.Biomed C dan Lestari E, 2011Trombosit adalah fragmen dari megakariosit yang ditemukan didarah tepi yang berperan dalam pembekuan darah.
Firkin BG, 2000.Trombosit disebut juga platelet atau keping darah. Sebenarnya, trombosit tidak dapat dipandang sebagai sel utuh karena ia berasal dari sel raksasa yang berada di sumsum tulang, yang dinamakan megakariosit. Dalam pematangannya, megakariosit ini pecah menjadi 3000-4000 serpihan sel, yang dinamai sebagai trombosit. Trombosit berbentuk seperti cakram bikonveks (dalam keadaan inaktif) dengan diameter 2-3 m dan volume 8-10 fl.
Sadikin MH, 2002. Umur trombosit setelah pecah dari sel asalnya dan masuk darah ialah antara 8 sampai 14 hari.Jumlah trombosit normal adalah antara 150.000-450.000/mm3 dengan rata-rata 250.000/mm3.
Sadikin MH, 2002. Fungsi utama trombosit adalah pembentukan sumbatan mekanis selama respon hemostatik normal terhadap luka vaskular. Trombosit berfungsi penting pada usaha tubuh untuk mempertahankan jaringan bila terjadi luka. Trombosit ikut serta dalam usaha menutup luka, sehingga tubuh tidak mengalami kehilangan darah dan terlindung dari penyusupan benda atau sel asing. Trombosit melekat (adesi) pada permukaan asing terutama serat kolagen. Disamping melekat pada permukaan asing, trombosit akan melekatpada trombosit lain (agregasi). Selama proses perubahan bentuk trombosit yang menyebabkan trombosit akan melepaskan isinya. Masa agregasi trombosit akan melekat pada endotel, sehingga terbentuk sumbat trombosit yang dapat menutup luka pada pembuluh darah, sedangkan pembentukan sumbat trombosit yang stabil melalui pembentukan fibrin.
Riswanto, 2013.Hitung jumlah trombosit sangat penting untuk menunjang diagnosa gangguan perdarahan. Untuk menghitung jumlah trombosit, pungsi vena harus hati-hati tanpa menimbulkan trauma dan darah harus dihisap dengan cepat dan segera dicampur dengan antikoagulan dengan adekuat. Hindari pengocokan yang berlebihan karena akan menyebabkan perlekatan trombosit sehingga hasil penghitungan tidak tepat
Sadikin MH, 2002. Peningkatan jumlah trombosit disebut trombositosis, misalnya dijumpai pada trombositemia idiopatik dan setelah splenektomi. Penurunan jumlah trombosit atau trombositopenia dapat dijumpai pada penyakit infeksi tertentu, misalnya demam berdarah dengue yang disebabkan oleh virus dengue, adalah penyakit yang dapat menurunkan jumlah trombosit darah sampai ke tingkat yang rendah. Akibatnya, penderita akan sangat rentan akan perdarahan yang sukar dihentikan. Trombositopenia dapat menyebabkan epistaksis, perdarahan pada saluran cerna.Perdarahan kecil di bawah kulit juga sering terjadi. Keadaan lain yang dapat menyebabkan trombositopenia ialah trombositopenia purpura, anemia aplastik, leukimia akut, dan kadang-kadang setelah kemoterapi dan terapis radiasi.
Wirawan R, 2004. Pemberian antikoagulan Na2EDTA kurang dari yang dibutuhkan akan menyebabkan hitung jumlah trombosit menurun karena terjadi mikrotrombi di dalam penampung yang dapat menyumbat alat, sedangkan apabila dalam pemberian antikoagulan berlebih akan menyebabkan sel mengalami pembengkakkan kemudian disintegrasi, membentuk fragmen dalam ukuran yang sama dengan trombosit sehingga terhitung oleh alat penghitung elektronik, sehingga berakibat peningkatan palsu jumlah hitung trombosit, bila disintegrasi membentuk fragmen yang berbeda dengan ukuran trombosit akan menyebabkan penurunan jumlah hitung trombosit
Sainssyiah, 2010. Cara menghitung jumlah eritrosit, leukosit dan trombosit dapat dilakukan dengan metoda manual menggunakan mikroskop. Keuntungan dari penghitungan manual adalah bahwa mesin penghitung automatik tidak dapat diandalkan dalam menghitung sel abnormal. Dalam hal ini diperlukan pemeriksaan manual terhadap apusan darah. Pemeriksaan secara mikroskopik akan memberikan informasi mengenai lekosit-lekosit yang abnormal dan variasi bentuk eritrosit. Pemeriksaan manual juga dapat memberikan informasi mengenai adanya jenis sel lain yang biasanya tidak dijumpai dalam darah tepi, misalnya sel plasma. Selain itu, adanya trombosit yang menggerombol (clumps) yang menyebabkan rendahnya jumlah trombosit pada pemeriksaan automatik dapat dikonfirmasi dengan pemeriksaan apusan darah.
Wirawan. R dan Silman.E, 2002.  Keuntungan lain dari pemeriksaan manual yaitu harga cukup murah, dapat dilakukan di semua laboratorium termasuk laboratorium kecil yang tidak ada aliran listrik.
Wirawan. R dan Silman.E, 2002. Prinsip dari pemeriksaan hitung jumlah sel manual adalah dengan melakukan pengenceran darah dengan larutan tertentu. Jumlah sel darah dalam volume pengenceran tersebut dihitung dengan menggunakan kamar hitung(improved Neubauer) Penghitungan jumlah sel yaitu dilakukan dengan membagi jumlah sel yang dihitung dengan volume sel yang dihitung dikalikan faktor pengenceran.
Writmann FK, 2001.  Pemeriksaan hematologi merupakan pemeriksaan rutin yang dilakakukan dihampir semua pasien di laboratorium klinik. Pemeriksaan hitung jumlah sel darah dilakukan secara automatik menggunakan alat hematology analyzer. Tes hitung jumlah sel darah cara automatik akurasinya jauh lebih baik dibandingkan perhitungan manual. Dalam pemeriksaan hitung jumlah sel secara automatik tidak akan mengalami kesulitan mengenai pengenceran sampel dan standarisasi alat. Cara ini meningkatkan kecepatan pemeriksaan dan ketelitian dibanding dengan cara manual.
Soewolo,2000.lisis merupakan istilah umum peristiwa menggelembung dan pecahnya sel akibat masuknya air kedalam sel. Lisis pada eritrosit disebut hemolisis yang berarti peristiwa pecahnya eritrosit akibat masuknya air kedalam eritrosit sehingga hemoglobin keluar dari dalam eritrosit menuju kecairan sekelilingnya.membran eritrosit bersifat permeabel selektif,yang berarti dapat ditembus oleh air dan zat-zat tertentu,tetapi tidak dapat ditembus oleh zat-zat tertentu yang lain. Hemolisis ini akan terjadi apabila eritrosit dimasukkan ke dalam medium yang hipotonis terhadap isi sel eritrosit.
 Evelyn, 2009.Hemoglobin adalah protein yang kaya akan zat besi. Memiliki afinitas(daya gabung) terhadap oksigen dan dengan oksigen itu membentuk oxihemoglobin di dalam sel darah merah. Dengan melalui fungsi ini maka oksigendibawa dari paru-paru ke jaringan-jaringan.
Brooker, 2001.Hemoglobin merupakan senyawa pembawa oksigen pada sel darah merah.Hemoglobin dapat diukur secara kimia dan jumlah Hb/100 ml darah dapat digunakan sebagai indeks kapasitas pembawa oksigen pada darah.  Hemoglobin adalah kompleks protein-pigmen yang mengandung zat besi. Kompleks tersebut berwarna merah dan terdapat didalam eritrosit. Sebuah molekul hemoglobin memiliki empat gugus haeme yang mengandung besi fero dan empat rantai globin.
Depkes RI dalam Widayanti, 2008. Hemoglobin adalah suatu senyawa protein dengan Fe yang dinamakan conjugated protein. Sebagai intinya Fe dan dengan rangka protoperphyrin dan globin (tetra phirin) menyebabkan warna darah merah karena Fe ini. Hb berikatan dengan karbondioksida menjadi karboxy hemoglobin dan warnanya merah tua. Darah arteri mengandung oksigen dan darah vena mengandung karbondioksida.
 Shinta, 2005.Menurut William, Hemoglobin adalah suatu molekul yang berbentuk bulat yang terdiri dari 4 subunit. Setiap subunit mengandung satu bagian heme yang berkonjugasi dengan suatu polipeptida. Heme adalah suatu derivat porfirin yang mengandung besi. Polipeptida itu secara kolektif disebut sebagai bagian globin dari molekul hemoglobin.
Costill,2001)Kadar hemoglobin ialah ukuran pigmenrespiratorik dalam butiran-butiran darah merah  Yang terdapat pada semua hewan tingkat tinggi yang berfungsi mengirimkan zat-zat oksigen yang dibutuhkan oleh jaringan tubuh, mengangkut bahan-bahan metabolisme dan juga sebagai pertahanan tubuh terhadap virus atau bakteri.
Evelyn, 2009.  Jumlah hemoglobin dalam darah normal adalah kira-kira 15 gram setiap 100 ml darah dan jumlah ini biasanya disebut “100 persen”
Wikipedia, 2007.Pada manusia dewasa, hemoglobin berupa tetramer (mengandung 4 submit protein), yang terdiri dari dari masing-masing dua sub unit alfa dan beta yang terikat secara non kovalen. Sub unitnya mirip secara struktural dan berukuran hampir sama. Tiap sub unit memiliki berat molekul kurang lebih 16.000 Dalton, sehingga berat molekul total tetramernya menjadi 64.000 Dalton. Tiap sub unit hemoglobin mengandung satu heme, sehingga secara keseluruhan hemoglobin memiliki kapasitas empat molekul oksigen.
Arisman, 2002.Batas normal nilai hemoglobin untuk seseorang sukar ditentukan karena kadar hemoglobin bervariasi diantara setiap suku bangsa. Namun WHO telah menetapkan batas kadar hemoglobin normal berdasarkan umur dan jenis kelamin.
Ganong,2003. Hemoglobin adalah suatu molekul yang berbentuk bulat yang terdiri dari 4 subunit. Setiap subunit mengandung satu bagian heme yang berkonjugasi dengan suatu polipeptida. Heme adalah suatu derivat porfirin yang mengandung besi. Polipeptida itu secara kolektif disebut sebagai bagian globin dari molekul hemoglobin. Ada dua pasang polipeptida didalam setiap molekul hemoglobin.
Supriasa,2001.Komponen utama sel darah merah adalah protein hemoglobin yang mengangkut O2 dan CO2 dan mempertahankan pH normal melalui serangkaian dapar intraselular. Molekul-molekul hemoglobin terdiri dari dua pasang rantai polipeptida dan empat gugus hem, masing-masing mengandung sebuah atom besi. Konfigurasi ini memungkinkan pertukaran gas yang sangat sempurna.
Supriasa,2001.Hemoglobin merupakan senyawa pembawa O2 pada sel darah merah. Hemogloboin dapat diukur secara kimia dan jumlah.Hemoglobin/100 ml dalam darah dapat digunakan sebagai indek kapasitas sebagai O2 pada darah. Kandungan hemoglobulin yang rendah dengan demikian mengindikasikan anemia.
Price & Wilson, 2004.Pengertian lain hemoglobin adalah pigmen merah pembawa O2 pada eritrosit dan di bentuk oleh eritrosit yang berkembang dalam sum-sum tulang. Pembentukan berlangsung dari setaium perkembangan eritroblas sampai retukulosit. Molekul-molekul Hemoglobin terdiri atas dua pasang rantai polipeptida (Globin) dan empat kelompok heme.
Sherwood, 2001.Globulin merupakan satu protein yang terbentukdari empat polipetida yang sangat berlipat-lipat. Sedangkan heme merupakan gugus nitrogenosa non protein yang mengandung besi.
Guyton & Hall,2000.Sel-sel darah merah mampu mengkonsentrasikan hemoglobin dalam cairan sel sampai sekitar 34 gm/dl sel. Konsentrasi ini tidak pernah meningkat lebih dari nilai tersebut, karena ini merupakan batas metabolik dari mekanisme pembentukan hemoglobin sel. Selanjutnya pada orang normal, persentase hemoglobin hampir selalu mendekati maksimum dalam setiap sel, namun bila pembentukan hemoglobin dalam sumsum tulang berkurang, maka persentase hemoglobin dalam darah merah juga menurun karena hemoglobin untuk mengisi sel kurang. Bila hematokrit (persentase sel dalam darah normalnya 40 sampai 45 persen) dan jumlah hemoglobin dalam masing-masing sel nilainya normal, maka seluruh darah seorang pria rata-rata mengandung 16 gram/dl hemoglobin, dan pada wanita rata-rata 14gram/dl.
Suyono, 2001.Hemoglobin dibentuk dalam sitoplasma sel sampai stadium retikulosit. Setelah inti sel dikeluarkan, hilang juga RNA dari dalam sitoplasma, sehingga dalam sel darah merah tersebut tidak dapat dibentuk protein lagi, begitu juga berbagai enzim yang sebelumnya terdapat dalam sel darah merah dan protein membran sel.
Martini, 2009.Fungsi hemoglobin adalah mengangkut karbon dioksida dari berbagai proton, seperti ion Cl- dan ion hidrogen asam (H+) dari asam karbonat (H2CO3) dari jaringan perifer ke organ respirasi untuk selanjutnya diekskresikan ke luar. Oleh karena itu, hemoglobin juga termasuk salah satu sistem buffer atau penyangga untuk menjaga keseimbangan pH ketika terjadi perubahan PCO2 .
Mehdi et al., 2000.Kadar Hemoglobin seseorang tidak hanya dipengaruhi oleh paparan Pb(timbal), kebiasaan minum teh setiap hari setelah makan, menkonsumsi alkohol serta merokok dapat mempengaruhi kadar Hemoglobin.
Gibson, 2005.Konsumsi teh setiap hari dapat menhambat penyerapan zat besi sehingga akan mempangruhi terhadap kadar Hemoglobin.
National Anemia Action Council, 2009.Anak-anak, orang tua, ibu yang sedang hamil akan lebih mudah mengalami penurunan kadar Hemoglobin. Pada anak-anak dapat disebabkan karena pertumbuhan  anak-anak yang cukup pesat dan tidak di imbangi dengan asupan zat besi sehingga dapat menurunkan kadar Hemoglobin.
Curtale dkk,2000.Perempuan lebih mudah mengalami penurunan daripada laki-laki,terutama pada saat menstruasi.
Hoffbrand dkk, 2005.Beberapa penyakit yang dapat mempengaruhi kadar Hemoglobin yaitu Leukimia, thalasemia, tuberkulosi. Penyakit tersebut dapat mempengaruhi produksi sel darah merah yang disebabkan karenan terdapat gangguan pada sum-sum tulang.
Prasetyono,2009.Pola makan adalah menu makanan yang dalam keseharian oleh seseorang. Pola makan yang sehat tercantum dalm pemilihan menu makanan yang seimbang.
Gibson,2005. Sumber zat besi terdapat dimakanan bersumber dari hewani dimana hati merupakan sumber yang paling banyak mengandung Fe (antara 6,0 mg sampai dengan 14,0 mg). Sumber lain juga berasal dari tumbuh-tumbuhan tetapi kecil kandunganya sehingga bisa diabaikan.
Burgess,2003.Zat besi didalam makanan berbentuk hem yaitu berikatan dengan protein atau dalam bentuk nonhem yang berbentuk senyawa besi inorganik yang komplek. Zat besi hem lebih banyak diabsorbsi dibanding dengan zat besi nonhem. Sumber zat besi hem adalah  hati, ginjal, daging, ayam, ikan dimana dalam usus diserap 15-35%. Sumber nonhem umumnya terdapat dalam makanan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan seperti sayur-sayuran, biji-bijian, kacang-kacangan, buah-buahan dan serelia, sedikit dalam daging,ikan, telur.
Henrietta2002.Burgess 1993.Faktor lain yang diperhatikan adalah faktor yang mempengaruhi penyerapan dari Fe, atara lain macam bahan itu sendiri. Yang berasal dari hewani 7-22% dan dari tumbuh-tumbuhan 1-6%. Yang mempermudah absorbsi besi nonhem adalah Vitamin C (buah-buahan yang mengandung asam citrid dan sayuran seperti tomat dll), makanan yang mengandung zat besi hem dan makanan yang telah difermentasi. Sedangkan makan yang menghambat absorbsi besi adalah makanan yang mengandung tannin, phytat, fosfat, kalsium dan serat dalam bahan makanan.
Bothwell,2002.Konsumsi teh dan kopi satu jam setelah makan akan menurunkan absorbsi dari zat besi sampai 40% untuk kopi dan 85% untuk teh, karena terdapat zat polyphenol seperti tannin yang terdapat dalam teh.
Guyton & Hall,2003.Pembentukan hemoglobin dimulai dalam proeritroblas dan kemudian dilanjutkan sedikit dalam stadium retikulosit, karena ketika retikulosit meninggalkan sumsum tulang dan masuk ke dalam aliran darah, maka retikulosit tetap membentuk sedikit hemoglobin selama beberapa hari berikutnya.
Tambayon,2003.menyatakan bahwa cepatnya proses pembekuan darah karena di dalam darah manusia terdapat globin dan hem (sekitar 40%) sebagai proses konjugasi protein dalam tubuh manusia.
Wibowo,2009. Waktu beku darah biasa disebut dengan waktu koagulasi darah. Waktu antara darah masuk sampai terjadi penggumpalan adalah waktu koagulasi rata-rata 4 – 5 menit.
Sonjaya, 2005. Darah merupakan jaringan tubuh yang terdiri dari bagian cair (plasma) dan bahan-bahan interseluler. Plasma darah dan sel-sel darah dapat terpisah dan bebas bergerak dalam cairan interseluler.
Frandson, 2009. Darah adalah cairan berwarna merah pekat. Warnanya merah cerah di dalam arteri dan berwarna merah unggu gelap di dalam vena, setelah melapas sebagian oksigen ke jaringan dan menerima produk sisa dari jaringan.
Srikini, 2000. Sel darah merah mengalami sejumlah stadium dalam perkembangannya di dalam um-sum tulang. Eritroblas adalah sel besar yang mengandung inti dan sejumlah kecil hemoglobin. Sel ini kemudian berkembang menjadi normoblas yang berukuran lebih kecil. Inti sel kemudian mengalami disintegrasi dan menghilang sitoplasma mengandung benang-benang halus.
Sarkayasa,2009 Waktu pendarahan diamati sebagai interval waktu timbulnya tetes darah dari mulai pembulh darah yang luka sampai darah terhenti mengalir keluar dari pembuluh darah. Penghentian pendarahan ini disebabkan oleh terbentuknya agregat pletelat yang menutupi calah pembuluh darah yang rusak.
Duke, 2009 Koagulasi adalah proses pembubuhan bahan kimia (koagulan) ke dalam air yang akan dioIah. Koagulasi adalah penggumpalan partikel koloid dan membentuk endapan. Dengan terjadinya koagulasi, berarti zat terdispersi tidak lagi membentuk koloid. Koagulasi dapat terjadi secara fisik seperti pemanasan, pendinginan dan pengadukan atau secara kimia seperti penambahan elektrolit, pencampuran koloid yang berbeda muatan.
Dsyoghi, 2010 Faktor-faktor yang \mempengaruhi waktu pendarahan suatu darah yakni besar kecilnya luka, suhu, status kesehatan, umur, besarnya tubuh dan aktivitas kadar hemoglobin dalam darah. Kisaran waktu pendarahan yang normal adalah 15 hingga 120 detik.
 Indah, 2008 Proses koagulasi atau penggumpalan darah terjadi ketika luka pada tubuh mulai mengeluarkan darah. Sebuah enzim yang disebut tromboplastin yang dihasilkan sel-sel jaringan yang terluka bereaksi dengan kalsium dan protrombin di dalam darah. Akibat reaksi kimia, jalinan benang-benang yang dihasilkan membentuk lapisan pelindung, yang kemudian mengeras.
Puzzy, 2009 Bekuan mulai terbentuk dalam 15 sampai 20 detik bila trauma pembuluh sangat hebat, dan dalam 1 sampai 2 menit bila traumanya kecil.
Sonjaya, 2008 Waktu pendarahan biasanya dapat juga diartikan sebagai waktu ulai keluarnya tetesan darah pertama sampai tidak ada lagi noda di kertas saring atau tissue. Faktor-faktor yang mempengaruhi waktu pendarahan suatu darah yaitu besar kecilnya luka, suhu, status kesehatan, umur, besarnya tubuh dan aktivitas, kadar hemaglobin dalam plasma dan kadar globulin dalam darah.
Sacher. RA, 2004.Barbara, Laju endap darah (LED) adalah sebuah pengukuran seberapa cepat sel-sel darah merah jatuh ke dasar sebuah tabung uji. Ketika pembengkakan dan peradangan hadir, protein darah mengumpul dan menjadi lebih berat dari biasanya. Jadi, ketika diukur, mereka mengendap dan berkumpul lebih cepat di bagian bawah dari tabung uji. Umumnya, semakin cepat sel-sel darah turun, lebih parah peradangan. LED adalah gambaran komposisi plasma dan perbandingan antara eritrosit dan plasma. Darah dengan antikoagulan yang dimakksudkan ke dalam tabung bervolume kecil dan diletakan tegak lurus selama 1 jam akan menunjukkan pengendapan eritrosit dengan kecepatan yang ditentukan oleh rasio permukaan perbandigan volume eritrosit.
Sacher, 2006 Darah normal mempunyai LED relatif kecil karena pengendapan eritrosit akibat tarikan gravitasi di imbagi oleh tekanan keatas akibat perpindahan. Bila viskositas plasma tinggi atau kadar kolesterol meningkat tekanan keatas mungkin dapat menetralisasi tarikan kebawa terhadap setiap sel atau gumpalan sel. Sebaliknya setiap keadaan yang meningkatkan penggumpalan atau perletakan satu dengan yang lain akan meningkatkan LED.
Isbister, 2000 Penentuan nilai LED secara umum telah digunakan dalam pengobatan klinik, menegakkan diagnosis, mengetahui penyakit secara dini dan memantau perjalanan penyakit seperti tuberkolosa dan reumati. Peningkatan kecepata pengendapan berhubungan langsung dengan beratnya penyakit.
      Riswanto, 2009 Metode yang digunakan untuk pemeriksaan LED ada dua, yaitu metode Wintrobe dan Westergreen. Hasil pemeriksaan LED dengan menggunakan kedua metode tersebut sebenarnya tidak seberapa selisihnya jika nilai LED masih dalam batas normal. Tetapi jika nilai LED meningkat, maka hasil pemeriksaan dengan metode Wintrobe kurang menyakinkan. Dengan metode Westergreen bisa didapat nilai yang lebih tinggi, hal itu disebabkan panjang pipet Westergreen yang dua kali panjang pipet Wintrobe. Kenyataan inilah yang menyebabkan para klinisi lebih menyukai metode Westergreen daribada metode Wintrobe. Selain itu, International Commitee for Standardization in Hematology (ICSH) merekomendasikan untuk menggunakan metode Westergreen.
      Tambayong J, 2000 LED adalah kecepatan eritrosit mengendap dalam pipet westergren. Pada peradangan, kecepatan meningkat, karena perubahan pada komponen plasma yang terjadi selama proses inflamasi. Protein plasma yang terlibat dalam peningkatan LED disebut protein fase akut, terutama dilepaskan oleh hati. LED khususnya digunakan untuk membantu aktivitas berbagai penyakit inflamasi.
Widodo, 2004 Laju endap darah yang ditemukan pertama kali oleh Westergren pada tahun 1921. LED merupakan pemerikksaan yang menggambarkan komposisi plasma dan perbandingan antara eritrosit dengan plasma.
Widodo,dkk,2004. Prinsip dasar pemeriksaan LED adalah; darah dan antikoagulan dimasukkan ke dalam tabung dengan lubang ukuran tertentu (pada pipet LED) dan diletakan vertikal akan menyebabkan pengendapan eritrosit dengan kecepatan tertentu. LED merupakan kecepatan pengendapan dengan  mengukur jarak antara miniscus pemeriksaan LED. Beberapa faktor  yang mempengaruhi LED, yang dapat meningkatkan LED adalah usia tua, wanita, saat mensturasi, kehamilan, ukuran eritrosit (macrositosis), faktor teknis (masalah pengenceran, suhu ruangan/panas, kemiringan tabung LED) , peningkatan fibrinogen (pada beberapa kasus infeksi, inflamasi, dan keganasan). Faktor yang dapat menurunkan LED adalah lekositosis berat, polisitemia, speherositosis (acantositosis, micrositpsis ), faktor teknis (masala pengenceran, darah beku, tabung penden, getaran), abnormalitas protein (hipofibrinogenemia, hipogammaglobulinnemia, dispoteinemia). Faktor yang belum pasti mempengaruhi LED adalah obesitas, suhu badan, dan usai mengkomsumsi aspirin.
Cormack.2008.mengatakan bahwa Hemolisis adalah rusaknya jaringan darah akibat lepasnya hemoglobin dari stroma eritrosit (butir darah merah). Hemolisis dapat disebabkan karena penurunan tegangan permukaan membrane sel dan dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti pelarut organik, saponin, garam empedu, sabun, enzim, dan faktor lain yang merusak komplek lemak-protein dari stroma. Faktor hemolisis ini ditemukan pada bisa ular  famili Elapidae.
Hendrayani, 2007.Osmosis memainkan peranan yang sangat penting pada tubuh makhluk hidup, misalnya, pada membrane sel darah merah. Jika meletakan sel darah merahdalam suatu larutan hipertonik (lebih pekat), air yang terdapat dalam sel darahakan ditarik keluar dari sel sehingga sel mengerut dan rusak. Peristiwa ini disebut krenasi. Sebaliknya, jika kamu meletakan sel darah merah dalam suatu larutanyang bersifat hipotonik (lebih encer), air dari larutan tersebut akan ditarik masuk kedalam sel darah sehingga sel mengembang dan pecah. Proses ini disebut hemolisis. Orang yang mengonsumsi terlalu banyak makanan berkadar garam tinggi, jaringan sel dan jaringan antar selnya akan mengandung banyak air. Hal inidapat menyebabkan terjadinya pembengkakan tubuh yang disebut edema.
Sarkar & Devi,2006. Hemolisis secara langsung tidak dibutuhkan penambahan lesitin sedangkan hemolisis tidak langsung kehadiran lesitin pada sel darah merah atau penambahan dari luar sangat diperlukan.Secara umum, mekanisme hemolisis berlangsung dua tahap. Tahap pertama lesitin dalam sel darah atau yang ditambahkan dari luar akan diubah menjadi lisolesitin oleh lesithinase A.  Lisolesitin merupakan bentuk lesitin yang  memiliki aktivitas hemolitik. Selanjutnya, lisolesitin menyebabkan sel darah merah lisis dengan menyerap material lemak dinding sel  sehingga merusak keutuhan struktur sel darah.
Srikini,2000.Sel darah merah yang berada di luar cairannya dapat mempertahankan bentuknya apabila dimasukkan dalam cairan yang isotonis dengan sitoplasmanya. Apabila sel darah merah berada di dalam cairan yang hipertonis maka sel darah merah akan mengalami pengerutan (krenasi), apabila sel darah merah berada dalam cairan yang bersifat hipotonis maka sel akan pecah dan hemoglobin akan ke luar (hemolisis).
Watson,2007.Hemolisis adalah peristiwa keluarnya hemoglobin dari dalam sel darah menuju cairan disekelilingnya, keluarnya hemoglobin ini disebabkan karena pecahnya membran sel darah merah. Membran sel darah termasuk membran yang permeabel selektif. Membran sel darah merah mudah dilalui atau ditembus oleh ion-ion H+, OH-, NH4+, PO4, HCO3-, Cl-, dan substansi seperti glukosa, asam amino, urea, dan asam urat. Sebaliknya sel darah merah tidak dapat ditembus oleh Na+, K+, Ca2+, Mg2+, fosfat organik, hemoglobin dan protein plasma.
Wulangi,2002. Ada dua macam hemolisis yaitu hemolisis osmotik yang terjadi karena adanya perbedaan yang besar antara tekanan osmosa cairan didalam sel darah merah dengan cairan yang berada disekeliling sel darah merah. Tekanan osmosa sel darah merah adalah sama dengan osmosa larutan NaCl 0, 9 %, bila sel darah merah dimasukkan kedalam larutan NaCl 0, 65 % belum terlihat adanya hemolisa, tetapi sel darah merah yang dimasukkan kedalam larutan NaCl 0, 45 % hanya sebagian saja dari sel darah merah yang mengalami hemolisis dan sebagian lagi sel darah merahnya masih utuh. Perbedaan ini desebabkan karena umur sel darah merah yang sudah tua, membran sel mudah pecah, sedangkan se darah merah yang muda, membran selnya masih kuat. Bila sel darah merah dimasukkan kedalam laritan NaCl 0,25 %, semua sel darh merah akan mengalami hemolisa sempurna. Yang kedua, hemolisis kimiawi membran sel darah merah dirusak oleh macam-macam substansi kimia. Seperti, kloroform, aseton, alkohol, benzena dan eter, substansi lain adalah bisa ular, kalajengking, dan garam empedu.
Sadikin, M. 2002. Hematokrit (Ht) adalah persentase seluruh volume eritrosit yang dipisahkan dariplasma dengan cara memutarnya didalam tabung khusus dengan waktu dan kecepatan tertentu dimana nilainya dinyatakan dalam persen (%). Untuk tujuan ini, darah diambil dalam semprit dengan volume yang telah ditetapkan dan dipindahkan kedalam suatu tabung khusus berskala hematokrit (tabung wintrobe). Untuk pemeriksaan hematokrit darah tidak boleh dibiarkan menggumpal sehingga harus diberi antikoagulan. Setelah tabung tersebut diputar dengan kecepatan dan waktu tertentu, maka eritrosit akan mengendap.
Hardjoeno, H. 2007. Hematokrit adalah nilai yang menunjukan persentase zat padat dalam darah terhadap cairan darah. Dengan demikian, bila terjadi perembesan cairan darah keluar dan pembuluh darah, sementara bagian padatnya tetap dalam pembuluh darah, akan membuat persentase zat padat darah terhadap cairannya naik sehingga kadar hematokritnya juga meningkat.
Nilai hematokrit yang rendah sering ditemukan pada kasus anemia leukemia, sedangkan peningkatan nilai hematokrit ditemukan pada dehidrasi (suatu peningkatan relatif). Hematokrit dapat menjadi indikator keadaan dehidrasi. Hematokrit dapat mengindikasikan hemokonsentrasi, akibat penurunan volume cairan dan peningkatan eritrosit. Hematokrit dapat diukur pada darah vena atau kapiler berdasarkan perbandingan persentase volume eritrosit / volume darah dengan metode wintrobe atau metode mikro. Hematokrit juga dapat ditentukan dengan menggunakan instrumen elektronik automatik. Walaupun cara automatik lebih unggul dan cara manual, namun mempunyai keterbatasan seperti: harga yang cukup mahal, penggunaannya terbatas, khususnya di daerah apabila reagen habis biasanya pengiriman terlambat sehingga cara manual masih merupakan tes pilihan pada laboratorium, juga terkadang masih perlu dikonfirmasikan bila ada hasil diluar kemampuan alat.
Rikayasa ,2001. Siklus jantung adalah periode dimulainya satu denyutan jantung dan awal dari denyutan selanjutnya.Siklus jantung terdiri dari periode sistol dan diastol. Sistol adalah periode kontraksi dari ventrikel, dimana darah akan dikeluarkan dari jantung. Diastol adalah periode relaksasi dari ventrikel, dimana terjadi pengisian darahTekanan darah adalah tekanan yang diberikan oleh darah setiap satuan luas pada pembuluh darah.
 Febrinanda, 2008. Tekanan darah  terdiri atas tekanan sistol dan diastol. Tekanan dipengaruhi oleh curah jantung dengan resistensi perifer.Curah jantung adalah volume darah yang dipompa oleh tiap – tiap ventrikel per menit.Dua faktor penentu curah jantung adalah kecepatan denyut jantung dan volume sekuncup.Semakin teregang jantung, semakin meningkat panjang serat otot awal sebelum kontraksi. Peningkatan panjang menghasilkan gaya yang lebih kuat pada kontraksi jantung berikutnya dan dengan demikian dihasilkan volume sekuncup yang lebih besar. Hubungan intrinsik antara volume diastolik akhir dan volume sekuncup ini dikenal sebagai hukum Frank – Starling  pada jantung
Sarkayasa, 2008. Volume total yang masuk ke dalam diastol disebut End Diastolic Volume .Sistolik dapat dibagi menjadi dua proses yaitu kontraksi isovolumetrik dan ejeksi ventrikel. Pada kontraksi  isovolumetrik, kontraksi sudah dimulai tetapi katup – katup tetap tertutup. Tekanan juga telah dihasilkan tetapi tidak dijumpai adanya pemendekan dari otot. Pada ejeksi ventrikel , tekanan dalam ventrikel lebih tinggi dibandingkan dengan tekanan pada aorta dan pulmoner sehingga katup aorta dan katup pulmoner terbuka dan akhirnya darah akan dipompa ke seluruh tubuh.
Cotran, R. 2008. Psikofisik merupakan cabang ilmu psikologi yang digunakan untuk menguji hubungan antara persepsi dari sensasi tubuh terhadap rangsangan fisik.Melalui persepsi dan sensansi tubuh, dapat diketahui kapasitas kerja seseorang.
Budianto, A. 2004. Tingkat kekuatan seseorang dalam menerima beban kerja dapat diukur melalui perasaan subjektif, dalam arti persepsi seseorang terhadap beban kerja dapat digunakan untuk mengukur efek kombinasi dari tekanan fisik dan tekanan biomekanik akibat aktivitas yang dilakukan.Untuk metode psikofisik ini hasil dari pengukuran tergantung dari persepsi seseorang dan konsekuenainya, kemungkinan terjadi perbedaan antara persepsi yang satu dengan yang lainnya.
Rodahl, 2009. Nadi mempunyai peran yang sangat penting di dalam peningkatan cardio output dari istirahat samapi kerja maksimumk, peningkatan tersebut didefinikan sebagai heart rate reserve(HR reserve).
Sherwood, L, 2001,Pada Harvard Step Test menggunakan parameter waktu lama kerja dan frekuensidenyut nadi, Denyut nadi dapat diketahui dengan menghitung denyut arteri radialis, suaradetak jantung, atau dengan bantuan eleftrokardiogram. Dengan memakai kedua factor tersebut dapat dihitung indeks kesanggupan badan, yang dibedakan antara kesanggupankurang sampai kesanggupan amat baik.
Price, S. 2005.Harvard step test adalah jenis tes stress jantung untuk mendeteksi atau mendiagnosis penyakit jantung dan pulmonal. Ini juga digunakan untuk pengukuranyang baik kebugaran, dan kemampuan Anda untuk pulih setelah olahraga berat.Semakin cepat jantung Anda kembali berelaksasi, semakin baik pula kerja nya.
Asmadi, 2011.Cara mengukur jumlah O2 yang ada di dalam tubuh adalah dengan mengukur saturasi O2 di dalam darah, yaitu sekitar 98 - 99%.  Jika saturasi mencapai 100% maka tubuh akan kehilangan mekanisme untuk bernafas, karena seolah olah tubuh tidak perlu lagi O2. Jadi nafas akan cenderung spontan karena tubuh kita perlu O2. Atau karena ada keseimbagan O2 – CO2 dalam tubuh.
Ganong, 2003.Berkurangnya O2 yang ada dalam jaringan tubuh maka proses metabolisme akan terganggu dan tidak dapat optimal. Dengan tidak optimalnya proses metabolisme maka kebutuhan akan energi untuk proses belajar mengalami gangguan. Semakin tinggi kadar hemoglobin dalam darah, maka semakin banyak pula O2 yang dapat diangkut ke berbagai jaringan tubuh.
Giriwijoyo,2000.Olahraga merupakan serangkaian gerak raga yang teratur dan terencana untuk memelihara gerak (mampertahankan hidup) dan meningkatkan kemampuan gerak (meningkatkan kualitas hidup). Olahraga merupakan kebutuhan hidup yang sifatnya periodik, artinya olahraga sebagai alat untuk pertumbuhan dan perkembangan jasmani, rohani dan sosial. Struktur anatomis-anthropometis dan fungsi fisiologinya stabilitas emosionalnya dan kecerdasan intelektualnya maupun kemampuan bersosialisasi dengan lingkungan.
Sherwood,2002.Tekanan diastolik adalah tekanan darah pada saat jantung tidak sedang berkonstraksi atau beristirahat. Pada kurva denyut jantung, tekanan diastolik adalah tekanan darah yang digambarkan pada rentang di antara grafik denyut jantung.
Rikayasa,2006.Siklus jantung adalah periode dimulainya satu denyutan jantung dan awal dari denyutan selanjutnya. Siklus jantung terdiri dari periode sistol dan diastol.
Sherwood (2002) yang menyatakan bahwa tekanan sistolik adalah tekanan darah pada saat terjadi kontraksi otot jantung. Istilah ini secara khusus digunakan untuk merujuk pada tekanan arterial maksimum saat terjadi kontraksi pada lobus ventrikular kiri dari jantung. Rentang waktu terjadinya kontraksi disebut systole Pada format penulisan angka tekanan darah, umumnya, tekanan sistolik merupakan angka pertama. Sebagai contoh, tekanan darah pada angka 120/80 menunjukkan tekanan sistolik pada nilai 120 mmHg.
Rikayasa,2006.Pemeriksaan tekanan darah akan didapat dua angka. Angka yang lebih tinggi diperoleh pada saat jantung berkontraksi (sistolik), angka yang lebih rendah diperoleh pada saat jantung berelaksasi (diastolik).
Sarkayasa,2008.Bunyi jantung kedua secara normal memiliki frekuensi lebih tinggi daripada bunyi jantung pertama pada saat melakukan pernapasan yang berlangsung tanpa kita sadari
Duke,2000.Kecepatan deenyut jantung dapat di pengarruhi oleh temperatur tubuh,aktivititas tubuh,letak heografis serta penyakit dan stress.
Frandson,2001.Tiap kontraksi sistolis dai ventrikel kiri mendorong lebih banyak darah ke dalam arteri dan anteriol yang telah terisi darah dari tekanan distolik. Darah tambahan pada setiap systole akan lebih memekarkan arteri. Gelombang tekanan sistolik yang bermula dari jantung dan menyebar ke seluruh jaringan atorial disebut pulsa atau gelombang pulsa. Gelombang ini dapat dirasakan dalam arteri di dekat permukaan badan, terutama apabila arteri dapat ditekan ke arah tulang yang terdekat di dekatnya ataupun ke arah struktur lain yang padat.














BAB III
MATERI DAN METODA

3.1 Waktu dan Tempat
      Adapun pelaksanaan praktikum Anatomi dan Fisiologi Ternak dilaksanakan pada hari Sabtu mulai tanggal 28 Maret sampai 25 April pukul 08.00 WIB sampai selesai di Gedung C Laboratorium Peternakan Fakultas Peternakan Universitas Jambi.
3.2 Materi
      Adapun materi yang digunakan pada praktikum Anatomi dan Fisiologi Ternak antara lain alkohol 70%,larutan garam faali((NaCl fisiologis/NaCl 0,9%), larutan NaCl,larutan 1% urea,laritan 1%saponin,darahsapi,darahayam,darahmanusia,larutan hayem,larutan turk,larutan BCB(Briliant CresylBlue),antikoagulan,lansetsteril,kapas ,kertas tissue,kaca benda(cover glass),objek glass,mikroskop,gelas arloji berlapis parafin,pipa kapiler tanpa heparin,kapas,pencatat waktu,tabung wastergreen,rak tabung wastergreen,tabung reaksi,pipet pasteur,tabung hematokrit,sentrifuse,reader hematokrit,hemositometer sahli,pipet sahli sttandar warna pengaduk,pipet pengencer,kamar hitung,bak celup untuk fiksasi,bak celup untuk pewarnaan.differensial counter,minyak emersi,larutan giemsa.

3.3 Metoda
      Adapun materi pada praktikum anatomi dan fisiologi ternak Preparat natif darah antara lain bersihkan alat-alat yang akan digunakan,selanjutnya bersihkan ujung jari praktikan atau lokasi pengambilan darah ternak dengan alkohol 70%.Teteskan 1-2 tetes larutan fisiologis (NaCl 0,9%) pada objek glass.Tusuk ujung jari praktikan atau pembuluh darah ternak dengan jarum penusuk,ambil darah kemudian teteskan pada objek glass yang sudah diberi larutan fisiologis,campur dengan hati-hati dan tutup dengan cover glass,lalu amati menggunakan mikroskop dengan perbesaran 10x dan 40x,dan lakukan hal yang sama pada darah ayam dan darah sapi.
      Metode pada praktikum waktu beku darah antara lain adalah bersihkan ujung jari praktikan dengan alkohol 70% kemudian bersihkan dengan kapas bersih,tusuk jari dengan lanset steril hingga mengeluarkan darah dan catat waktu saat darah mulai keluar sampai pendarahan berhenti  dan usaplah darah tersebut dengan kapas.Biarkan darah keluar lagi  dan lakukan kegiatan tersebut setiap 30 detik sampai darah terhenti dan catat waktu pendarahan.
      Metode pada praktikum waktu beku darah antara lain bersihkan ujung jari dengan alkohol,tusuk dengan lanset steril pada ujung jari,lalu teteskan pada glass arloji berlapis parafin,dengan menggunakan jarum pentul tusuklah kedalam darah dan angkat dan lakukan setiap 0,5 menit sampai terlihat benang putih dan catat waktunya.
      Metode pada praktikum Laju endap darah antara lain sampel darah di hisap dengan tabung wastergreen sampai angka 0 kemudian tegakkan pada rak.Tiap 30 menit catat penurunan dari sel-sel darahnya,dan buatlah grafik LED dari 0-90 menit.
      Metode pada praktikum hemolisis antara lain siapkan 10 buah tabung reaksi dan beri kode pada setiap tabung,dan isi masing-masing tabung 5ml larutan NaCl,dan tambahkan 3 tetes darah pada setiap tabung dan biarkan 30 menit,periksa dan amti warna dan kekeruhan larutan didalam tabung.Warna merah cerah menunjukkan adanya hemolisis namun warna keruh belum tentu tidak terjadi hemolisis atau perubahan lainnya.Selanjutnya lakukan pemeriksaan secara mikroskopis yaitu pada objek glass sebelak kiri teteskan 1  tetes larutan dari tabung pertama yang berisi larutan NaCl 0,9% sebagai kontrol,bagian kanan teteskan 1 tetes larutan tabung kedua dan tutup dengan cover glass.lalu periksa dengan menggunakan mikroskop dengan pembesaran 10x dan 40x,dan lakukan hal yang sama pada tabung lainnya dengan menggunakan larutan dari tabung pertama sebagai kontrol,dan catat hasil pengamatan tersebut.
      Metode untuk praktikum ketahanan osmotik eritrosit antara lain beri kode pada 20 tabung reaksi,selanjutnya pipet NaCl 1% dengan volume sebagai berikut:pada tabung pertama 0.9%,tabung kedua 0.8%,tabung ketiga 0.6% seperti itu seterusnya.Selanjutnya ambil darah 1 tetes dan masukkan kedalam setiap tabung dan biarkan 2 jam pada suhu kamar,dan periksa larutan secara mikroskopik seperti pada percobaan hemolisis dan tentukan resistensi minimum dan resistensi maksimumnya.Gunakan darah dalam larutan NaCl 0.9% sebagai kontrol.
      Metode untuk praktikum hematokrit ada dua yaitu untuk metode makro hematokrit dan metode mikri hematokrit.Metode untuk makro hematokrit antra lain tabung hematokrit wintrobe diisi darah yang telah diberi antikoagulan sampai garis tanda 100.Kemudian sentrifuse dengan kecepatan 3000rpm selama 30 menit,setelah di sentrifuse nilai hematokrit bisa dibaca.Metode mikro hematokrit dengan cara hisap darah dengan pipa kapiler sampai jarak 1cm dari ujung bagian atas dan pipa kapiler sudah dilapisis heparin,selanjutnya sumbat ujung pipa kapiler dengan menggunakan chrysta seal,lilin atau sabun.Tempatkan pipa kapiler dalam sentrifuse mikro hematokrit dengan ujung pipa kaoiler yang terbuka menghadap ke tengah dan sentrifuse selama 5 menit dengan kecepatan 2500rpm,dan keluarkan pipa kapiler dari sentrifuse dan baca nilai hematokritnya dengan menggunakan reader hematokrit.
      Metode untuk praktikum hemoglobin antara laian isikan HCl 0.1N (±5 tetes) kedalam tabung sahli sampai angka 10 (garis paling bawah),lalu hisap darah dengan pipet sahli sampai angka 20µl dan bersihkan darah yang menempel pada ujung luar pipet sahli dengan kertas saring/tissue,kemudian masukkanlah darah tersebut kedalam tabung sahli yang sudah berisi HCl 0.1N dan hati-hati jangan sampai terbentuk gelembung udara dan biarkan beberapa saat sampai warna coklat terbentuk.Selanjutnya tambahkan setetes demi setetes aquades sambil di aduk sampai warna sesuia dengan batang standar.Persamaan dengan batang standar harus dicapai dalam waktu 3-5 menit setelah darah dan HCl dicamour,selanjutnya bacalah tinggi permukaan cairan tabung sahli dan angka yang terbaca menunjukkan kadar Hb dari sampel darah tersebut.
      Metode untuk praktikum menghitung sel darah ada 2 yaitu untuk sel darah merah dan sel darah putih.Metode untuk menghitung sel darah merah antara lain hisaplah darah dengan menggunakan pipet untuk eritrosit sampai angka 0.5 dan bersihkan ujungnya dengan kertaas saring/tissue.Segera hisap larutan hayem sampai angka 101,dengan demikian darah di eencerkan 200 kali.Peganglah ujung-ujung pipet dengan ibu jari dan jari telunjuk atau jari tengah kemudian kocok dengan memutar-mutar pergelangan tangan membentuk angka 8,supaya yang tercampur hanya cairan yang terdapat di dalam pipet yang menggelembung.Selanjutnya buanglah cairan yang tidak mengandung sel darah merah 2-3 tetes.Isikan pada kamar hitung yang sudah ada kaca penutupnya dengan menempelkan ujung pipet pada batas kamar hitung dengan penutup.Hitung sel darah merah pada kamar hitung (5 bujur sangkar kecil) dengan menggunakan mikroskop dengan perbesaran 10x atau 40x.Perhitungan utnuk menghitung sel darah merah antara lain:pengenceran didalam pipet adalah 200 kali,kedalaman kamar hitung pada 5 bujur sangkar yang masing-masing berukuran 1/25mm2,jadi untuk menghitung jumlah sel darah dalam 1 mm2 maka harus dikalikan 5 serta faktor pengalinya adalah 200x10x5=10.000 dan apabila jumalah sel darah  yang terhitung E maka total sel darah merah per mm3=Ex10.000.
      Untuk menghitung sel darah putih metodenya antara lain hisaplah darah dengan pipet pengencer untuk leukosit sampai skala 0.5 dan segera hisap larutan turk untuk darah mamalia dan larutan BCB untuk unggas sampai skala 11,dengan demikkian pengenceran sebesar 20 kali,peganglah ujung-ujung pipet dengan ibu jari dan jari telunjuk serta jari tengah kemudian kocoklah dengan memutar-mutar pergelangan tangan membentuk angka 8 supaya yang tercampur hanya cairan yang terdapat dalam tabung yang menggelembung dan buanglah cairan yang tidak mengandung sel darah putih 2-3 tetes selanjutnya isikan pada kamar hitung yang sudah ada kaca penutpnya dengan menempelkan ujung pipet pada batas kamar hitung dengan penutup.Hitung sel darah pada 4 sudut bujur dengan menggunakan mikroskop perbesaran 10x dan 40x.Perhitungan untuk menghitung jumlah sel darah putih antara lain pengenceran didalam pipet leukosit adalah 20,kedalaman kamar hitung 1/10mm.Sel darah putih di hitung dalam 1 mm3maka faktor pengalinya adalah 20x10x1/4=50 dan apabila jumlah sel darah yang dihitung pada 4 bujur sangkar adalah L maka total sel darah putih per mm3 darah  adalah L=50.
      Metode untuk praktikum differensial leukosit (leukogram) ada 2 langkah yaitu pertama teknik membuat preparat ulas darah dan teknik mewarnai preparat dengan zat warna giemsa.Teknik membuat preparat ulas darah adalah dengan cara menyiapkan dua buah gelas objek dalam keadaan bersih,lalu pegang ujung-ujung objek glass dengan ibu jari dan telinjuk tangan kiri,atau letakkan diatas menja datar dan letakkan 1 tetes darah pada ujung objek glass(sebelah kanan) tersebut.Selanjutnya dengan tangan kanan,pegang objek glass lainnya.Kemudian letakkan ujung objek glass tersebut pada ujung objek glass yang sudah di tetesi darah membentuk sudut 300.Gerakkan objek glass yang ditangan kanan ke belakang sampai menyinggung tetesan darah tersebut sehingga darah menyebar sepanjang sudut antara kedua objek glass dan segera setelah drah menyebar dengan hati-hati dorong ke depan objek glass ditangan kanan maka terbentuk preparat ulas yang tipis lalu preparat di keringkan dan lakukan pewarnaan.
      Teknik mewarnai preparat dengan zat warna giemsa dilakukan dengan memasukkan preparat ke dalam methanol selama 5-10 menit,angkat dan biarkan kering diudara kemudian masukkan ke dalam larutan zat warna giemsa dan biarkan 30 menit selanjutnya angkat preparat dan bilas kelebihan zat warna dengan menggunakan air kran yang mengalir.Selanjutnya keringkan di udara  atau menggunakan kertas isap dan perlahan-lahan di tekan dan periksa preparat yang sudah diwarnai dengan mikroskop dengan perbesran 100x,sebelumnya preparat ulas ditetesi minyak emersi.Perhitungan sel leukosit sampaisel dengan menggunakan differensial counter.Periksa sel leukosit dengan dengan alur leukogram dan untuk preparat yang baik akan menunjukkan kontras merah,biru,keunguan,biru tua misalnya eritrosit berwarna merah,inti leukosit berwarna ungu,granula didalam sitoplasma granulosit berwarna merah,biru atau netral(antara merah dan biru) dan trombosit berwarna kebiru-biruan.




  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS